
Mia masuk ke kafe milik Bian, meskipun hanging door yang ada di pintu menunjukkan tanda tutup.
Mia tak peduli.
Bukankah ini juga adalah kafe milik Mia?
Mia yang membantu Bian mengentaskan kafe ini dari kebangkrutan.
Jadi kafe ini juga adalah milik Mia.
Dan tentu saja Mia bebas datang ke kafe kecil ini kapanpun Mia mau.
Di dalam kafe mungil tersebut, ada beberapa orang yang duduk seraya mengobrol ringan.
Sepertinya mereka sedang menunggu untuk diwawancarai oleh Bian.
Bian sendiri sedang berbicara dengan seorang gadis di sudut kafe. Sepertinya mereka sedang melakukan tes wawancara.
Entahlah, Mia tak terlalu peduli.
Gadis itu duduk begitu saja di salah satu kursi, dan segera mengeluarkan tablet dari dalam tasnya.
Tak butuh waktu lama, Mia sudah larut bersama setumpuk email yang ada di tabletnya.
Sesekali nona direktur itu juga berbicara di telepon entah dengan siapa.
*****
Hari ini Bian sedang mewawancarai beberapa orang yang melamar pekerjaan ke kafe miliknya. Bian tidak mau tertipu dan kecolongan lagi, jadilah pria itu akan lebih selektif memilih karyawan yang akan bekerja untuk kafenya.
Sejujurnya Bian hanya membutuhkan empat orang untuk bekerja di kafenya, namu yang datang melamar ternayat lumayan banyak. Jadilah Bian memutuskan untuk mewawancarai semuanya dan memilih siapa yang benar-benar pantas bekerja di kafenya.
Seorang gadis berperawakan kurus, berambut lurus sebahu masuk ke kafe dengan ragu-ragu. Gadis itu membawa amplop coklat berisi data diri dan berkas yang akan ia gunakan untuk melamar pekerjaan. Wajah gadis itu juga sedikit pucat.
"Hai, Nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bian seramah mungkin pada gadis tersebut.
Bian sedikit mengernyit saat melihat wajah pucat gadis itu.
Apa gadis ini sedang sakit?
"Saya... saya mau melamar pekerjaan di kafe ini. Apa masih ada lowongan?" Tanya gadis itu sedikit ragu.
Bian tersenyum ,
"Tentu saja, Nona. Kamu bisa ikut tes wawancara dulu. Ayo masuk!" Bian mempersipahkan gadis lugu itu untuk masuk ke kafenya dan bergabung bersama pelamar yang lain.
Bian memanggil satu per satu calon karyawan untuk kafenya tersebut, dan mewawancarainya.
Hingga akhirnya tiba giliran si gadis lugu tadi yang kini akan Bian wawancara.
Bian membaca sekilas profil gadis bernama Dea tersebut. Ada pengalaman sebagai kasir di beberapa minimarket.
Mendadak Bian tertarik untuk menjadikan gadis ini sebagaii kasir di kafenya.
Penampilan gadis ini yang lugu dan polos mengingatkan Bian pada adiknya, Eve.
Wajah gadis ini juga cantik dan senyumannya manis.
Entah kenapa Bian begitu tertarik dengan gadis yang wajahnya sedikit pucat ini. Bian suka memandang wajah polosnya.
Mungkinkah Bian jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis lugu ini?
"Jadi nama kamu Dea?" Tanya Bian seraya menatap lekat ke wajah Dea yang kini tertunduk.
"Iya, Pak. Saya pernah beberapa kali menjadi kasir. Jadi mungkin saya juga bisa menjadi kasir di kafe bapak. Tapi kalau bapak minta saya jadi pelayan saya juga bisa," jawab Dea sambil mengangkat kepalanya dan menatap sejenak ke arah Bian.
Hanya sejenak gadis itu menatap Bian sebelum kembali menunduk.
Entah mengapa jantung Dea berdetak tak karuan saat melihat wajah Bian yang menurutnya sungguh tampan tersebut.
"Wajahmu pucat. Apa kamu sedang sakit?" Tanya Bian khawatir.
"Eh, tidak Pak. Saya hanya sedikit kurang tidur tadi malam," jawab Dea cepat. Gadis itu masih menunduk.
