Nona Mia

Nona Mia
BOSS ROYAL?


__ADS_3

Senin pagi,


Anggi buru-buru berdiri dari duduknya saat melihat nona Mia yang baru saja keluar dari lift.


"Selamat pagi, nona Mia" sapa Anggi sambil menunduk saat Mia melewati meja kerjanya.


Mia berhenti sebentar di depan meja Anggi dan menaruh dua paperbag besar ke atas meja tersebut.


"Berapa banyak bajumu yang seperti itu di lemari?" Tanya Mia sambil menunjuk ke arah setelan baju kerja yang di kenakan Anggi.


Sekilas warnanya memang sudah pudar dan terlihat lama.


Ya, baju-baju itu memang baju lama.


Anggi bukan nona kaya seperti nona Mia yang bisa sesuka hati membeli baju kerja mahal. Banyak kebutuhan yang harus Anggi penuhi dengan gajinya daripada membeli baju kerja baru.


"Ada empat stel, nona" jawab Anggi ragu-ragu.


Anggi sadar, mungkin nona Mia mearsa malu karena penampilan Anggi.


Ah, sebaiknya Anggi merencanakan untuk membeli setelan blouse baru saat gajian nanti.


Semoga nona Mia mau mengerti.


"Buang semuanya!" Perintah Mia sambil menatap tajam pada Anggi.


"Ta... tapi nona. Hanya baju-baju ini yang saya miliki. Saya akan membeli yang baru saat gajian nanti" jawab Anggi sambil menunduk.


Anggi sungguh berharap bosnya akan memahami keadaannya saat ini.


Mia bersedekap,


"Buka paperbag itu!" Perintah Mia sambil menunjuk dua paperbag besar diatas meja Anggi dengan dagunya.


Anggi sedikit ragu, namun akhirnya Anggi membukanya. Anggi tidak mau membuat nona Mia marah atau menggebrak mejanya lagi.


Anggi memeriksa isi paperbag tersebut dan menemukan beberapa setel baju kerja yang sepertinya masih baru.


"Ini...ini baju kerja siapa, nona?" Tanya Anggi takut-takut.


"Aku ingin kamu membuang semua baju lamamu dan menggantinya dengan semua yang ada di paperbag itu. Aku tidak mau sekretarisku terlihat lusuh dan miskin. Itu memalukan" ucap Mia pedas.


Namun meskipun kalimat terakhir terdengar pedas, Anggi memilih untuk mengabaikannya.


Sekilas ada ketakutan di hati Anggi.


Mungkinkah nona Mia membelikannya baju baru sekarang, tapi nanti saat gajian bulan depan, Anggi tidak akan menerima gaji?


Karena sekilas Anggi sempat melihat bandrol harga yang masih ada di baju-baju di dalam paperbag tersebut.


Harganya sungguh membuat Anggi sesak nafas.


Brandnya pun dari salah satu butik ternama di kota ini. Jadi wajar jika harganya selangit.


Mungkin gaji Anggi setahun tidak akan cukup untuk membayar baju-baju ini.


"Terima kasih, nona Mia. Saya siap di potong gaji untuk membayar baju-baju ini" jawab Anggi sambil menunduk.


Meskipun dalam hati Anggi menjerit, mengingat gajinya yang akan habis hanya untuk membayar baju-baju mahal ini.


"Apa katamu barusan?" Mia melotot tajam ke arah Anggi yang masih menunduk takut.


Mia tak mengerti kenapa sekretaris barunya ini begitu lugu dan polos?


"Saya siap di potong gaji, nona. Untuk membayar baju-baju ini" jawab Anggi sekali lagi.


Gadis itu sepertinya masih takut untuk melihat wajah sang nona CEO yang kini sudah merah menahan marah.


"Apa kamu pikir aku ini tukang kredit baju yang suka meminta uang cicilan setiap bulan?" Mia menggebrak meja Anggi membuat gadis itu terlonjak kaget.


'Astaga! Apa aku salah bicara?' Anggi merutuki dirinya sendiri yang selalu salah saat berbicara pada nona Mia.


"Maaf, nona. Saya tidak mengatakan seperti itu" Anggi mencoba membantah.


"Kau mengatakannya barusan! Kau bilang apa? Akan membayar semua baju-baju ini?" Mia menuding ke arah Anggi.


Gadis itu terlihat semakin mengkeret ketakutan.


"Sa...saya minta maaf nona" cicit Anggi terbata-bata.


"Pake baju itu dan segera buang baju-baju lusuhmu! Dan perbaiki juga penampilanmu agar tidak membuatku malu" Mia berkata dengan menekankan setiap kata di dalam kalimatnya.


"Ba...baik nona Mia" jawab Anggi masih sambil menunduk ketakutan.

