
Bian masih mondar-mandir di depan ruang UGD rumah sakit. Sudah cukup lama Bain menunggu, namun belum ada kabar apapun mengenai Dea.
Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu?
Dea baik-baik saja sejak kemarin, tapi mendadak gadis itu wajahnya pucat dan hidungnya mimisan lalu jatuh pingsan.
Wajah Dea memang selalu pucat sejak Bian pertama kali berjumpa dengan gadis itu. Tapi seharian ini wajah pucat itu terlihat semakin jelas saja.
Apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh Dea?
"Nak Bian, apa yang sudah terjadi?" Ibu Inge, yang merupakan ibu asuh di panti asuhan tempat tinggal Dea tergopoh-gopoh menghampiri Bian.
Raut kekhawatiran tampak jelas di wajah wanita paruh baya tersebut.
"Dea tiba-tiba mimisan dan pingsan di kafe, Bu," Bian mencoba menjelaskan.
Seorang dokter keluar dari ruang UGD dan segera menghampiri ibu Inge.
"Apa Dea tidak terapi lagi beberapa bulan ini?" Tanya dokter tersebut dengan raut wajah serius.
Bian yang ikut mendengar pertanyaan dokter mengernyit tak mengerti.
Terapi?
Terapi apa?
"Dea memutuskan berhenti terapi sejak bekerja di kafe," jawab bu Inge dengan nada lesu.
"Terapi apa, Bu? Memangnya Dea sakit apa?" Bian tidak tahan lagi untuk tidak bertanya.
Bu Inge menatap prihatin pada Bian,
"Dea sakit leukimia, Bian. Apa Dea belum menceritakannya kepadamu?" tanya bu Inge menyelidik.
"Apa?" Bian langsung terduduk di kursi panjang yang ada di belakangnya.
Seketika dunia Bian terasa runtuh, tulang-tulangnya seakan dilolosi dari raganya.
Deanya?
Dea yang sangat Bian cintai.
Kenapa harus Dea?
Bu Inge sudah duduk di samping Bian dan menepuk punggung pemuda tersebut,
"Sudah lama ibu ingin menceritakan ini semua kepadamu, Bian. Tapi Dea selalu mencegahnya..." wanita paruh baya itu menghela nafas panjang.
"Dea selalu mengatakan kalau dia sendiri yang akan menceritakan semuanya kepadamu," lanjut bu Inge lagi.
"Dea tidak pernah bercerita apapun, Bu. Kenapa Dea merahasiakan ini semua dari Bian?" Bian mengacak rambutnya sendiri karena merasa frustasi.
"Kankernya sudah masuk stadium akhir. Seharusnya Dea sudah di rawat sejak satu bulan yang lalu. Tapi gadis itu sepertinya keras kepala sekali," dokter yang masih berdiri di dekat Bian dan bu Inge ikut memberi penjelasan.
Bian semakin menundukkan kepalanya. Butir bening sudah menggenang di kedua mata pemuda itu.
Bian tidak mau kehilangan Dea.
Dea harus sembuh!
Pernikahan Bian dan Dea tinggal menghitung hari.
Tidak!
__ADS_1
Bian tidak akan kehilangan Dea.
Dea pasti sembuh dan menikah dengan Bian.
"Dokter, pasti ada cara untuk menyembuhkan Dea. Katakan kalau Dea pasti sembuh dokter!" Bian sudah mencengkeram ujung kerah dokter dengan penuh emosi.
"Maaf, Bian. Tapi kami tidak bisa berbuat banyak. Peralatan di rumah sakit ini terbatas," ucap dokter tadi dengan nada menyesal.
"Mungkin kalian bisa membawa Dea ke rumah sakit lain yang lebih lengkap fasilitasnya." imbuh sang dokter memberi saran.
Bian kembali terduduk di kursi tunggu. Pria itu berulangkali menyugar rambutnya karena frustasi.
*****
Bian sudah sampai di gedung kantor Mia.
Setelah diskusi panjang bersama Steve dan dokter yang menangani Dea, akhirnya Bian memutuskan akan membawa Dea ke rumah sakit lain di luar kota yang fasilitasnya lebih lengkap.
Kata Steve itu butuh biaya yang tidak sedikit. Dan Bian sudah bertekad untuk minta bantuan pada Mia.
Bian akan minta maaf dan bersujud di kaki nona direktur itu kalau perlu.
Mia pasti marah pada Bian karena sikap Bian tempo hari. Tapi tak masalah, Bian akan membujuk Mia agar mau membantunya.
Lift yang mengantar Bian sudah sampai di lantai teratas dari gedung tersebut. Bergegas Bian keluar.
"Pagi, Adel. Apa Nona Mia ada?" Bian menyapa sekretaris Mia dengan cepat.
