
Hari beranjak sore.
Mia masih tertidur lelap. Bian memutuskan untuk pergi sebentar ke kedai pizza tempatnya bekerja. Mungkin ada sisa makanan atau ada pekerjaan yang bisa Bian bantu di kedai tersebut.
Eve baru saja pulang bekerja dan mendapati motor sang abang yang sudah terparkir di teras rumah. Senyuman simpul langsung tersungging di bibir gadis tersebut.
Namun pintu depan terkunci.
'Mungkin abang sedang pergi keluar' gumam Eve pada dirinya sendiri.
Eve segera membuka pintu dengan kunci yang ia bawa. Setelah berhasil masuk ke dalam rumah, Eve bergegas menyalakan lampu karena di luar hari juga sudah mulai gelap.
Eve masuk ke kamar untuk meletakkan tasnya, namun gadis itu terlonjak kaget saat mendapati nona Mia yang kini tertidur lelap di atas kasur busa miliknya.
Eve mendekati nona Mia dan memperhatikan wajahnya dengan seksama untuk memastikan kalau dirinya tidak salah orang.
Tapi apa yang bosnya ini lakukan di kontrakan kecil Eve?
Berbagai macam pertanyaan mendadak memenuhi kepala Eve.
"Eve, kamu sudah pulang?" Suara Bian terdengar dari pintu depan.
Bergegas Eve menghampiri abangnya tersebut.
"Bang, itu nona Mia kenapa ada di rumah kita?" Bukannya menjawab sapan dari sang abang, Eve justru langsung menginterogasi abangnya tersebut.
"Nona Mia siapa?" Tanya Bian pura-pura tak paham.
"Itu yang di kamar Eve" jawab Eve geregetan.
"Itu May, bukan Mia" Bian menyangkal.
"May siapa? Jelas-jelas itu nona Mia, Bang!" Eve juga tak mau kalah. Eve sungguh yakin kalau itu adalah nona Mia, direktur di kantor tempat Eve bekerja yang sudah sepekan ini tak ada kabar.
"Memangnya siapa nona Mia?" Tanya Bian mulai kepo.
"Bos di kantor tempatku bekerja" jawab Eve menjelaskan.
Dan Bian langsung terbelalak tak percaya.
Bian tadinya mengira jika nona kaya itu hanyalah putri dari pengusaha kaya. Bian sungguh tak menyangka jika nona kaya yang mungkin seumuran dengan dirinya itu ternyata adalah direktur muda.
"Kau yakin tidak salah lihat?" Bian masih mencari celah.
Eve berdecak,
"Aku setiap hari melihat wajahnya di kantor. Bagaimana mungkin aku tidak mengenalinya" geram Eve dengan nada kesal.
"Nona Mia sudah sepekan menghilang. Bagaimana bisa tiba-tiba Abang membawanya ke kontrakan kita?" Lanjut Eve lagi. Sepertinya gadis itu masih tak percaya.
"Dia hilang ingatan, Eve" lirih Bian yang sontak membuat Eve kaget.
"Apa?" Teriak Eve semakin tak percaya.
__ADS_1
"Abang bertemu dengannya di mana?" Cecar Eve selanjutnya dengan anda menginterogasi.
"Di perjalanan menuju rumah nenek. Mobil yang ia tumpangi mengalami kecelakan. Abang menolongnya dan membawanya ke Puskesmas..." Bian menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Dan kau tahu, apa yang dia katakan saat pertama kali dia membuka mata?" Raut wajah Bian berubah serius sekarang.
"Apa memang?" Tanya Eve tak sabar.
"Dia mengatakan kalau abang ini suaminya. Dan semua dokter serta perawat di Puskesmas itu langsung percaya. Jadi abang terpaksa membawanya pulang ke rumah nenek" jelas Bian panjang lebar.
Eve ternganga tak percaya mendengar cerita dari Bang Bian.
"Abang mengarang?" Tuduh Eve cepat.
Sontak Bian langsung merengut sambil melotot tajam ke arah adik perempuannya tersebut.
"Untuk apa coba abang mengarang," decak Bian sedikit bersungut-sungut.
"Eve bakalan ngasih tahu Pak Andri besok," putus Eve selanjutnya. Eve yakin kalau kedua orang tua nona Mia pasti sedang khawatir dan kebingungan sekarang karena putri mereka sudah sepekan menghilang dan tak ada kabar.
"Siapa Pak Andri?" Tanya Bian cepat.
"Papanya nona Mia." Jawab Eve.
Bian berdecak,
"Tidak! Aku akan menjadikan nona kaya itu pembantu di rumah kontrakan kita. Jangan memberitahu keluarganya, Eve!" Bian memperingatkan sambil menuding ke arah Eve.