Bian jadi semakin penasaran.
Apa gadis ini memang pemalu?
Ting,
Suara lonceng yang ada di pintu masuk kafe berbunyi, menandakan ada orang yang masuk ke dalam kafe.
__ADS_1
Bian menoleh sejenak ke arah pintu dan melihat nona Mia yang terhormat masuk ke kafenya dengan wajah mengesalkan.
Bian melirik arloji di tangannya.
Jam makan siang masih dua jam lagi. Apa yang dilakukan nona sombong itu di sini?
Baiklah, Bian akan mengabaikannya saja. Mungkin nona direktur itu kehilangan kacamatanya dan tak bisa membaca tulisan tutup yang ada di pintu masuk kafe.
Bian lanjut menatap ke arah Dea yang masih menundukkan wajahnya.
"Dea, bisakah kau angkat wajahmu itu agar aku bisa melihatnya," ujar Bian sedikit gemas.
Kenapa gadis mungil ini begitu menggemaskan?
Dan jantung Bian langsung berdebar tak karuan saat Dea mengangkat wajahnya dan kembali memperlihatkan paras cantiknya pada Bian.
Oh, astaga!
Mungkinkah Bian jatuh cinta pada gadis ini?
"Berapa usiamu, Dea?" Tanya Bian berbasa-basi. Bian masih menatap lekat wajah itu.
Entahlah, mendadak Bian suka memandang wajah cantik ini.
"Dua puluh empat tahun, Pak," jawab Dea memaksa tersenyum. Gadis itu tak lagi menundukkan wajahnya dan mencoba menatap pada Bian.
Dan gadis itu sedikit terpana melihat wajah Bian yang tampan.
Bian tertawa renyah,
"Baiklah Dea, aku rasa kamu cocok jadi kasir di kafe ini. Apa ada nomor yang bisa aku hubungi untuk memberitahu kapan kamu akan mulai bekerja?" Bian kembali berbasa-basi.
Dea buru-buru mencari pena di tas kecil yang ia bawa untuk menuliskan nomer teleponnya. Namun Bian malah menyodorkan ponselnya pada Dea,
"Tulis saja di sini, Dea," ujar Bian seraya menyodorkan ponselnya pada Dea.
Gadis itu terlihat ragu dan tidak langsung menerima ponsel Bian.
"Ta... tapi Pak," Dea bingung harus menolak atau menyanggupi.
Bian terkekeh,
"Jika kamu menulisnya di kertas, aku takut kertasnya akan hilang dan aku tidak bisa menghubungimu. Jadi tulis saja di sini!" Ujar Bian menjelaskan.
"Sudah, Pak," jawab Dea seraya tersenyum.
Senyum paling manis yang pernah Bian temui.
Kenapa gadis ini sangat mempesona?
"Baiklah aku akan menghubungimu nanti kalau kafe ini sudah siap buka kembali. Apa rumahmu jauh dari sini?" Tanya Bian dengan nada khawatir.
Mendadak Bian takut hal buruk terjadi pada gadis polos ini. Mungkin Bian akan mengantarnya pulang jika rumah gadis ini jauh.
Dea menggeleng samar,
"Saya tinggal di panti asuhan Bunda tak jauh dari sini, Pak," jawab Dea masih tersenyum.
"Panti asuhan?" Bian mengernyit bingung.
Apa gadis ini seorang anak yatim piatu juga seperti Bian?
"Saya tinggal dan dibesarkan di panti asuhan, Pak. Karena itu saya ingin bekerja keras agar tidak terus-terusan merepotkan ibu panti," jelas Dea dengan nada sendu.
Bian tersenyum dan menatap lekat wajah gadis di hadapannya tersebut.
Bian seakan menemukan calon pendamping hidup yang sempurna.
Gadis cantik, lugu, lembut, baik hati dan juga pekerja keras.
Saatnya berhenti menjadi pria brengsek, Bian!
Ada gadis sempurna yang harus mulai kamu perjuangkan.
*****
Bian sudah selesai melakukan tes wawancara pada calon karyawannya.
Orang-orang yang tadi ada di dalam kafe Bian, satu per satu mulai meninggalkan tempat tersebut. Termasuk juga Dea, gadis yang benar-benar menarik perhatian seorang Bian hari ini.
