Nona Mia

Nona Mia
AMNESIA


__ADS_3

Bian akhirnya membawa Mia pulang ke rumah mendiang neneknya.


Bian masih bingung mau memanggil nona kaya ini siapa. Bian juga tidak tahu siapa nama dari nona kaya yang galak ini.


"Mas, nama aku siapa sih?" Tanya Mia sesaat setelah mereka berdua tiba di rumah nenek Bian.


Rumah sederhana itu masih berada di area perkampungan. Jadi memang jarak antara rumah satu dengan yang lainnya cukup jauh.


Bian berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Mia.


Dan tunggu, apa wanita galak ini baru saja memanggil Bian dengan sebutan mas?


Hahaha mas Bian.


"May. Iya nama kamu Maymunah. Tapi kamu maunya dipanggil May aja" jawab Bian mengarang indah.


Mia tampak manggut-manggut.


"Kalo mas, namanya siapa? Aku bener-bener gak ingat" tanya Mia sambil kembali bergelayut di lengan Bian, membuat pria itu sedikit merasa geli.


"Bian. Kamu panggil saja Bian. Oke! Gak usah pake mas" jawab Bian sambil berusaha melepaskan lengannya dari Mia.


"Tapi itu kan panggilan sayang" tukas Mia dengan nada manja.


'Astaga! Ada apa dengan wanita ini?' Bian bergumam dalam hati.


Bian dan Mia masuk ke dalam rumah sederhana tersebut.


Bian membuka kamar depan yang biasanya ditempati oleh Eve, jika gadis itu ikut berkunjung ke sini.


Namun karena kali ini Eve tidak bisa mengajukan cuti, jadilah Bian ke sini sendiri tanpa adiknya tersebut.


"Ini kamar kita, mas?" Tanya Mia sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar tersebut.


Aneh.


Mia merasa asing dengan kamar ini. Dan seingat Mia, kamarnya dulu tidak sesederhana ini.


Dan kasur itu, kenapa terlihat keras?


Bahkan kasur di puskesmas tadi sepertinya lebih empuk ketimbang kasur tua itu.


"Ini kamar kamu, May" jawab Bian sambil tersenyum lebar.


Bian memeriksa lemari yang ada di kamar tersebut, beruntung masih ada beberapa baju Eve yang tertinggal di lemari tersebut.


Dan untunglah, Mia dan Eve punya badan yang nyaris sama ukurannya.


Jadi mungkin Bian bisa berbohong pada Mia dan mengatakan kalau itu adalah baju-baju Mia.

__ADS_1


"Mas, apa kita memang semiskin ini?" Tanya Mia tiba-tiba yang sontak langsung membuat Bian mengernyitkan kedua alisnya.


"Ya, kita memang miskin, May. Aku harap kamu bisa menerima semua ini dengan lapang dada" Bian merangkul pundak Mia dan berkata dengan nada sok melas.


"Apa mas juga bekerja sebagai petani?" Tanya Mia lagi.


Dan untuk pertanyaan Mia yang satu ini, Bian benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak sekarang.


"Aku bekerja di kota, May. Sebagai kurir makanan. Mungkin beberapa hari lagi kita akan pulang ke kota. Tapi untuk beberapa hari ini kita akan tinggal di rumah tua ini dulu" jelas Bian panjang lebar.


Mia mengangguk paham.


"Kau bisa tidur sekarang, jika kau lelah," ucap Bian memecah keheningan diantara mereka berdua.


Meskipun sedikit ragu dan merasa aneh, Mia akhirnya merebahkan dirinya di atas kasur tua tersebut.


Badannya sungguh terasa lelah hari ini.


"Selamat malam, May!" Bian sudah akan keluar dari kamar tersebut.


"Mas Bian tidak tidur di sini? Bukankah kita suami istri yang harusnya tidur di kamar yang sama?" Tanya Mia polos yang sontak membuat Bian menghentikan langkahnya.


Bian berbalik dan masuk lagi ke kamar Mia.


"Dengar ya, May sayang. Kita tidak tidur satu kamar. Itu adalah permintaanmu sekaligus hukuman untukku karena sudah membuatmu marah seminggu yang lalu" Bian kembali mengarang indah demi memberi alasan pada Mia.


Ya, meskipun Bian akui kalau gadis di hadapannya ini punya tubuh molek yang menggiurkan untuk dipeluk, namun otak Bian masih waras.


