Nona Mia

Nona Mia
INSIDEN


__ADS_3

Tepat pukul sebelas malam, Mia dan Bian sudah meninggalkan gedung resepsi.


Mia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bian hanya diam dan memfokuskan pandangannya ke jalan yang ada di depannya. Pria itu sepertinya enggan untuk memulai sebuah obrolan.


"Apa ini?" Mia menunjukkan sebuah kotak cincin kecil yang terbuat dari beludru dan berwarna merah cerah.


Bian langsung bisa mengenali benda tersebut. Pria itu bergegas merebutnya dari tangan Mia.


"Darimana kau mendapatkannya?" Tanya Bian dengan nada tak senang.


Apa nona kaya ini mencurinya dari saku celana Bian?


"Aku tak sengaja melihatnya terjatuh dari saku celanamu, dan kamu tidak menyadarinya. Jadi aku memungutnya," jawab Mia dengan nada bersungguh-sungguh.


Bian menghela nafas kasar.


Pria itu membuka kotak cincin tersebut dan Mia langsung bisa melihat sebuah cincin emas yang bertahtakan berlian di atasnya.


"Apa itu untuk Dea?" Tebak Mia yang sudah kembali mengalihkan pandangannya ke jalan di hadapannya.


Suasana jalanan malam ini sedikit lengang. Hanya ada satu dua mobil yang melaju lebih cepat dan mendahului mobil nona direktur tersebut.


Bian menarik kedua sudut bibirnya ke atas,


"Tadinya aku ingin melamar Dea malam ini. Tapi kau malah mengacaukan semuanya dan mengajakku pergi ke pesta pernikahan Abram," keluh Bian dengan nada kesal.


Mia masih membisu.


Dalam hati Mia juga ingin ada satu pria yang memakaikan cincin di jari manisnya, lalu berlutut di hadapan Mia dan meminta Mia untuk menjadi istrinya.


Apa Mia berharap pria itu adalah Bian?


Apa Mia sungguh-sungguh jatuh cinta pada Bian sekarang?


Mia menggeleng-gelengkan kepalanya demi mengusir semua perasaan bodohnya terhadap Bian.


Aku tidak mungkin jatuh cinta pada Bian


Aku tidak mungkin jatuh cinta pada pria brengsek ini


Kalimat-kalimat itu terus Mia rapalkan di dalam hatinya.


Suasana di dalam mobil kembali hening.


Tiba-tiba Mia menginjak rem secara mendadak. Bian yang tadinya sudah memejamkan mata, lumayan kaget karena mobil berhenti mendadak.


Bian baru saja akan mengomeli Mia. Namun pemandangan yang Bian lihat sekarang, membuat pria itu mengurungkan niat mengomelnya.


Bian ganti mengumpat beberapa kali.


"Aku harus bagaimana, Bian?" Tanya Mia yang terlihat kebingungan.


Netra nona direktur itu masih memandang ke arah jalan di depannya yang kini sudah berubah menjadi arena tawuran. Dua kelompok anak muda terlihat saling lempar batu secara membabi buta.


"Putar balik, nona Mia! Cepatlah!" Bian memberi aba-aba pada Mia.


"Itu satu-satunya jalan menuju kafemu. Kita akan lewat mana sekarang?" Tanya Mia yang mulai panik.


"Kita masih bisa lewat gang-gang kecil. Tenanglah dulu!" Bian mencoba mengingat-ingat jalan tercepat menuju kafenya selain lewat jalan utama.


Mia berulang kali menarik nafas panjang untuk mengusir rasa takutnya.


Bodoh!


Seharusnya Mia tadi membawa supir dan bodyguards sekalian.


"Belok kanan!" Bian kembali memberi aba-aba pada Mia.


Nona direktur itu dengan cepat memutar stirnya ke arah kanan.


Mia terus mengikuti petunjuk dari Bian, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah jalanan yang lengang.


Tak ada lampu penerangan di jalan tersebut.


Mia menghentikan mobilnya karena ada segerombolan pemuda di depan mobilnya.


Tadinya Bian ingin bertanya arah, namun para pemuda itu malah mengacungkan senjata tajam dan berjalan menuju ke arah mobil Mia.


Apa mereka begal?


"Bian, kita di mana?" Cicit Mia yang mulai ketakutan.