__ADS_1


"Dan jangan pernah berpikir untuk membayar semua baju itu. Aku bukan orang miskin, dan baju itu juga hanyalah baju yang murah harganya" pungkas Mia dengan nada pongah.


Wanita itupun segera berlalu dari hadapan sekretarisnya itu dan masuk ke dalam ruangannya.


"Terima kasih nona Mia" Anggi bahkan lupa mengucapkan terima kasih sedari tadi.


Setelah Mia tidak terlihat lagi, buru-buru Anggi memeriksa baju-baju tadi. Ia ingin memastikan kalau harga baju-baju itu memang murah.


Namun setelah memeriksanya lagi, Anggi nyaris tidak bisa bernafas sekarang.


Jika semua baju itu harganya di jumlahkan, mungkin Anggi sudah bisa membeli sepeda motor baru.


Ya Tuhan...


Apa ini sebuah rezeki tak terduga?


Nona Mia mungkin memang ketus dan sombong, namun wanita itu ternyata dermawan dan royal kepada karyawan baru seperti Anggi.


Ah, Anggi sekarang bertekad untuk mengabdi sepenuhnya pada nona Mia.


*****


Sudah hampir sebulan, Anggi bekerja menjadi sekretaris nona Mia.


Kini gadis itu sudah hafal apa-apa yang harus ia kerjakan. Anggi sudah jarang membuat kesalahan.


Meskipun sikap nona Mia tak pernah berubah, namun sekarang Anggi sudah mulai terbiasa.


Kata-kata ketus nona Mia selalu Anggi anggap sebagai angin lalu. Toh dibalik semua sikap ketus dan sombongnya tersebut, Nona Mia ternyata adalah orang yang royal dan tidak pelit.


Bulan ini saja Anggi sudah mendapatkan lima tas branded dari Nona Mia.


Kata nona Mia itu hadiah dari para koleganya. Namun karena nona Mia tidak menyukainya, jadi nona Mia memberikannya pada Anggi ketimbang hanya menjadi sampah di apartemen mewahnya.


Dan nona Mia tak pernah menanyakan barang-barang yang pernah ia berikan pada Anggi. Entah Anggi menjualnya, entah Anggi memakainya, nona Mia tak peduli.


Yang terpenting bagi nona Mia adalah penampilan Anggi yang harus selalu rapi dan tidak memalukan saat harus mendampingi nona Mia bertemu klien dari perusahaan lain.


Anggi masih berkutik dengan layar imac di depannya, saat seorang pria paruh baya keluar dari lift dan menyapa Anggi.


"Selamat siang" sapa pria tersebut.


Anggi buru-buru beranjak dari duduknya dan menjawab sapaan dari pria paruh baya tersebut.


"Selamat siang, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Jawab Anggi sopan.


"Iya, tuan. Saya baru sebulan bekerja disini" jawab Anggi lagi.


Dalam hati Anggi masih bertanya siapa pria paruh baya ini?


Kenapa memanggil nona Mia dengan sebutan Mia saja.


Semua yang ada di kantor ini termasuk semua klien yang datang selalu memanggil nona CEO itu dengan sebutan nona Mia.


Mana ada yang berani memanggilnya dengan nama saja tanpa embel-embel 'nona'?


Pria paruh baya itu tersenyum hangat.


"Semoga kamu betah ya, bekerja di sini." Ujar pria itu masih tersenyum hangat.


"Apa Mia ada di dalam?" Lanjut pria tersebut menanyakan dimana Mia.


"I...iya Tuan. Nona Mia ada di dalam. Saya akan menghubunginya dulu sebelum tuan menemuinya" jawab Anggi cepat. Gadis itu sudah meraih gagang telpon di atas meja.


"Tak apa. Saya akan langsung masuk. Oh ya, saya Andri, papanya Mia" ujar pria itu yang sontak langsung membuat Anggi salah tingkah.


Bagaimana bisa Anggi tidak tahu kalau itu adalah papa dari nona Mia.


"Maaf tuan, saya tidak tahu" Anggi menunduk berulang kali seraya merutuki dirinya sendiri yang tak mengenali papa dari atasannya tersebut.


Namun Andri hanya tersenyum dan segera berlalu masuk ke ruangan nona Mia.


*****


Mia sedang memandang ke luar jendela besar itu, saat Papa Andri masuk ke dalam ruangannya.


Mia buru-buru menoleh saat mendengar pintu yang terbuka,


"Papa?" Ucap Mia tak percaya. Gadis itu segera menghampiri papa Andri dan memberikan pelukan hangat.


"Kapan kembali?" Tanya Mia berbasa-basi.


Papa Andri memang pergi ke luar kota beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Baru saja, dan papa langsung ke sini" jawab papa Andri tersenyum hangat.


Mia mengajak sang papa untuk duduk di sofa.


"Kamu ganti sekretaris lagi?" Tanya Papa Andri membuka obrolan.