Bian juga tidak berminat meniduri gadis macan seperti nona kaya ini. Bisa saja kan, ingatan nona sombong ini mendadak kembali saat Bian sedang bercinta dengannya.


Ah, sudahlah!


Bian sungguh tidak ingin memikirkan hal mesum itu saat ini.


"Aku marah kepadamu?" Tanya Mia bingung. Wanita itu sudah bangun dan duduk di tepi ranjang.


Bian mengangguk dengan cepat.


"Ya, kau bahkan menulis perjanjian yang melarangku tidur satu ranjang denganmu. Dan jika aku melanggarnya katamu aku harus keliling kampung hanya memakai celana dalam. Aku kan malu, May!" tukas Bian panjang lebar entah mendapat ilham dari mana.


Mia tergelak mendengar penjelasan dari Bian barusan,


"Apa aku sungguh membuat perjanjian sekonyol itu? Pada suamiku sendiri?" Tanya Mia masih tidak percaya.


Namun Bian segera mengangguk dengan mantap demi meyakinkan wanita di depannya ini kalau apa yang Bian katakan memanglah sebuah fakta dan bukan hanya bualan semata.


"Jadi tolong mengertilah posisiku saat ini, May! Aku juga sebenarnya ingin tidur bersamamu, tapi aku sudah terlanjur menandatangani perjanjian itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa sekarang," ucap Bian dengan nada memelas.


"Tapi sampai kapan kita tidur sendiri-sendiri seperti ini, Mas?" tanya Mia dengan raut wajah sedih.

__ADS_1


"Sampai bulan depan. Sesuai perjanjian yang kamu tulis" jawab Bian cepat.


"Mana surat perjanjiannya? Aku mau lihat." Mia menengadahkan tangannya meminta surat perjanjian yang dibicarakan oleh Bian barusan.


Skakmat!


Bian bahkan tak berpikir sejauh itu.


Hahaha surat perjanjian konyol itu tentu saja hanya ada di kepala Bian dan belum sempat Bian buat dalam bentuk tulisan.


"Suratnya kamu bawa kemarin. Saat kamu mengalami kecelakaan." Akhirnya Bian mendapatkan ide untuk berbohong.


Mia mengernyit.


"Oh, ya?" Wanita itu meraba-raba saku yang ada di baju dan celananya mencari surat perjanjian konyol tersebut.


Dan Bian hanya menggaruk tengkuknya, sambil sedikit tersenyum licik.


"Gak ada, Mas. Jangan-jangan jatuh." Mia menerka-nerka. Bian hanya mengendikkan bahunya.


"Kita bisa mencarinya besok, May. Sekarang sebaiknya kamu istirahat!" Bian menepuk lembut punggung Mia sebelum akhirnya keluar dari kamar tersebut.


Mia tidak membantah lagi kali ini. Badannya benar-benar lelah.


Benar kata Bian, sebaiknya Mia beristirahat.


*****


Papa Andri baru saja tiba di kantornya pagi itu, saat mendadak ia menerima kabar tentang kecelakaan yang menimpa Mia.


Raut kekhawatiran tampak jelas di wajah pria paruh baya tersebut.


Dan tanpa membuang waktu, papa Andri segera menuju ke lokasi kejadian untuk memastikan kondisi Mia.


Namun saat tiba di lokasi, papa Andri harus menelan kekecewaan.


Tidak ada tanda-tanda keberadaan Mia. Hanya di temukan satu jasad di lokasi kejadian, yang papa Andri yakini kalau itu adalah jasad dari supirnya yang kemarin mengantar Mia.


Lalu kemana Mia?


Papa Andri berulang kali mengusap wajahnya. Tentu saja pria itu khawatir dengan kondisi sang putri.


Tapi papa Andri masih berharap kalau putrinya itu selamat dan mungkin sedang ada di suatu tempat.


Ya, papa Andri harus terus berpikir positif.


Mia pasti selamat dan papa Andri pasti akan secepatnya menemukan Mia.


Tapi bagaimana ia akan menyampaikan berita ini pada mama Alina?

__ADS_1


Istrinya itu pasti akan sangat shock mendengar berita ini, mengingat Alina yang sangat menyayangi Mia dan selalu khawatir dengan Alina jika gadis itu bepergian jauh.


Tapi papa Andri tetap harus memberitahu mama Alin.


__ADS_2