Sekarang hanya ada nona Mia yang masih duduk di tempatnya semula.
__ADS_1
Nona direktur itu masih saja fokus ke tablet di tangannya. Mungkin memang benda itu adalah soulmate dari nona direktur nan sombong tersebut.
Kenapa nona direktur itu tidak menikah saja dengan benda kotak tipis lebar tersebut?
"Kafe masih tutup. Apa yang kamu lakukan di sini?" Bian sudah duduk di hadapan Mia.
Pria itu sedikit berbasa-basi pada Mia.
Mia meletakkan tabletnya di atas meja dan menatap ke arah Bian,
"Sudah selesai menjadi seorang bos?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Bian, Mia malah balik bertanya pada pria itu dengan nada mengejek.
Bian berdecak,
"Aku memang bos, nona Mia. Bos di kafe kecilku ini," sahut Bian dengan nada pongah.
Mia tersenyum simpul.
"Baiklah terserah saja." Jawab Mia dengan nada malas.
"Jadi? Kau kesini hanya untuk mengejek dan menghinaku?" Tanya Bian seolah tak percaya.
Apa nona kaya ini memang kurang kerjaan?
"Tentu saja tidak. Aku tidak akan membuang waktuku hanya untuk hal-hal tidak bermanfaat sejenis itu. Aku ke sini karena ingin mengajakmu ke butik," jawab Mia cepat.
Bian terlonjak kaget.
"Apa? Apa kau juga ingin menyuruhku menjadi suamimu setelah ini?" Cecar Bian sedikit emosi.
Mia terkekeh,
"Jangan terlalu percaya diri, Bian. Aku hanya ingin sedikit memperbaiki penampilanmu yang berantakan itu," Mia menjeda kalimatnya. Gadis itu mengubah posisi tangannya menjadi bersedekap.
"Besok malam kau harus menemaniku ke pesta perusahaan Alexander. Kau tidak lupa, kan?" Mia menatap tajam pada Bian.
"Tentu saja aku ingat, nona Mia. Aku belum pikun!" Sahut Bian kembali emosi.
"Bagus kalau begitu. Kita bisa pergi sekarang." Mia sudah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.
Meskipun kesal, Bian tetap mengikuti nona direktur tersebut dan keluar dari kafenya.
"Di mana mobilmu, nona kaya?" Tanya Bian celingukan.
Bukankah biasanya nona Mia selalu membawa mobil mewahnya setiap datang ke kafe Bian?
"Aku menyuruh supirku membawanya pulang. Bukankah ada motor milikmu?" Mia menunjuk ke arah motor Bian yang terparkir di depan kafe.
Bian menggaruk kepalanya yang tak gatal,
"Kau yakin, mau naik motor ini bersamaku? Bagaimana kalau kau nanti masuk angin?" Sahut Bian seraya terkekeh.
Mia mendengus,
"Aku bahkan pernah membonceng motor yang lebih jelek dari ini, dan kau lihat aku masih hidup sampai sekarang meskipun tanganku harus berubah menjadi biru semua karena mendapat cubitan dari seorang pria brengsek," timpal Mia seraya bersedekap.
Bian menahan tawanya,
"Jika aku tidak mencubitmu saat itu, mungkin kau sudah jatuh dari motorku dan wajah mulusmu itu juga pasti sudah lecet di sana sini," ujar Bian tak mau kalah.
"Baiklah sudah cukup! Kita pergi dengan motormu!" Tegas Mia dengan suara yang meninggi.
Bian hanya mencibir dan segera mengambil motornya.
"Pakai ini! Tapi sebaiknya rambut indahmu itu kamu ikat terlebih dahulu kalau kamu tidak mau merubahnya menjadi sapu ijuk," saran Bian seraya menyodorkan helm pada Mia.
Mia tak menjawab dan dengan cepat mengikat rambut panjangnya yang bergelombang, lalu menerima helm yang disodorkan oleh Bian.
Setelah memastikan Mia sudah naik ke atas motornya, Bian segera memacu motornya meninggalkan kafe.
.
.
.
Bian jatuh cintanya pada gadis lain ternyata.
Ada yang kecewa?
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