Nona Mia

Nona Mia
ANEH


__ADS_3

Mia membuka pintu depan setelah mendengar bel berbunyi,


"Hai Mike!" Sapa Mia pada asistennya tersebut.


Rupanya Mike yang memencet bel dan datang bertamu.


"Aku mengantar berkasmu yang tertinggal," Mike menunjukkan sebuah map yang ada di tangannya.


Mia tersenyum dan segera mempersilahkan Mike masuk ke dalam apartemennya.


Bos dan asisten itu duduk berdua di sofa ruang tamu.


"Apa aku mengganggu? Apa ada tamu?" Tanya Mike celingukan.


"Hanya ada Bian. Dia sedang membacakan dongeng untuk Galen," jawab Mia cepat.


Mike hanya ber oh ria.


"Kau ke sini hanya ingin mengantar berkas?" Tanya Mia heran.


Mike menggaruk kepalanya yang tak gatal,


"Sebenarnya aku ingin minta sedikit pendapatmu," ujar Mike akhirnya. Pria itu sedikit salah tingkah.


"Soal?" Mia mengernyit bingung.


"Cincin untuk Kyara," jawab Mike malu-malu.


Mia langsung tergelak,


"Astaga! Apa kau ingin melamar gadis lebay itu?" Tanya Mia masih tergelak.


Mike mengendikkan bahu dan kembali menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Aku mendekatimu beberapa tahun yang lalu, tapi katamu kau tidak bisa move on dari Bian. Jadi jangan salahkan aku kalau aku ganti mendekati Kyara," Mike memberi alasan.


Mia terkekeh,


"Kalian sudah lama berhubungan?" Tanya Mia penasaran.


"Baru satu tahun belakangan. Tapi aku benar-benar ingin serius pada adik kesayanganmu itu," ujar Mike menjelaskan.


Mia mengangguk.


"Boleh kulihat cincinnya?" Mia sudah mendekat ke arah Mike.


Pria itu segera mengeluarkan kotak cincin berwarna biru dari sakunya, lalu membukanya dan memberikannya pada Mia.


Mia tersenyum saat melihat cincin indah itu,


"Ini bagus, Mike," pendapat Mia cepat.


"Apa Kyara akan menyukainya. Aku masih bisa menukarnya malam ini jika menurutmu ini terlalu norak untuk Kyara," Mike masih khawatir.


"Kyara pasti menyukainya." Mia menutup kembali kotak cincin tadi dan mengembalikannya pada Mike.


"Kau sendiri bagaimana? Apa sudah ada kabar baik?" Tanya Mike dengan nada menggoda.


Mia mengendikkan bahu,


"Aku rasa pria itu tidak peka. Padahal aku sudah memberinya banyak kode," sahut Mia frustasi.

__ADS_1


Mike tergelak,


"Seharusnya jangan hanya memberinya kode. Langsung saja minta cincin kepadanya," saran Mike yang masih tergelak.


"Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu. Aku akan tetap menunggunya saja," putus Mia seraya bersedekap.


"Dasar keras kepala!" Mike menoyor kepala Mia.


"Hei! Jaga sopan santunmu itu! Aku calon kakak iparmu, jadi bersikaplah sopan!" Tegur Mia yang pura-pura mendelik ke arah Mike.


Pria itu malah tertawa.


"Siap calon kakak ipar, tolong jangan pecat aku sebagai calon adik iparmu," timpal Mike dengan mimik memohon.


Terang saja, Mia yang tadinya mendelik langsung tertawa melihat mimik lucu di wajah Mike.


"Aku masih tidak percaya. Mike sahabat masa kecilku, yang sekarang menjadi asistenku, sebentar lagi akan menjadi adik iparku," Mia terkekeh.


"Apa aku bisa minta kenaikan gaji setelah resmi menjadi adik iparmu?" Timpal Mike ikut terkekeh.


Mia berpikir sejenak,


"Bagaimana kalau aku berikan saja perusahaan itu kepadamu. Aku sudah jenuh menjadi nona direktur," usul Mia tiba-tiba.


"Oh, itu sungguh berlebihan kakak ipar, aku tidak bisa menerimanya. Tapi jika kau memaksa aku sungguh tidak keberatan menggantikanmu sebagai tuan direktur," timpal Mike seraya menepuk dadanya sendiri.


