
Tengah malam yang sunyi,
Sangat berbeda dengan suasana di dalam ruang persalinan. Mia sedang berjuang melahirkan bayinya. Mama Alin dan papa Andri tak beranjak dari samping putrinya tersebut. Setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan, tepat pukul 02.00 terdengar tangisan seorang bayi laki-laki.
Mia menatap pada wajah mungil itu. Bayi yang awal kehadirannya sempat Mia benci, tapi sekarang Mia benar-benar jatuh cinta pada malaikat kecil itu. Airmata kebahagiaan tak berhenti mengalir di kedua pipi Mia.
Mia sudah menjadi seorang ibu sekarang, Mia adalah ibu dari bayi laki-laki mungil ini. Mia akan menjaganya. Mia akan memberikan kasih sayang berlimpah untuk bayi ini. Mia akan memberikan semua hal dalam hidupnya untuk bayi kecil ini.
Karena sekarang, bayi ini adalah bagian dari dunia kecil Mia. Satu-satunya harta paling berharga dalam hidup Mia.
****
Di belahan dunia lain,
Bian meneguk hingga tandas wine yang ada di gelasnya.
Netra pria itu masih tak lepas dari pemandangan kelap-kelip kota Sydney, Australia.
Bian sedang duduk di lantai teratas dari sebuah gedung yang ada di kota tersebut.
Setiap malam, setelah pekerjaannya sebagai seorang koki di gedung ini selesai, hanya hal seperti ini yang selalu Bian lakukan. Kadang Bian menghabiskan waktu hanya untuk memandangi langit hitam bertabur bintang di atas kota Sydney.
Mia,
Satu nama yang selalu menghantui pikiran Bian selama lima tahun terakhir.
Sudah lima tahun berlalu, namun rasa bersalah di hati Bian atas perbuatannya pada Mia belum juga sirna. Setiap malam, Bian terus saja memikirkan nona direktur itu. Mia tak pernah lagi menghubunginya sejak terakhir Bian meninggalkan negara itu.
Mungkinkah Mia sudah bahagia sekarang bersama pangeran impiannya?
Mungkinkah Mia sudah melupakan semua perasaan yang pernah ia ungkapkan pada Bian?
Dan sekarang Bian seperti mendapat karma dari perbuatannya di masa lalu.
Bian akhirnya sadar kalau selama ini dia juga mencintai Mia. Selama lima tahun ini, Bian bahkan tidak bisa menjalin hubungan dengan gadis manapun karena hati dan pikirannya hanya tertuju pada satu wanita.
Mia.
Bagaimana keadaanmu sekarang, Mia?
Aku merindukanmu, Mia.
Aku merindukanmu.
Bian duduk meringkuk seraya memeluk lututnya sendiri. Membenamkan dirinya dalam sebuah kerinduan panjang.
__ADS_1
Bian yang kini terpuruk karena kebodohannya di masa lalu.
****
"Hai Bian, aku ingin kau mengurus cabang kita yang baru di kota berkembang itu," tepukan dari rekan Bian langsung membuyarkan lamunan Bian.
Apalagi saat mendengar nama kota itu di sebut, mendadak semua hal mengenai kota asal Bian tersebut berkelebat di benak Bian beserta bayang-bayang Mia yang tak pernah hilang dari kepala Bian.
Sudah enam bulan terakhir Bian pulang ke negara ini, namun Bian tidak kembali ke kota asalnya.
Bian sekarang tinggal di kota metropolitan lain, berinvestasi pada sebuah usah kuliner bersama rekan Bian saat menuntut ilmu di negeri kangguru.
Usaha kedai es krim yang cukup diminati oleh semua kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Rencananya usaha ini akan membuka cabang di berbagai kota. Salah satunya di kota asal Bian.
Tapi kata-kata dari rekan Bian barusan sedikit membuat Bian terkejut.
"Kenapa harus aku?" Tanya Bian pura-pura tak paham.