__ADS_1


Bian dengan sigap mengunci semua pintu dan jendela mobil Mia. Bian menoleh ke arah belakang mobil berharap mereka masih bisa putar arah.


Sial!


Dari arah belakang pun sama. Ada segerombolan orang yang juga bergerak menuju ke arah mobil Mia.


"Apa mobil ini anti peluru, nona kaya?" Tanya Bian pada Mia yang semakin ketakutan.


"Mereka membawa pisau dan golok, Bi. Bukan pistol," sahut Mia sedikit emosi.


"Iya aku kan cuma tanya. Jangan membuka pintu apapun yang terjadi!" Bian memperingatkan Mia.


Para begal semakin mendekat,


Tiba-tiba Mia ingat pada ponselnya.


Polisi!


Mia bisa menelpon polisi.


Buru-buru nona direktur itu merogoh tasnya untuk mencari keberadaan ponselnya.


Ketemu!


Dengan tangan gemetar, Mia melakukan panggilan ke kantor polisi,


"Halo! Polisi, tolong kami! Mobil kami di begal di...." Mia menoleh sejenak ke arah Bian untuk bertanya posisi mereka di jalan apa sekarang.


Bian menggeleng ragu. Bian juga tidak yakin sekarang dirinya dan Mia sedang di jalan apa. Tidak ada penerangan ataupun gedung di kiri kanan jalan yang bisa dijadikan petunjuk..


Apa Mia dan Bian sedang tersesat di negeri antah-barantah?


"Suruh saja polisi itu menyusuri sepanjang jalan Pahlawan! Kita ada di salah satu gang yang ada di jalan itu," jawab Bian akhirnya. Pria itu sepertinya mulai putus asa.


Mungkin kalau begalnya hanya satu dua orang, Bian akan keluar menghadapi mereka. Tapi ini, lebih dari lima orang.


Bian pasti akan babak belur atau bahkan kehilangan nyawa jika memaksa untuk melawan mereka.


"Halo, pak polisi! Kami dibegal di jalan Pahlawan tolong segera..." Mia belum menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba Bian berteriak,


"Mia, awas!" Secepat kilat Bian meraih tubuh nona direktur tersebut dan meraupnya ke dalam pelukan saat sebuah martil besar dihantamkan oleh seorang begal ke kaca samping mobil Mia, yang otomatis membuat kaca itu pecah berhamburan.


Jika Bian tidak sigap meraih tubuh Mia dan melindunginya, mungkin nona kaya itu sudah bersimbah darah sekarang.


Mia yang masih berada di pelukan Bian langsung gemetar melihat pisau yang diarahkan kepadanya. Keringat sebesar biji jagung sudah memenuhi wajah nona direktur tersebut.


"Jauhkan! Jauhkan benda itu dariku!" Teriak Mia yang semakin ketakutan.


"Turun cepat!" Bentak seorang begal pada Mia dan Bian.


Susah payah Bian membawa Mia turun dari dalam mobilnya. Nona direktur itu masih saja gemetar ketakutan dan terus bersembunyi di dada Bian.


Para begal masih mengacungkan pisau kepada Mia dan Bian.


"Ambil saja semua yang kalian mau, tapi jauhkan benda itu dariku! " airmata Mia mulai jatuh bercucuran.


Bian menatap prihatin dan sedikit bingung pada nona Mia.


Namun sesaat Bian ingat,


Flashback beberapa minggu yang lalu,


"Hai, Nona kaya ada apa ke sini pagi-pagi?" Bian yang belum selesai menyiapkan sarapan, menyapa Mia sambil membawa pisau kecil di tangannya.


Wajah Mia langsung berubah pucat saat melihat pisau di tangan Bian.


"Jauhkan benda itu dariku!" Bentak Mia seraya menunjuk ke arah pisau yang ada di tangan Bian.


"Ini?" Bian malah menunjukkan benda tajam itu ke depan wajah Mia. Terang saja nona direktur itu langsung refleks menjauh. Badan Mia terlihat gemetaran dan keringat sudah memenuhi wajahnya.


"Jauhkan itu, bodoh! Kau ingin membuatku pingsan?" Bentak Mia sekali lagi. Nona direktur itu terus saja beringsut mundur.


"Tunggu, jangan bilang kau takut dengan pisau kecil ini?" Bian sedikit tergelak.


Bagaimana bisa nona Mia yang galak dan kejam takut pada sebuah pisau?


"Jauhkan sekarang!" Sahut Mia kalang kabut.


