Nona Mia

Nona Mia
AKU CEMBURU


__ADS_3

Mia menyusuri koridor rumah sakit yang mengantarnya menuju ke kamar perawatan Bian.


Ini hari ketiga Bian dirawat karena kasus penusukan tempo hari.


Mia baru sempat menjenguk Bian hari ini. Setelah pulang dari rumah sakit dan mendonorkan darah untuk Bian hari itu, Mia demam tinggi dan jatuh sakit.


Mia benar-benar harus bedrest di rumah mama papanya selama tiga hari.


Mia menenteng sebuah tas berisi makan siang untuk Bian. Mia ingin sekalian mengucapkan terima kasih pada pria itu karena sudah melindungi dan menyelamatkan Mia dari para begal.


Mia sudah sampai di depan kamar perawatan Bian. Nona direktur itu mengintip sebentar melalui jendela kamar.


Namun pemandangan yang kini Mia lihat membuat senyum yang sedari tadi tersungging di bibir Mia sirna seketika.


Ada Dea di dalam yang sedang menyuapi Bian. Mia bahkan lupa kalau Bian sudah memiliki Dea sebagai kekasih sekarang.


Kenapa Mia percaya diri sekali tadi dan mengira kalau Bian menunggu kehadirannya di rumah sakit ini?


Mia mengintip sekali lagi.


Dea dan Bian terlihat sedang bersenda gurau dan tertawa bersama. Beberapa kali tangan Bian terulur untuk membelai wajah Dea dengan mesra.


Sesaat hati Mia terasa nyeri.


"Selamat siang, nona mau menjenguk pasien?" Seorang perawat menyapa Mia yang masih mematung di depan kamar Bian.


Mia menggeleng dengan cepat.


"Saya sedang buru-buru, Sus. Bisa titip ini untuk pasien di dalam?" Mia mengangsurkan tas yang tadi ia bawa.


Perawat tersebut mengangguk,


"Baiklah akan saya sampaikan, Nona" ujar perawat tadi.


Setelah memberikan tas berisi makanan pada perawat, Mia menarik nafas panjang dan segera berlalu meninggalkan tempat serta rumah sakit tersebut.


Hati Mia terasa sesak. Mia butuh udara segar sekarang.


****


"Kau mengkhawatirkanku?" Bian menggoda Dea sekali lagi. Bian sangat suka saat wajah mungil itu merona merah.

__ADS_1


"Tentu saja aku khawatir, Bian. Aku takut kamu kenapa-kenapa," jawab Dea seraya mencebik.


"Selamat siang," seorang perawat masuk ke ruang perawatan Bian membawa tas berisi makanan yang tadi dititipkan oleh Mia.


"Selamat siang, Suster" Dea menjawab sapaan perawat tadi.


"Ada yang menitipkan ini untuk tuan Bian," perawat tadi memberikan tas yanb ia bawa pad Dea.


"Siapa?" Tanya Dea penasaran.


"Nona muda yang tempo hari mendonorkan darah untuk tuan Bian," jawab perawat tadi.


"Saya permisi, selamat siang" pamit perawat itu selanjutnya.


Dea hanya mengangguk.


Setelah perawat tadi pergi, Dea membuka tas yang lumayan berat tersebut. Ada kotak makanan dan beberapa kue serta camilan lainnya.


"Apa isinya, Dea?" Tanya Bian penasaran.


"Makanan," jawab Dea lirih.


Dea mendekat ke ranjang perawatan Bian.


"Nona Mia. Apa kau cemburu?" Bian membelai wajah kekasihnya tersebut.


Bian sendiri sedikit terkejut saat Eve memberitahu tentang nona Mia yang mendonorkan darahnya untuk menolong Bian. Nona muda itu takut setengah mati pada jarum suntik. Tapi demi menolong Bian, Mia melawan rasa takutnya.


Entahlah, Bian tidak mau terlalu memikirkannya.


Mungkin nona Mia memang sudah tobat sekarang dan sudah berhenti menjadi nona kaya yang jahat dan kejam karena kena begal malam itu.


"Kenapa nona Mia menitipkannya pada perawat dan tidak masuk saja ke sini?" Tanya Dea seraya menatap wajah Bian.


Bian mengendikkan bahu,


"Mungkin dia terburu-buru. Dia kan nona direktur yang super sibuk," jawab Bian sekenanya.


"Kau sudah tanya ke dokter kapan aku bisa pulang?" Tanya Bian selanjutnya.


"Ya, kata dokter sore ini kau sudah boleh pulang. Apa kau senang sekarang?" Jawab Dea seraya berkacak pinggang.

__ADS_1


Bian tergelak,


"Ekspresi wajahmu lucu sekali. Aku jadi ingin menciummu," ujar Bian masih tergelak.


"Aku tidak mau," sahut Dea ikut tergelak.


"Awas kamu, Dea" timpal Bian gemas.


Bian benar-benar ingin mengejar gadis mungil itu lalu menggelitikinya sampai Dea menangis minta ampun


****


Mia masih merenung di apartemennya.


Nona direktur itu menatap kosong ke arah jendela besar yang ada di ruang tengah.


'Jangan sentuh dia!'


'Singkirkan tangan brengsek kalian!'


Kilas-kilas kejadian malam itu terus saja berkelebat di benak Mia. Bian yang menjadi pahlawan Mia malam itu.


Mungkinkah Mia jatuh cinta pada pria yang selalu Mia sebut sebagai pria brengsek itu?


"Apa kamu tidak pernah jatuh cinta padaku, Bian?" Gumam Mia pada dirinya sendiri.


"Apa aku begitu buruk di matamu, hingga kamu membenciku dan tak pernah peduli pada perasaanku?"


"Kenapa aku harus jatuh cinta padamu saat kamu sudah menjadi milik gadis lain?"


Mia tak berhenti bergumam dan berbicara sendiri.


Langit di luar gedung apartemen sudah berubah menjadi semburat oranye yang menandakan senja sudah menjelang.


Mia masih saja larut bersama lamunannya tentang Bian.


Apakah Mia masih punya kesempatan untuk memiliki cinta Bian?


Tapi jika Mia tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Bian, bagaimana pria itu akan tahu?


Mia memejamkan matanya yang mulai terasa lelah. Nona direktur itu kini sudah terlelap bersama mimpi indahnya tentang Bian.

__ADS_1


Mungkinkah Bian adalah pangeran impian yang selama ini Mia cari?


__ADS_2