"Aku dengar kau berasal dari kota itu. Apa kau tidak ingin pulang ke sana? Ke kampung halamanmu?" rekan Bian tadi balik bertanya,
Pulang?
Bian bahkan tak lagi memiliki apapun di kota itu.
Satu-satunya yang tersisa di kota itu adalah cinta Bian pada Mia.
Mungkinkah Mia masih tinggal di kota itu?
Mia punya banyak uang. Bisa saja Mia juga sudah pindah ke kota lain atau bahkan ke negara lain bersama pangeran impiannya sekarang.
Bian menghela nafas,
"Akan ku pikirkan. Bukankah pembukaan resminya masih tiga bulan lagi?" Ujar Bian akhirnya.
"Ya. Dan soal tempat tinggal, kau jangan khawatir. Aku punya rumah kecil yang bisa kau tempati jika kau bersedia mengurus cabang yang disana" timpal rekan Bian itu lagi.
Bian hanya mengangguk.
Kedai es krim sudah buka. Saatnya kembali bekerja.
*****
Tiga bulan berlalu,
__ADS_1
Bian menatap deretan gedung yang berjajar rapi di kiri kanan jalan utama.
Taksi yang Bian tumpangi berhenti karena lampu merah.
Bian menatap ke arah gedung tinggi disudut jalan. Tentu saja Bian masih mengingat dengan jelas kalau itu adalah gedung kantor milik nona Mia. Sudah lima tahun berlalu dan tidak banyak yang berubah dengan gedung tersebut.
Haruskah Bian ke sana dan menemui Mia?
Tapi bagaimana jika Mia ternyata sudah menikah dan hidup bahagia bersama pria lain?
Taksi kembali melaju membelah jalanan kota. Mengantarkan Bian ke rumah yang akan Bian tempati di kota ini.
Satu bulan yang lalu, Eve menelpon dan mengabari kalau Eve, Steve, serta Rachel sudah pindah kembali ke kota ini.
Alasan itulah yang akhirnya membuat Bian memutuskan untuk mengambil pekerjaan yang kemarin di tawarkan oleh rekan bisnisnya. Bian akan mengurus cabang kedai es krim yang ada di kota ini.
Eve adalah keluarga Bian satu-satunya. Bian tak mau lagi hidup berjauhan dari adik tersayangnya itu. Apalagi sekarang Bian sudah punya seorang keponakan cantik bernama Rachel yang merupakan putri dari Eve dan Steve.
Semoga setelah bertemu dengan keluarga Eve, semua beban di hati Bian akan sedikit berkurang.
****
Mia sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan bersama Galen, putranya yang kini berusia lima tahun.
Waktu berjalan begitu cepat.
Rasanya baru kemarin Mia berjuang melahirkan putranya ini, dan sekarang Galen sudah berusia lima tahun.
Bagi Mia, Galen adalah segalanya. Galen adalah kebahagiaan dan harta Mia yang paling berharga.
"Mommy, apa ini akan jadi kedai es krim?" Galen menunjuk ke salah satu tenant yang sedang di renovasi.
Memang ada icon bergambar es krim yang masih setengah jadi di tenant tersebut.
"Entahlah, mommy juga tidak tahu. Mungkin kita bisa kembali ke sini satu atau dua minggu lagi untuk melihatnya," jawab Mia seraya mencolek hidung mancung Galen.
Wajah Galen sekilas mirip dengan Bian.
Kadang hal inilah yang membuat Mia terus terusan mengingat pria brengsek itu.
Mike benar, mungkin Mia bisa membenci dan melupakan Bian, tapi Galen tetaplah anak kandung Bian. Dan wajah serta sifat Galen kadang tidak berbeda jauh dari ayah kandungnya tersebut.
"Baiklah, berarti Mommy harus mengajak Galen kesini lagi minggu depan," ucap Galen dengan raut wajah serius.
Dan Mia hanya tergelak melihat tingkah lucu Galen ini.
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan langkah menuju pusat permainan yang ada di dalam mall tersebut.