Nona Mia

Nona Mia
AKRAB


__ADS_3

Mia dan Bian sudah sampai di rumah orang tua Mia.


Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, Mia segera turun dari mobilnya.


Bian mengikuti nona kaya tersebut sembari mengedarkan pandangannya ke halaman rumah yang cukup luas.


Tadinya Bian mengira kalau kedua orang tua Mia pastilah tinggal di rumah mewah bak istana. Nyatanya, Bian salah.


Rumah ini bukanlah rumah mewah.


Rumah serba putih itu bentuknya mirip dengan beberapa rumah yang ada di kompleks perumahan ini. Mungkin orang tua nona kaya ini memanglah orang yang memilih bergaya hidup sederhana, meskipun uang mereka berlimpah.


Mia mengetuk pintu di hadapannya, dan Bian berulang kali menarik nafas panjang. Bian belum pernah sekalipun berjumpa dengan orang tua dari nona kaya ini.


Bagaimana kalau orangtua nona Mia sama galaknya dengan nona Mia?


Bagaimana kalau mereka bertanya macam-macam pada Bian?


Mendadak berbagai kekhawatiran memenuhi benak Bian.


"Bian!" Mia menegur Bian yang terlihat bengong.


Bian langsung terlonjak kaget, dan menatap bingung pada Mia.


Namun baru saja Bian akan buka suara, pintu rumah tiba-tiba sudah dibuka dari dalam.


Seorang pria paruh baya yang wajahnya mirip dengan Mia berdiri seraya tersenyum ramah pada Mia dan Bian.


"Malam, Pa!" Sapa Mia sambil tersenyum hangat.


Gadis itu segera mencium pipi papa Andri.


Bian yang menebak kalau itu adalah papa dari Mia, ikut-ikutan memberi salam dan mencium punggung tangan papa Andri.


"Jadi ini?" Papa Andri bertanya pada Mia seraya menunjuk ke arah Bian.


"Saya Bian, Om," jawab Bian dengan nada sopan.


Dan papa Andri hanya mengangguk seraya tersenyum.


"Ayo masuk!" Ajak papa Andri pada Mia dan Bian.


Tiga orang itu pun duduk di sofa ruang tamu.


Mia duduk di sebelah papa Andri dan Bian memilih untuk duduk terpisah di sofa single tak jauh dari Mia.


Bian mengedarkan pandangannya ke ruang tamu yang lumayan lebar tersebut.


"Ma! Sini deh!" Papa Andri sedikit berseru memanggil mama Alin yang masih berkutat di dapur menyiapkan makan malam.


Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan rambut sebahu, muncul dari arah dapur.


Sebuah senyuman hangat tersungging di bibir wanita tersebut.


"Apa ada tamu penting?" Tanya mama Alin seraya terkekeh.


Mama sambung Mia tersebut ikut duduk di sebelah papa Andri.


Sekarang Bian bisa melihat sebuah keluarga yang penuh dengan kehangatan. Sepertinya keluarga Mia adalah keluarga yang ramah. Tapi Bian tak mengerti kenapa Mia sikapnya selalu ketus dan semena-mena kepada orang lain.


"Malam, tante," sapa Bian sopan seraya mencium punggung tangan mama Alin.


"Jadi kamu pacarnya Mia?" Tanya mama Alin berbinar senang.


Bian sedikit salah tingkah, namun dengan cepat pria itu mengangguk.


"Iya, tante. Saya Bian pacarnya Mia," jawab Bian sopan.


Semoga nona kaya itu tidak membunuhku saat pulang nanti karena aku sudah lancang memanggil namanya tanpa embel-embel nona.


"Apa mama dan papa sudah percaya sekarang?" Mia menatap bergantian ke arah mama Alin dan papa Andri.

__ADS_1


"Tapi sejak kapan kalian berpacaran? Kamu juga tidak pernah mengajak Bian kerumah, Mia," papa Andri terlihat masih ragu.