"Dasar matre! Ternyata kau juga sebelas dua belas dengan Kyara yang mata duitan itu," Mia menoyor kepala Mike.


Dan Mike hanya terkekeh.


"Calon suamimu kemana? Menidurkan anak lama sekali," Mike ganti bertanya pada Mia.


Mia mengendikkan bahu,


Mike tergelak,


"Sama seperti dirimu," ejek Mike masih tergelak.


Mia hanya manyun dan malas menanggapi.


****


Sementara itu suasana malam yang hening, membuat Bian yang masih berada di kamar Galen bisa mendengar dengan jelas suara tawa Mia dan Mike dari ruang depan.


Hati Bian rasanya semakin tak karuan saja.


Mia sudah bahagia bersama Mike.


Mike juga adalah sosok ayah yang ideal untuk Galen, jadi Bian bisa apa sekarang selain pergi jauh dari kehidupan Mia dan Galen yang sudah sempurna?


Bian menarik nafas panjang dan mencuci wajahnya sebentar.


Bian mengeluarkan kotak cincin yang seharusnya ia berikan pada Mia malam ini.


Bian memasukkan kotak cincin itu ke laci nakas yang ada di samping tempat tidur Galen.


Bian mencium kening Galen dan memeluk putranya itu sekali lagi,


"Maafkan papa, Sayang" bisik Bian pada Galen.


Bian menguatkan hatinya sebelum keluar dari kamar Galen. Bian harus secepatnya pergi dari apartemen ini, membawa semua luka dan penyesalan dalam dirinya.

__ADS_1


Andai Bian lebih cepat melamar Mia...


"Galen sudah tidur, aku akan pulang sekarang," ucap Bian yang kini sudah berada di ruang tamu.


Mia dan Mike masih duduk bersebelahan. Raut wajah keduanya terlihat ceria dan bahagia.


"Kebetulan aku juga akan pulang sekarang. Aku bisa mengantarmu sekalian, Bian," Mike memberi tawaran.


"Tidak usah, Mike! Aku bisa pulang sendiri," tolak Bian cepat.


"Sudahlah jangan sungkan begitu!" Mike menepuk punggung Bian.


"Aku pulang dulu, boss! Jangan lupa naikkan gajiku bulan depan!" Pamit Mike pada Mia seraya terkekeh.


"Dasar asisten mata duitan!" Sahut Mia ikut terkekeh.


"Aku pulang dulu, Mia," pamit Bian seraya menatap dalam pada wajah ayu itu.


Bian hanya ingin menatapnya sedikit lebih lama, agar Bian bisa mematrinya di lubuk hati yang terdalam.


Mianya yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.


"Selamat malam, Bian," suara lembut Mia terdengar begitu menyejukkan sekaligus menyakitkan untuk Bian.


Bian melangkah gontai mengikuti Mike yang sudah terlebih dulu sampai di dalam lift.


****


Perjalanan pulang yang hening. Hanya ada suara celotehan dari penyiar radio yang sengaja dinyalakan di dalam mobil Mike.


Bian tak mengalihkan pandangannya dari gedung-gedung tinggi yang berbaris rapi di sepanjang jalan. Tapi pria itu juga enggan buka suara untuk memulai sebuah obrolan.


Mike sendiri memilih fokus pada jalanan di depannya yang sudah cukup lengang.


Tak terasa, mobil Mike sudah sampai di depan rumah Bian yang mungil.


"Mike, apa boleh aku minta satu hal kepadamu?" Suara Bian memecah keheningan.


"Apa itu?" Tanya Mike cepat.


"Tolong kau jaga Mia dan Galen. Aku tahu kau begitu menyayangi mereka. Kau akan menjadi suami yang baik untuk Mia dan ayah yang baik untuk Galen," ujar Bian seraya membuka pintu mobil.


Pria itu sudah turun dengan cepat sebelum Mike sempat buka suara.


Mike hanya menatap bingung pada Bian yang kini sudah menghilang di balik pintu rumahnya.


"Apa pria itu mabuk? Memangnya siapa yang ingin menikah dengan nona Mia?" Mike bergumam sendiri sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Mike akan menyampaikan kabar aneh ini pada Mia besok.


.


.


.


Bingung aku mau nangis apa ketawa 😂


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕

__ADS_1


__ADS_2