
Mia baru saja selesai meeting bersama klien di sebuah resto yang ada di dalam hotel berbintang. Gadis itu kini ada di lobi hotel dan masih fokus dengan tablet di tangannya. Mia berjalan tanpa memperhatikan langkahnya. Hingga tiba-tiba...
Bruuk!
Mia tak sengaja menabrak seorang pria. Gadis itu nyaris jatuh terjerembab ke lantai, namun dengan sigap pria yang tadi di tabraknya menahan tubuh Mia agar tidak jatuh.
"Maaf nona, apa anda terluka?" Tanya pria itu dengan nada khawatir.
Mia tadinya hendak marah, namun setelah mendengar suara lembut dari pria tersebut kemarahan Mia mendadak hilang menguap.
Mia menatap ke arah pria yang tadi menabraknya.
Tunggu...
Mia merasa tidak asing dengan pria berkacamata itu.
"Steve?" Sapa Mia sedikit ragu.
Pria itu tampak mengernyit dan mengamati wajah Mia sekali lagi,
"Mia?" Pria itu membalas sapaan Mia dan sedikit menebak.
Mia tertawa kecil dan segera menghambur ke pelukan Steve, pacarnya saat duduk di bangku SMA.
"Kamu kembali ke kota ini, dan tidak mengabariku? Jahat sekali," protes Mia sambil mencebik.
Steve tertawa kecil,
"Aku minta maaf, Mia. Aku pikir kamu juga sudah pindah dari kota ini." Steve mencari alasan.
"Jadi, sedang apa kau di hotel ini?" Tanya Mia seraya memperhatikan penampilan Steve sekali lagi. Masih tampan seperti Steve yang dulu, hanya saja pria ini terlihat semakin dewasa.
"Sebenarnya aku sedang menghadiri seminar kedokteran di sini," jawab Steve sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jadi, kau sungguh menjadi dokter sekarang?" Tanya Mia sekali lagi.
Dan Steve hanya mengangguk.
"Kau sendiri?" Steve ganti bertanya pada Mia.
__ADS_1
"Aku baru selesai meeting dengan klien," jawab Mia santai.
"Apa tu artinya kau adalah nona direktur sekarang?" Tebak Steve cepat. Dan Mia langsung tertawa renyah.
"Hanya sebuah perusahaan kecil pemberian kakekku," ujar Mia merendah.
"Aku masih ingin ngobrol banyak denganmu, Mia. Tapi aku sedang buru-buru sekarang..." Steve mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya.
"Mungkin kita bisa mengatur sebuah pertemuan, ini kartu namaku," lanjut Steve lagi sambil menyodorkan sebuah kartu nama pada Mia.
"Ya, tentu. Aku juga harus mengejar penerbangan sekarang untuk meninjau beberapa proyek yang ada di luar kota." Mia menerima kartu nama yang di sodorkan Steve.
"Baiklah kalau begitu, Nona direktur. Silahkan kau saja yang mengatur pertemuan sekaligus reuni kita berdua. Segera hubungi aku jika sudah menemukan waktu yang tepat," Steve memeluk Mia sekali lagi.
"Oke, aku pergi dulu, Bye!" pamit Mia sambil melambaikan tangan pada Steve. Gadis itu berjalan keluar dari pintu utama hotel untuk selanjutnya pergi ke bandara kota,
Steve sendiri segera menuju ke ballroom hotel untuk menghadiri seminar.
****
Flashback 9 tahun yang lalu,
Dua remaja yang masih mengenakan seragam putih abu-abu sedang duduk berdua di taman sekolah. Jam sekolah sydah usai satu jam yang lalu, namun dua remaja tersebut sepertinya masih enggan meninggalkan gedung sekolah dan malah duduk berdua di taman sekolah yang terasa teduh karena ada banyak pepohonan di sana.
Entahlah,
Steve menggenggam erat tangan Mia, gadis yang sudah menjadi kekasih hatinya selama satu tahun terakhir.