"Abang sudah gila? Abang bisa di penjara kalau ketahuan ngumpetin nona Mia di rumah" sergah Eve cepat.
"Tidak akan ada yang tahu asal kamu tutup mulut." Bian memperingatkan Eve sekali lagi.
"Tapi, Bang..." Belum selesai Eve berbicara, terdengar suara Mia yang baru keluar dari dalam kamar Eve.
"Mas Bian, ada apa?" Tanya Mia bingung.
Eve nyaris tergelak mendengar nona Mia yang memanggil abangnya dengan sebutan Mas Bian.
"Tidak ada apa-apa, Maymunah sayang. Aku hanya sedang mengobrol dengan Eve" jawab Bian sesantai mungkin sambil menunjuk ke arah Eve yang kini melongo.
Apa barusan abang Bian memanggil nona Mia dengan nama Maymunah?
Dapat inspirasi dari mana coba?
"Jadi ini Eve?" Tanya Mia sambil memandang Eve dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Iya, nona..." Belum selesai Eve memperkenalkan diri, Bian sudah berdehem keras seakan mengingatkan Eve agar memanggil nona kaya ini dengan sebutan May, bukan nona Mia.
"Eheeem!" dehem Bian dengan keras.
"Eh, iya kak Maymunah" Eve sedikit ragu saat mengucapkan nama asing itu.
Apa boleh jika Eve tertawa sekarang?
__ADS_1
"Gadis yang manis. Tapi aku benar-benar tak mengingatmu, Eve. Maafkan aku," ucap Mia dengan nada menyesal.
Dan sekali lagi Eve di buat terperangah dengan tutur lembut seorang nona Mia.
Yang Eve tahu selama tiga bulan bekerja di kantor nona Mia, nona direktur ini selalu berkata dengan ketus dan pedas.
Bahkan sikap nona Mia yang selalu angkuh dan pongah seperti sudah menjadi hal biasa bagi semua karyawan di kantor tersebut.
Tapi lihatlah sekarang, nona Mia berubah menjadi pribadi yang lugu dan lemah lembut.
Eve sungguh tak tahu kalau amnesia bisa membuat sifat seseorang berubah seratus depalan puluh derajat.
"Tak apa, Kak. Aku memakluminya," ujar Eve sambil tersenyum hangat.
"Mas, aku lapar. Apa ada makanan yang bisa kita makan?" Mia ganti bertanya pada Bian yang hanya berdiri mematung sedari tadi.
"Ya, aku membawa sisa pizza yang rusak dari kedai" Bian menunjukkan kantong kertas berisi pizza di tangannya pada dua gadis di depannya tersebut.
"Aku memasak nasi pagi tadi, apa kalian belum makan sedari tadi?" Eve menatap bergantian pada Bian dan Mia.
Dua orang itu kompak menggeleng,
"Oh, aku lega akhirnya bisa makan nasi lagi" ucap Mia tiba-tiba dengan wajah berbinar senang.
Eve mengernyit bingung, sedangkan Bian memilih untuk menahan tawanya.
Eve yang melihat gelagat aneh sang abang langsung melotot ke arah abangnya tersebut seakan minta penjelasan.
Namun Bian memilih untuk pura-pura cuek dan mengabaikan tatapan tajam dari Eve.
Eve hanya bisa mendengus kesal.
"Kak May berapa hari tidak makan nasi?" Eve akhirnya memilih untuk bertanya langsung pada Mia.
"Dua hari. Dan hari ini tadi dari pagi hingga siang aku hanya makan singkong rebus." Mia mengadu pada Eve.
Eve berdecak.
Abang Bian benar-benar keterlaluan. Eve jelas-jelas tahu kalau abang Bian punya uang dan pastilah cukup jika hanya sekedar untuk membeli nasi bungkus.
Lalu kenapa abang Bian malah menyiksa nona Mia dan hanya memberikan singkong rebus untuk nona direktur tersebut.
Benar-benar keterlaluan!
"Ayo kita makan" Bian mencairkan keheningan di antar mereka bertiga.
Pria itu masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam ala kadarnya. Eve mengekori sang abang ke dapur mungil itu.
Tak berselang lama, Eve dan Bian sudah kembali membawa nasi dan piring berisi pizza yang bentuknya sudah tidak karuan.
Entah apa yang terjadi pada pizza malang tersebut.
Namun meskipun bentuknya sudah berantakan, Mia tetap menikmati memakan nasi dengan lauk pizza tersebut.
__ADS_1
Sekilas memang terlihat aneh, namun Mia memilih untuk menikmatinya saja.
Perutnya benar-benar keroncongan dan butuh di isi sekarang.