Mia baru akan buka suara, namun Bian lebih cepat menjawab pertanyaan dari papa Andri.


"Sebenarnya kami baru berpacaran selama enam bulan, Om," jawab Bian seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Saya benar-benar minta maaf karena sudah lancang berpacaran dengan putri anda tanpa meminta izin terlebih dahulu," lanjut Bian lagi. Kali ini pria itu terlihat menunduk malu.


Mama Alin dan papa Andri terkekeh bersamaan.


Sejenak, papa Andri jadi ingat dirinya sendiri yang dulu memacari mama Alin juga diam-diam tanpa sepengetahuan pak Hendra.


Berbeda dengan kedua orang tua yang kini terkekeh tersebut, Mia dan Bian saling menatap tak mengerti.


"Jadi, Bian. Apa pekerjaanmu?" Mama Alin sudah menghentikan tawanya dan bertanya serius pada Bian.


"Saya membuka sebuah kafe kecil di sudut kota, tante," jawab Bian mencoba tersenyum ramah.


"Oh, ya? Kafe apa, Bian?" Sahut papa Andri yang sepertinya tertarik dengan pekerjaan dari pacar Mia tersebut.


"Kafe Analogy yang ada di sudut jalan itu, Pa. Itu kafe milik Bian." Jawab Mia cepat.


"Mia juga banyak membantu saya saat awal membuka kafe itu dari nol," timpal Bian lagi masih tersenyum hangat.


"Mama pernah lewat beberapa kali di kafe itu dan selalu rame. Kalau tahu pemiliknya adalah calon mantu mama, pasti mama mampir ke sana, " ujar mana Alin seraya terkekeh.


Papa Andri dan Bian ikut terkekeh. Berbeda dengan Mia yang hanya memutar bola matanya.


"Sebaiknya kita makan malam bersama. Mama yakin kalian berdua pasti belum makan malam," mama Alin sudah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke arah ruang makan. Papa Andri mengekori istrinya tersebut.


Sedangkan Bian dan Mia masih belum beranjak dari duduknya.


"Apa sikapku terlalu kaku?" Tanya Bian khawatir


Mia menggeleng,


"Aktingmu bagus sejauh ini. Pertahankan!" Mia beranjak dari duduknya dan menepuk ringan punggung Bian sebelum berlalu pergi ke ruang makan menyusul kedua orang tuanya.


*****


Empat orang itu kini sudah duduk menikmati makan malam dalam suasana hangat. Sesekali Bian melemparkan pujian pada masakan mama Alin.


Mia akui, pria itu memang sangat pandai memuji dan melontarkan kata-kata manis. Tidak heran jika dulu Kyara sempat tergila-gila pada seorang Bian.


Dalam waktu sekejap saja, Bian terlihat sudah akrab dengan mama Alin dan papa Andri.


Bahkan saat makan malam sudah selesai, Bian tak segan-segan membantu mama Alin membereskan meja dan mencuci piring. Mia saja tidak pernah melakukan hal itu di rumah ini.


****


"Jadi, kapan kalian berencana untuk menikah?" Tanya papa Andri pada Bian dengan raut wajah serius.


Dua pria berbeda generasi itu sedang bermain catur di halaman belakang.


Sedangkan Mia dan mama Alin memilih untuk duduk di kursi panjang yang ada di sudut halaman. Entah apa yang dibahas oleh dua wanita tersebut. Sesekali keduanya tertawa seakan sedang membahas hal yang lucu.


Bian tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari papa Andri,


"Mia masih enggan membahas hal itu, Om. Saya sendiri tidak mau terlalu memaksanya," jawab Bian sok bijak.


"Apa Mia juga suka bersikap kasar kepadamu?" Tanya papa Andri lagi.


Tentu saja,


Putri kesayangan anda itu sikapnya selalu kasar, semena-mena dan sadis.


Bian hanya bergumam dalam hati.


"Mia sebenarnya gadis yang baik. Hanya saja, kadang bicaranya sedikit pedas. Tapi saya memakluminya, Om," jawab Bian semanis mungkin.