"Selamat pagi, Pak Bian. Maaf tapi nona Mia tidak ke kantor hari ini," jawab Adel sopan.
"Apa dia di apartemennya?" Tanya Bian sekali lagi.
"Nona Mia sedang ada urusan keluar kota selama satu pekan. Mungkin pekan depan beliau baru kembali," jelas Adel masih dengan sikap sopan.
"Apa? Dia dimana memangnya?" Sergah Bian mulai tak sabar.
"Nona Mia tidak mengatakan apapun, Pak." Jawab Adel masih menggeleng.
Bian meraih ponselnya dan segera menghubungi nomor Mia.
Tidak tersambung.
Sial!
Apa nona direktur itu memblokir nomor Bian?
"Kau bisa menghubunginya? Ada hal penting yang harus aku sampaikan," pinta Bian sedikit memohon.
Gadis sekretaris itu bergegas menghubungi nomor Mia melalui telepon kantor.
"Tidak tersambung, Pak. Sepertinya ponsel nona Mia sedang tidak aktif," ujar Adel dengan nada prihatin.
Bian menghela nafas kasar dengan kasar. Pria itu menyugar rambutnya dengan kasar lalu memijit pelipisnya untuk melampiaskan rasa kecewa di hatinya.
Tiba-tiba ponsel Bian berdering. Eve menelpon,
"Halo, Eve ada apa?" Sergah Bian cepat.
"Kak Dea sudah sadar, Bang. Cepatlah kemari!" Sahut Eve di seberang sana.
"Baiklah abang ke sana sekarang," jawab Bian cepat.
Tanpa berpamitan pada Adel, Bian langsung bergegas masuk kembali ke lift dan turun ke lantai paling bawah. Bian ingin secepatnya sampai ke rumah sakit dan bertemu dengan Dea.
__ADS_1
*****
Tak butuh waktu lama dan Bian sudah sampai di rumah sakit, tepatnya di ruangan tempat Dea di rawat.
Bian segera duduk di samping Dea dan menggenggam erat tangan kurus calon istrinya tersebut.
Mata Dea yang semula terpejam, perlahan terbuka saat merasakan kehadiran Bian di sampingnya,
"Dea," suara Bian tercekat di tenggorokan.
Hati Bian terasa sakit melihat kondisi Dea saat ini. Kenapa gadis sebaik Dea harus menghadapi penyakit mengerikan ini?
"Bian aku mencintaimu," ucap Dea lirih nyaris tak terdengar. Namun Bian tetap bisa mendengarnya.
"Aku juga mencintaimu, Dea. Aku mencintaimu," Bian berulang kali mengecup tangan kurus Dea.
"Aku mengira kalau aku masih punya kesempatan untuk memakai gaun pengantinku. Tapi sekarang..." airmata Dea jatuh di kedua pipinya.
Dengan cepat Bian menghapus airmata tersebut.
Mata Bian sendiri sudah berkaca-kaca sekarang.
"Kau akan memakainya, Dea. Kau akan sembuh dan kita akan menikah," ucap Bian di sela-sela isak tangisnya.
Dea menggeleng lemah,
"Maafkan aku Bian. Terima kasih karena sudah mencintaiku," suara Dea terdengar semakin lirih.
"Tidak Dea. Kamu harus bertahan, sayang. Kita akan menikah saat kamu sembuh," Bian sudah tidak bisa lagi menahan airmatanya yang deras mengalir.
"Maafkan aku Bian. Semoga kamu bertemu gadis lain yang lebih baik dariku," pungkas Dea sebelum mata itu terpejam rapat.
"Dea! Bangun Dea! Jangan pergi!" Bian memeluk tubuh kurus itu dan menggoyang-goyangkannya beberapa kali, berharap Dea akan kembali bangun.
Namun Bian tahu kalau itu semua hanya sia-sia.
Dea sudah pergi sekarang. Dea sudah pergi meninggalkan dunia ini.
Dea sudah pergi meninggalkan semua mimpi indahnya untuk menikah dengan Bian, pria yang begitu di cintainya.
Kini hanya tersisa Bian yang meratapi kepergian Dea, calon istrinya.
Kenapa takdir ini begitu kejam?
Kenapa kebahagiaan yang baru saja Bian rasakan sudah harus menguap pergi saat Bian tinggal menghitung hari menuju hari pernikahannya bersama Dea?
Kenapa takdir harus sekejam ini?
Kenapa?
.
.
.
Impas ya.
Mia patah hati karena cintanya ditolak, Bian juga patah hati karena calon istrinya meninggal.
Thor, habis ini Bian dan Mia bersama trus menikah berarti thor?
Hohoho tidak secepat itu marimar, konflik masih panjang.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