Steve dan Mia mulai berpacaran sejak kelas satu SMA, atau tepatnya satu pekan setelah masa orientasi siswa.
Tapi hari ini, mungkin Steve dan Mia tidak akan bisa bersama-sama lagi. Ayah Steve akan di pindah tugaskan ke kota lain yang ada di luar pulau, jadi dengan sangat terpaksa, Steve dan Mia harus berpisah.
"Kita masih bisa saling menelepon dan berkirim surat, Mia. Jangan sedih seperti ini, " bujuk Steve sekali lagi. Mia tak berhenti mencebik sedari tadi.
Ini adalah hari terakhir Steve datang ke sekolah. Besok pagi Steve dan kedua orang tuanya sudah harus pergi meninggalkan kota ini.
"Bagaimana jika aku merindukanmu, Steve?" Tanya Mia dengan nada sendu. Mata gadis enam belas tahun itu sudah berkaca-kaca sekarang. Mungkin airmatanya akan jatuh sebentar lagi.
Steve mengusap lembut kepala Mia dan meraupnya ke dalam pelukan,
__ADS_1
"Aku akan sering-sering menelponmu. Hubungan kita akan baik-baik saja. Dan aku akan datang kembali ke kota ini suatu gari nanti, saat aku sudah jadi seorang dokter dan hidup mandiri," janji Steve pada Mia.
Mia tak menjawab, hanya ada isak tangis dari gadis itu. Mia hanya belum siap untuk berpisah dari Steve dan menjalin hubungan jarak jauh. Tapi Mia juga tak bisa berbuat apa-apa.
Semoga Mia dan Steve tetap berjodoh hingga nanti mereka kembali bertemu. Itulah harapan yang selalu di panjatkan oleh Mia.
"Jaga dirimu baik-baik, Steve. Jangan nakal di sana, dan jangan jadi playboy! Ingat ya, kamu udah punya aku, " pesan Mia sedikit terkekeh di tengah isak tangisnya.
Apa Mia sedang tertawa sambil menangis sekarang?
Steve ikut terkekeh,
"Baik Miaku yang cantik. Aku akan selalu mengingat kamu di dalam hatiku," Steve mengecup kedua tangan Mia.
"Kamu juga jaga diri baik-baik di sini, selalu ingat aku di dalam hatimu," tambah Steve lagi.
Dua remaja itu kembali berpelukan sebelum jarak memisahkan keduanya. Keduanya tetap yakin, bahwa suatu hari nanti mereka akan kembali berjumpa dan mungkin kembali menjalin hubungan yang serius.
Flashback off
*****
Mia masih memandang keluar melalui jendela pesawat. Hanya terlihat awan putih yang berarak dan menimbulkan guncangan-guncangan kecil di dalam pesawat.
Setahun setelah kepindahan Steve, Mia dan Steve memang masih intens berkomunikasi.
Namun setelah Mia lulus SMA dan mulai kuliah sambil belajar menjalankan bisnis, semakin banyak waktu Mia yang tersita.
Mia dan Steve sudah jarang berkomunikasi hingga akhirnya keduanya hilang kontak sama sekali sampai sekarang.
Bahkan Mia sudah melupakan Steve dan semua janji manis dari pria itu.
Namun setelah pertemuan tak terduga Mia dan Steve siang ini, semua kata-kata manis dari Steve sembilan tahun yang lalu seakan kembali bercokol di benak Mia.
Mungkinkah Mia dan Steve memang berjodoh?
Mia juga ingat tentang doa dan harapannya selama ini bahwa akan ada pangeran tampan yang akan menjadi pelabuhan terakhir hatinya dan membuatnya jatuh cinta.
Dan sekarang Mia yakin kalau pangeran tampan itu adalah Steve.
__ADS_1
Steve seorang dokter muda dan Mia seorang nona direktur, bukankah keduanya akan menjadi pasangan yang serasi dan membuat banyak orang menjadi iri?
Ah, Mia sudah tak sabar untuk bertemu kembali dengan Steve dan mulai menjalin hubungan yang serius bersama pria tampan itu.