Oh, astaga!

__ADS_1


Semakin lama Bian berada di tempat ini, mungkin akan semakin banyak kata-kata munafik yang keluar dari bibirnya.


Baiklah, tak apa.


Bian akan mencoba menikmati ini.


Toh ini semua demi kelangsungan hidup kafe kesayangan Bian.


"Om senang, jika kamu bisa memahami sifat serta tabiat Mia yang sedikit kasar itu," ujar papa Andri seraya tersenyum hangat pada Bian.


Tepat jam sepuluh malam, Mia dan Bian pamit pulang dari rumah orang tua Mia.


"Jangan lupa untuk mengajak Bian ke pesta perusahaan Alexander minggu depan, Mia," pesan papa Andri sebelum pasangan itu berpamitan.


"Iya, Pa. Mia ingat. Mia akan datang bersama Bian," jawab Mia sedikit malas.


"Hati-hati menyetir, Mia. Apa kamu mau bawa supir papa saja?" Mama Alin terlihat khawatir.


"Tidak perlu berlebihan, Ma. Mia akan baik-baik saja. Kafe Bian dan apartemen Mia jaraknya juga tidak terlalu jauh," sahut Mia seraya mengibaskan tangan.


Mamanya ini selalu saja khawatir berlebihan.


Bian tertawa kecil.


"Saya akan menjaga Mia, Tante," timpal Bian mencoba menenangkan mama Alin.


"Baiklah kalau begitu. Sering-seringlah mampir ke sini, Bian," ujar mama Alin seraya menepuk lembut punggung Bian.


Bian hanya mengangguk.


Setelah berbasa-basi dan berpamitan, Bian dan Mia segera meninggalkan kediaman orang tua Mia.


Tak ada obrolan selama perjalanan pulang. Bian dan Mia seakan larut dalam pikiran masing-masing. Hanya suara musik dari mobil Mia yang menemani perjalanan dua manusia tersebut.


Hingga tak terasa, mobil sudah sampai di depan kafe Bian.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang, Nona kaya," Bian sedikit berbasa-basi sebelum turun dari mobil mewah Mia.


"Kapan kau akan mulai membuka kafemu kembali?" Tanya Mia mengalihkan topik pembicaraan.


Bian mengendikkan bahu,


"Aku masih harus mencari beberapa karyawan baru karena yang kemarin sudah banyak yang mengundurkan diri. Jadi paling cepat minggu depan kafe ini baru bisa aku buka," jawab Bian yang tak jadi turun dari mobil Mia.


"Kau bisa memakai kartu kredit yang aku berikan kemarin untuk keperlun kafemu. Anggap saja sebagai bayaran karena kamu sudah bersikap baik malam ini," ujar Mia tanpa melihat ke arah Bian.


Nona direktur itu membuang pandangannya ke arah jalan yang ada di hadapannya.


"Kau serius? Terima kasih banyak, Nona Mia," ucap Bian berbinar senang.


"Tapi ingat! Aku memeriksa semua detail tagihannya. Jadi jangan membeli sampah yang tidak berguna, kalau kau tidak mau kehilangan kartu itu!" Tegas Mia seraya menatap tajam dan menuding ke arah Bian.


"Aku mengerti, Nona Mia. Apa aku bisa turun sekarang?" Jawab Bian bersungguh-sungguh.


"Memangnya siapa yang menahanmu di sini? Turun sana! Aku juga mau pulang," usir Mia seraya mengibaskan tangan pada Bian.


Dan tanpa menunggu lagi, Bian segera membuka pintu mobil dan turun dari mobil Mia.


Sesaat setelah Bian turun, Mia langsung tancap gas meninggalkan Bian yang melongo.


Tadinya Bian baru akan melambaikan tangan pada nona direktur itu, tapi malah gadis itu sudah kabur bak di kejar setan.


Dasar nona direktur aneh!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan vote 💕


__ADS_2