Nona Mia

Nona Mia
AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

Ting tong,


Bel apartemen Mia berbunyi.


Mia melirik ke arah jam dinding yang tergantung di ruang tengah. Masih jam sepuluh pagi.


Siapa yang bertamu?


Mia membuka pintu dengan malas, namun saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu apartemennya, nona direktur itu mengucek matanya.


"Hai, nona Mia. Apa aku mengganggu?" Tanya Bian sedikit berbasa-basi.


Mia ingin menjawab sapaan Bian, namun lidah Mia terasa kelu.


"Bi...Bian. Apa yang kamu lakukan di sini?" Mia akhirnya bisa bersuara.


"Aku ingin bicara. Apa kamu sibuk?" Tanya Bian sekali lagi.


Wajah pria ini kenapa terlihat begitu berseri dan bahagia?


Sangat kontras dengan Mia yang kini wajahnya lesu seakan kehilangan semangat hidup.


Pasti Bian sedang bahagia sekarang, karena sebentar lagi dia akan menikah dengan gadis yang dicintainya.


Dan tentu saja gadis itu bukanlah Mia.


"Silahkan masuk!" Ujar Mia lirih seraya berjalan ke dalam unit apartemen miliknya. Bian mengekori nona direktur tersebut sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut apartemen mewah milik Mia.


Dua orang yang memiliki hubungan rumit tersebut duduk di sofa ruang tamu.


"Apa kau sedang sakit, Nona?" Tanya Bian khawatir.


Wajah nona kaya ini kenapa sembab dan pucat?


"Mia, panggil saja Mia. Bukankah aku temanmu?" Suara Mia terdengar bergetar.


Teman?


Ya, Mia hanyalah teman Bian.


Tidak pernah lebih dari itu.


Sebuah senyuman terulas di bibir Bian.


"Apa kau sedang sakit? Aku ke kantormu dan kata sekretarismu kau tidak ke kantor tiga hari ini," Bian mengulangi pertanyaannya sekali lagi.


Ya, aku sakit Bian.


Hatiku sakit karena kamu akan menikah dengan Dea


Mungkin hatiku sudah sekarat sekarang.


Kenapa cinta ini begitu menyakitkan?


Mia hanya bergumam dalam hati.


Mia menarik nafas panjang sebelum mulai berbicara,


"Aku hanya sedang malas ke kantor," jawab Mia berdusta.


"Tapi semoga kau tidak malas datang ke pesta pernikahanku dengan Dea," Bian menyodorkan sebuah undangan pernikahan kepada Mia.


Tes,


Mia tak bisa lagi menahan airmatanya.


Bian benar-benar akan menikah dengan Dea

__ADS_1


Cepat-cepat Mia menghapus airmatanya yang sudah terlanjur jatuh.


"Mia, apa kamu menangis?" Tanya Bian khawatir. Pria itu meraih dagu Mia untuk memastikan kalau nona direktur itu tidak sedang menangis.


Wajah Mia terlihat memelas. Ada butir bening yang menggenang di sudut mata gadis tersebut.


Bian tak mengerti.


Ada apa dengan nona direktur ini?


Baru dua pekan Bian tidak berjumpa dengan nona direktur yang biasanya bersikap sombong dan angkuh ini. Dan mendadak sikap Mia sudah berubah menjadi melo seperti ini.


"Bian, aku mencintaimu," ucap Mia terbata.


Bian mengernyitkan kedua alisnya?


Apa nona direktur ini sedang mabuk?


"Apa kau sedang bercanda?" Timpal Bian sedikit terkekeh.


Mia menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Aku mencintaimu, Bian. Aku jatuh cinta padamu. Jangan menikah dengan Dea!" Pinta Mia dengan nada memelas.


Gadis itu memegang erat lengan Bian seakan takut jika Bian lari meninggalkannya.


Bian menggeleng tak percaya,


"Mia, kau sedang mabuk?" Tanya Bian sekali lagi. Senyuman di bibir Bian sudah sirna entah kemana.


Mia menggeleng lebih kuat kali ini,


"Aku tidak mabuk, Bian! Aku mencintaimu!" Pekik Mia keras. Suara nona direktur itu menggema di ruang tamu apartemennya.


Bian mencoba melepaskan cengkeraman tangan Mia di lengannya dengan perlahan. Namun Mia menolaknya. Gadis itu semakin erat mencengkeram lengan Bian.


"Tidak! Aku tidak pernah mencintaimu, Mia!" Bantah Bian tegas.


"Kau mencintaiku! Tanyakan itu pada hati kecilmu!" Mia mulai berdecak frustasi.


