Nona Mia

Nona Mia
BELAJAR MENERIMANYA


__ADS_3

Mama Alin membuka pintu kamar Mia perlahan.


Gadis itu terlihat berbaring meringkuk di sudut ranjangnya.


"Mia!" Mama Alin mengusap lembut punggung anak gadisnya tersebut.


Namun Mia hanya diam tak bergeming.


"Mia, makanlah dulu! Mama membawakan makanan untukmu," ucap mama Alin lagi.


Mia masih diam.


Mama Alin menghela nafas panjang.


"Mia ingin bicara dengan papa," ucap Mia lirih.


"Papamu masih di luar kota, Mia. Lusa baru kembali." Jelas mama Alin.


"Makanlah dulu!" Bujuk mama Alin sekali lagi.


"Mia tidak mau makan. Biar saja Mia mati bersama bayi ini," jawab Mia ketus.


Mama Alin benar-benar harus memijit pelipisnya kali ini.


Kenapa gadis ini begitu keras kepala?


"Bayimu butuh nutrisi, Mia. Jika kamu membencinya dan tak mau merawatnya, biarlah nanti mama yang akan merawatnya. Kamu hanya perlu menjaganya tetap sehat sampai dia siap lahir ke dunia ini," nasehat mama Alin.


Mia membalik badannya dan kini menatap pada mama Alin.


"Bisakah mama memberi satu alasan kenapa Mia harus mempertahankan bayi ini? Sedangkan pria yang sudah meninggalkannya di rahim Mia sudah menyakiti hati Mia," tanya Mia kembali dengan emosi yang siap meledak.


"Karena bayi itu tidak ada hubungannya dengan rasa sakit hati kamu, Mia. Jika bisa memilih, mungkin bayi itu juga tidak akan mau berada di rahim wanita yang sama sekali tidak menginginkannya," jawab mama Alin tajam.


"Penyesalan selalu datang di akhir. Jika kamu tidak menginginkan bayi itu, bukankah seharusnya kamu tidak melakukan perbuatan terlarang itu sebelum menikah?" Imbuh mama Alin lagi.


"Sekarang semuanya sudah terlanjur. Mulailah untuk menerima kehadirannya di dalam hidupmu. Mulailah untuk peduli kepadanya. Silahkan kamu menyiksa dirimu sendiri, tapi jangan pernah mencoba untuk menyiksa makhluk kecil tak berdosa itu di dalam rahimmu!" Mama Alin sudah beranjak dari duduknya dan hendak keluar dari kamar Mia.


"Mama membawakanmu eskrim stroberi coklat. Mama yakin rasanya akan sangat tidak enak jika sudah mencair. Jadi sebaiknya kamu memakannya dengan cepat dan menghabiskannya," ujar mama Alin lagi sebelum benar-benar keluar dari kamar Mia.


Mia menatap pada nampan berisi makanan yang diletakkan di atas nakas di samping ranjangnya.

__ADS_1


Perut Mia sudah meronta minta diisi.


Belakangan ini Mia tidak bernafsu pada semua jenis makanan. Namun saat melihat masakan mama Alin dan berbagai dessert yang ada di nampan tersebut, mendadak nafsu makan Mia menjadi muncul kembali.


Mia langsung meraih eskrim stroberi coklat favoritnya yang hampir mencair.


Hanya dalam hitungan detik, nona direktur itu sudah menghabiskannya.


Sejak kecil, eskrim itu adalah makanan favorit Mia. Tentu saja mama Alin sangat paham hal itu. Karena dulu setiap Mia merajuk, mama Alin akan mengajak Mia ke kedai eskrim dan membelikannya eskrim rasa stroberi coklat. Dan saat itu juga Mia akan berhenti merajuk dan kembali ceria lagi.


Mama Alin begitu menyayangi Mia, lalu kenapa sore tadi Mia malah menyakiti hati wanita paruh baya tersebut dengan mengingatkan kedudukan mama Alin yang hanyalah mama sambung bagi Mia?


Mia benar-benar merasa bersalah sekarang. Mungkin Mia akan minta maaf nanti pada mama Alin.


****


Papa Andri baru pulang dari urusannya di luar kota.


Semua hal mengenai Mia dan kehamilannya yang diluar dugaan juga sudah diceritakan secara mendetail oleh mama Alin.


Papa Andri benar-benar harus menghela nafas panjang berkali-kali demi meredam emosi yang memenuhi dadanya.


Siapapun pria brengsek yang sudah melakukan hal buruk itu pada Mia, akan ia beri pelajaran saat bertemu nanti.


Mia terlihat sedang duduk merenung di sofa seraya memeluk lututnya, saat papa Andri masuk ke kamar Mia.


Putrinya itu membuang pandangannya keluar jendela kamar.


"Kau baik-baik saja?" Papa Andri langsung merangkul dan mencium kening putri sulungnya tersebut.


Mia sedikit terkejut,


"Papa?" Namun dengan cepat Mia menghambur ke pelukan sang papa dan menumpahkan tangisannya di sana.


Papa Andri hanya diam dan membiarkan Mia menangis hingga puas. Mungkin dengan cara ini, Mia bisa melepaskan semua beban berat yang ada di hatinya.


"Maafkan Mia, papa" ucap Mia di sela-sela isak tangisnya.


Papa Andri mengusap airmata di kedua pipi Mia.


"Kau mau mengatakan pada papa siapa pria brengsek itu?" Tanya papa Andri sedikit memaksa.

__ADS_1


Mia menggeleng dengan cepat,


"Mia hanya ingin melupakannya dan tak mau mengingatnya sama sekali. Mia akan berusaha menerima kehadiran bayi ini. Tapi Mia benar-benar tidak mau mengingat pria brengsek itu, Pa" jawab Mia masih terisak.


Papa Andri hanya bisa menghela nafas kecewa.


Tapi ia juga tidak bisa memaksa Mia. Mungkin luka itu terlalu dalam hingga Mia tidak mau mengingatnya.


"Baiklah, kalau memang ini adalah keputusanmu. Tapi jika kamu berubah pikiran, papa siap memberi pelajaran pada pria brengsek itu," ujar papa Andri lagi.


Mia hanya mengangguk samar.


"Kau sudah makan malam?" Tanya papa Andri lagi. Pria paruh baya itu merapikan rambut Mia yang berantakan.


Mia menggeleng,


"Mia tidak lapar, Pa," jawab Mia lirih.


"Kamu tetap harus makan, Mia. Atau kamu ingin makan sesuatu? Papa akan membelikannya untukmu," tawar papa Andri.


Mia tampak berpikir sejenak, lalu gadis itu kembali menggeleng. Mia sedang tidak ingin makan apapun.


"Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau kamu menemani papa makan malam?" Bujuk papa Andri belum menyerah.


"Sudah ada mama. Kenapa minta Mia menemani?" Protes Mia seraya mencebik.


Papa Andri hanya terkekeh,


"Papa kan pria paling tampan di rumah ini. Jadi akan terasa istimewa jika papa makan malam sambil di temani dua bidadari yang ada di rumah ini," jawab papa Andri asal.


Mia tertawa kecil.


"Baiklah papaku yang paling tampan. Ayo Mia temani makan malam," Mia beranjak dari duduknya dan segera menggamit lengan sang papa.


Papa dan putrinya itu berjalan sambil bersenda gurau menuju ruang makan.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕


__ADS_2