Mia hanya mengendikkan bahu.


"Yang sebelumnya mengundurkan diri jadi aku terpaksa mencari yang baru" jawab Mia sekenanya.


Papa Andri menghela nafas, putrinya yang satu ini selalu saja bermasalah dengan sekretarisnya.


"Mia, bisakah kamu tidak terlalu ikut campur denga urusan pribadi karyawan kamu. Mereka juga butuh privasi" papa Andri mulai memberikan nasrhat bijak.


Andri sendiri tidak tahu sejak kapan Mia jadi seperti sekarang ini.


Galak, ketus, dan sombong.


Andri rasa sejak gadis itu berhasil membuat perusahaan kecil pemberian sang kakek menjadi sebesar sekarang ini, sifat Mia langsung banyak berubah.


Apa mungkin putrinya ini tertekan dengan semua tanggung jawab yang harus ia pikul selama ini.


Mendadak Andri jadi ingat Alina saat dulu juga menjadi CEO dan wanita yang sekarang menjadi istrinya tersebut juga sering ngomel dan marah-marah tak jelas kepadanya.


Mia berdecak dan menatap tajam ke arah wajah sang papa.


"Aku tidak pernah ikut campur, papa. Mereka saja yang mengada-ada" sangkal Mia membela diri.


Andri menghela nafas sekali lagi.


Berdebat dengan Mia sepertinya tidak akan habisnya.


Putrinya ini selalu bisa menyangkal dan mencari alasan.


"Baiklah, baiklah kita sepertinya tidak perlu membahas yang itu" Andri akhirnya menyerah.


"Papa hanya ingin tanya tentang proyek kita di kota Jogja. Apa kamu sudah ke sana untuk meninjaunya?" Tanya papa Andri mengalihkan topik pembicaraan.


"Pekan depan aku baru akan pergi" jawab Mia enteng.


"Itu proyek besar, Mia. Kamu pergi sendiri, kan?" Papa Andri memastikan sekali lagi.


"Iya, papaku sayang. Mia sendiri yang akan meninjau dan melihatnya langsung" jawab Mia berlebihan, membuat papa Andri tergelak.


"Baiklah. Hubungi papa saat kamu sudah siap berangkat." Pesan papa Andri.


Mia mengerutkan dahinya.


"Apa papa khawatir sama Mia sekarang? Mia sudah dewasa, Pa. Mia bisa menjaga diri sendiri" Mia sekali lagi mengingatkan sang papa.


Papa Andri berdecak.


"Kamu tetap putri kecil Papa sampai kapanpun" papa Andri mengacak puncak kepala putri sulungnya tersebut yang sukses membuat Mia mencebik sekaligus kesal.


Papa Andri melihat arlojinya,


"Sudah jam makan siang. Apa kamu ada janji dengan klien?" Tanya papa Andri.


Mia menggeleng,


"Apa papa mau mengajak Mia makan siang bersama?" Tebak Mia


"Kita sudah lama tidak makan siang bersama, Mia. Ayo!" Papa Andri merangkul putrinya tersebut untuk selanjutnya keluar dari ruang kerja Mia.


Anggi langsung beranjak dari duduknya saat melihat nona Mia dan tuan Andri yang keluar dari dalam ruang kerja.


"Anggi, ada jadwal apa aku siang ini?" Tanya Mia pada sekretarisnya tersebut.


"Jam tiga ada meeting, nona" jawab Anggi cepat.


"Baiklah. Aku akan makan siang di luar. Kau bisa bersantai sampai jam tiga" ujar Mia sambil berlalu meninggalkan meja sekretarisnya tersebut.


Mia menggamit lengan sang ayah dan bersenda gurau sebelum masuk ke dalam lift dan meninggalkan lantai tersebut.


Anggi tak tahu jika nona Mia yang ketus ternyata sangat dekat dengan ayahnya.


Ah, Anggi jadi ingat ayahnya yang telah berpulang satu tahun yang lalu.


Sebuah titik balik yang membuat Anggi harus kerja banting tulang demi membayar hutang-hutang untuk pengobatan ayahnya.


Seharusnya tahun ini Anggi sudah menikah dengan David, namun Anggi tak sampai hati membiarkan ibunya bekerja keras demi melunasi hutang-hutang tersebut.


Beruntung, David mau mengerti dan tak keberatan menunda pernikahan mereka setahun lagi.

__ADS_1


Semoga tahun depan hutang-hutang itu sudah lunas, sehingga Anggi bisa secepatnya resign dari perusahaan ini dan segera menikah dengan David.


Saat ini Anggi terpaksa menjalin hubungan jarak jauh dengan David. Rencananya nanti setelah menikah Anggi baru akan ikut David ke tempat dinas David saat ini yang ada di pulau lain.


__ADS_2