"Kau menyelamatkan nyawaku malam itu, kau mengkhawatirkanku saat aku menyetir sendiri dan bajuku terbuka, kau bahkan menciumku demi menyelamatkanku dari si brengsek Abram. Apa itu namanya kalau bukan cinta?" Sergah Mia sekali lagi.


"Kau terlalu percaya diri, nona kaya! Jika malam itu aku bersama gadis lain, aku juga akan melakukan hal yang sama. Ini hanya tentang kepedulian. Aku menolongmu karena aku peduli padamu. Aku tidak pernah mencintaimu!" Bian menyentak tangan Mia dengan keras hingga membuat gadis itu terhuyung ke belakang dan jatuh ke lantai.


Mia menangis sesenggukan,


"Kau mencintaiku, Bian! Kau mencintaiku. Aku yakin itu." Mia masih keras kepala.


"Aku tidak pernah mencintaimu! Camkan itu di dalam hati dan pikiranmu!" Bentak Bian seraya menuding ke arah Mia.


"Tanyakan pada hati kecilmu, bagaimana sebenarnya perasaanmu kepadaku? Kau tidak akan bisa membohongi dirimu sendiri!" Mia menatap Bian dengan tajam.


Bian terdiam,


Kata-kata Mia seakan merasuk ke dalam kalbunya.


Namun dengan cepat Bian menampiknya


Tidak! Tidak! Tidak!


Bian tidak mungkin mencintai Mia!


Bian hanya mencintai Dea. Hanya Dea!


"Aku tidak pernah mencintaimu, Mia! Aku hanya mencintai Dea. Hanya Dea!" tegas Bian seraya menekankan setiap kata di dalam kalimatnya.


Mia memejamkan matanya sejenak, airmatanya jatuh tak terbendung.

__ADS_1


"Aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku," Desis Mia masih keras kepala.


Bian menghela nafas kasar dan segera mengambil undangan yang ada di sofa.


"Aku tidak pernah mencintaimu! Aku hanya mencintai Dea dan aku akan menikah dengan Dea, jadi terima saja undangan ini dan jangan sok tahu dengan perasaanku!" Bian memberikan undangan pernikahannya pada Mia dengan kasar.


Dengan emosi yang meluap-luap, Bian melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen Mia.


"Bian!" Teriakan Mia menggema di setiap sudut apartemen.


"Bian aku mencintaimu!" Bian memilih mengabaikan teriakan nona direktur tersebut dan segera mengayunkan langkahnya keluar dari apartemen mewah Mia.


Bian menutup pintu dengan kasar seakan menunjukkan pada Mia kalau dirinya tengah marah dengan sikap Mia yang keras kepala tersebut.


Wajah Bian merah padam menahan amarah yang bergejolak di dadanya. Pria itu masuk ke lift dengan cepat dan segera turun ke lantai paling bawah dari gedung apartemen terkutuk ini.


Aku tidak pernah mencintaimu, Mia!


Aku hanya mencintai Dea. Hanya Dea!


Bian terus saja merapalkan kalimat itu di pikiranya.


Bian memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju ke arah kafe miliknya. Emosi pria itu masih belum reda.


Bian masuk ke kafe masih dengan wajah yang merah padam menahan emosi.


Dea yang sudah duduk di belakang meja kasir sedikit bingung dengan raut wajah Bian yang sepertinya tengah menahan emosi.


Ada apa ini?


"Dea, ikut denganku!" Bian menarik tangan Dea dan memaksa gadis itu untuk ikut dengannya menaiki tangga menuju lantai dua dari kafe tersebut.


Tak sepatah katapun yang keluar dari bibir Bian. Pria itu membawa Dea ke kamarnya dan langsung mendorong tubuh mungil itu ke atas tempat tidurnya. Bian menciumi Dea dengan bertubi-tubi, membuat gadis muda itu gelagapan.


"Kau mencintaiku, Bian! Tanyakan itu pada hati kecilmu"


"Kau menyelamatkan nyawaku"


"Kau menciumku"


Kalimat-kalimat Mia terus saja berputar di otak dan kepala Bian.


Kilas-kilas adegan saat Bian mencium bibir merekah milik Mia, saat Bian memeluk dan menenangkan nona direktur itu, hingga saat mereka berdansa dengan mesra di pesta Abram terus saja berkelebat di kepala Bian.


Bian sedang mencium Dea sekarang, namun yang ada di pikirannya adalah wajah Mia dan semua hal tentang nona direktur sialan itu.


Kau mencintaiku, Bian


Kau mencintaiku!


"Aaaah" Bian melepaskan ciumannya pada Dea dan menjambak rambutnya sendiri demi meluapkan emosi di dadanya.


Dea menatap bingung pada calon suaminya tersebut.


Ada apa dengan Bian?


.


.


.


Udah ya..


Lanjut besok ya 😅😅


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕


__ADS_2