Dan Bian semakin tergelak,


"Kau takut dengan pisau ini, nona kaya?" Ejek Bian seraya menggoda dan memainkan pisau kecil itu di tangannya.

__ADS_1


"Aichmophobia! Apa kau tidak pernah mendengar istilah itu?" Tanya Mia yang masih terlihat pucat dan marah.


"Apa? Apa itu penyakit?" Tanya Bian yang masih tergelak.


"Ya! Aku takut pada pisau dan jarum, jadi jauhkan benda bodoh itu dariku sebelum aku pingsan di sini!" Sahut Mia yang kini mulai emosi.


Flashback off


"Hei jauhkan pisaumu itu!" Gertak Bian pada para begal yang masih saja mengacungkan pisau ke arah Mia dan Bian.


Wajah Mia sudah pucat dan gadis itu terus saja membenamkan wajahnya di dada Bian.


Bisa Bian rasakan kalau nona direktur ini benar-benar ketakutan.


Jangan sampai nona direktur ini pingsan di sini karena pisau begal-begal bodoh itu.


Huh, merepotkan saja!


"Lepaskan pacarmu itu!" Para begal memaksa memisahkan Mia dan Bian yang masih berpelukan sedari tadi.


"Bian! Bian! Jauhkan pisau bodoh itu!" Jerit Mia yang tidak mau lepas dari Bian.


Para begal sudah berhasil memisahkan Mia dan Bian.


Mia jatuh terduduk di atas aspal sambil meringkuk ketakutan. Sedangkan Bian, kedua tangannya di cekal dan dipegangi oleh dua orang begal bertubuh besar.


"Hei lihat! Gadis ini sangat cantik dan molek ternyata," seorang begal mendekati Mia dan hendak menyentuh nona direktur tersebut.


"Jangan sentuh dia!" Pekik Bian yang masih berusaha melepaskan tangannya dari cekalan para begal.


"Mia, bangunlah! Mia!" Bian berteriak sekali lagi pada Mia yang masih meringkuk ketakutan.


"Diamlah!" Bentak seorang begal pada Bian yang terus saja berontak.


"Hai nona cantik, mau menemani kami malam ini?" Goda seorang begal pada Mia.


"Jauhkan! Jauhkan!" Mia terus saja meracau tak jelas. Tangan-tangan brengsek para begal itu sudah mulai menyentuh Mia


Baiklah, Bian tak tahan lagi.


Sekuat tenaga Bian berusaha melepaskan dirinya dari cekalan dua begal yang memegangi tangannya.


"Mia bangunlah! Jangan biarkan mereka menyentuhmu!" Teriak Bian yang mulai frustasi. Bian menyentak dengan keras kedua begal yang mencekal tangannya.


Berhasil!


Bian berhasil lepas. Secepat kilat pria itu berlari ke arah Mia dan melindungi nona direktur tersebut.


"Singkirkan tangan brengsek kalian itu!" Bentak Bian seraya menampik tangan-tangan begal yang sudah mulai menjamah tubuh molek Mia.


Nona direktur itu masih pucat dan duduk meringkuk di atas aspal.


Bian sekuat tenaga melawan para begal yang main keroyokan tersebut, hingga akhirnya Bian berhasil melukai salah satu dari mereka menggunakan pisau mereka sendiri. Para begal yang tidak terima segera menyerang Bian bertubi-tubi.


"Mia cepat lari dari sini!" Bian masih sempat berteriak pada Mia.


Dan saat Bian lengah itulah, seorang begal menusukkan pisau ke arah perut Bian. Bian langsung jatuh ke aspal sembari memegangi perutnya yang tertusuk pisau.


Mia yang sudah bangun dan bersiap pergi, langsung mengurungkan niatnya dan segera menghampiri Bian.


"Bian!" Pekik Mia seraya berlari ke arah Bian.


Nguuiing,


Dari kejauhan terdengar sirine mobil polisi.


Para begal itupun segera lari tunggang langgang setelah menyambar tas mewah Mia yang ada di dalam mobil.


"Bian! Jangan mati, Bian!" Mia memangku tubuh Bian yang kini bersimbah darah. Airmata sudah jatuh bercucuran di kedua pipi nona direktur tersebut.


"Tolooong!"


.


.


.


Huh,


Jadi tegang sendiri ngetiknya 😅😅

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕


__ADS_2