
Sabtu pagi,
Mia datang ke kantor dengan raut wajah tidak senang. Sejak kembali dari kafe Bian kemarin, wajah nona direktur itu terlihat semakin mengerikan saja. Sikapnya juga uring-uringan tidak jelas. Seperti ada amarah yang tengah dipendam oleh nona Mia.
Bahkan beberapa karyawan sempat mendapat semprotan kemarahan dari Mia tanpa mereka tahu apa kesalahan mereka.
Adel yang tak sengaja menjatuhkan berkas dari meja nona Mia juga langsung mendapat luapan kemarahan dari nona direktur tersebut.
Entahlah, mungkin nona Mia memang sedang PMS.
"Selamat siang, kakakku yang kaya!" Suara Kyara yang tiba-tiba muncul di ruangan Mia membuat nona direktur itu tersentak kaget.
Sejak kapan Kyara pulang ke negara ini?
Apa dia membolos kuliah?
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya kau sedang kuliah di negeri sebrang?" Tanya Mia ketus.
"Astaga! Kakakku yang belum laku masih saja ketus dan berbicara pedas. Aku sedang menikmati liburanku, Kak Mia!" Kyara sudah merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan Mia.
Kenapa gadis ini semakin mengesalkan saja?
"Apa kau ingin minta uang untuk membeli sampah-sampah yang ada di mall lagi?" Tebak Mia yang kini berdiri bersedekap seraya bersandar di meja kerjanya.
Kyara tersenyum mengejek,
"Aku gadis yang mandiri sekarang, kakakku yang kaya. Aku sudah pandai mencari uang sendiri. Kakak mau aku traktir?" Tukas Kyara dengan nada pongah.
Mia berdecak seakan tak percaya.
"Memangnya kau berbisnis apa, nona muda?" Tanya Mia sinis.
Kyara mengeluarkan ponselnya, mengutak-atiknya sebentar lalu menunjukkannya pada Mia.
"Lihat! Barang-barang yang selalu kakak sebut sebagai sampah berhasil aku jual dan kini menjadi sumber pundi-pundi keuanganku," jawab Kyara masih dengan nada pongah.
Mia dengan cepat mengambil ponsel Kyara dan memeriksa dengan seksama,
"Kau pandai juga ternyata," puji Mia pada adik sambungnya tersebut.
Kyara hanya tersenyum simpul.
"Dan aku ke sini karena ingin menagih janji kakak yang akan memberikanku satu apartemen mewah," lanjut Kyara lagi.
Mia mengernyit bingung,
"Memangnya kapan aku membuat janji itu?" Tanya Mia sedikit bingung.
"Tidak perlu berpura-pura, kakakku yang kaya. Kau sudah berpacaran dengan pria brengsek bernama Bian sekarang, jadi kau harus membelikanku sebuah apartemen mewah," jawab Kyara seraya beranjak dari duduknya.
Gadis itu mendekat ke arah meja kerja Mia dan melihat sebuah foto yang terpajang di atas meja kerja Mia. Itu adalah foto Kyara bersama Mia yang diambil sekitar satu tahun yang lalu saat keluarga mereka tengah berlibur.
Mia tertawa kecil,
__ADS_1
"Aku tidak berpacaran dengan Bian, Kya! Itu hanya pacaran pura-pura agar mama dan papa tidak menjodohkanku," jawab Mia masih terkekeh.
"Lalu kenapa harus Bian? Kakak selalu bilang kalau Bian itu pria paling brengsek di dunia. Tapi sekarang kakak malah menjadikannya pacar sewaan. Apa kakak sudah jatuh cinta pada Bian sekarang?" Cecar Kyara dengan nada mengejek.
"Aku tidak mungkin jatuh cinta pada Bian!" Bantah Mia cepat.
"Oh ya? Kakak yakin?" Kyara masih tak berhenti menggoda Mia.
"Sudahlah! Pulang sana! Kau mengganggu pekerjaanku!" Sahut Mia mulai kesal. Nona direktur itu kembali menghenyakkan dirinya di kursi kebesarannya dan pura-pura fokus pada layar laptop di hadapannya.
"Aku akan duduk di ruangan kakak yang mewah ini saja. Menunggu hingga kakak selesai bekerja, agar aku bisa pulang bersama kakakku yang kaya dan sombong," timpal Kyara seraya duduk di kursi yang ada di hadapan meja kerja Mia.
Gadis itu kembali berkutat dengan ponsel di tangannya.
"Terserah kau saja!" Ujar Mia seraya memutar bola matanya.
*****
Bian masuk ke kafe membawa satu paperbag besar dan satu buah jas yang baru saja di antar oleh sopir nona Mia.
"Apa itu, Bian?" Tanya Dea yang masih duduk di belakang meja kasir.
Bian berhenti sejenak dan menatap wajah kekasihnya tersebut.
"Jas mahal dan semua perlengkapannya. Nona Mia kaya itu yang mengirimkannya padaku," jawab Bian seraya tersenyum.
"Jadi, apa kalian punya hubungan istimewa?" Tanya Dea seraya menumpukan dagunya di atas tangan kanannya.
Bian meletakkan jas dan paperbag yang tadi ia bawa ke atas meja kasir. Tangan pria itu terulur dan membelai pipi Dea yang tirus,
Dea tak menjawab. Gadis itu hanya mengendikkan bahu.
"Sebenarnya aku dan nona Mia yang kaya itu sedang terlibat dalam sebuah bisnis. Nona Mia membantuku menyelamatkan kafe yang nyaris bangkrut. Dan sebagai gantinya, aku harus menjadi pacar pura-pura untuk nona Mia agar kedua orangtua nona Mia tidak menjodohkannya dengan seorang pria," jelas Bian panjang lebar.
"Menarik sekali, apa kau sungguh tidak punya perasaan pada nona Mia? Dia gadis yang sempurna, Bian" timpal Dea seraya terkekeh.
"Tentu saja tidak, aku hanya mencintaimu Dea," Bian mencolek hidung gadis mungil tersebut.
"Hanya kamu yang ada di hatiku," imbuh Bian seraya meraih tangan Dea, lalu mengecupnya.
Terang saja, hal itu langsung membuat wajah Dea merona merah. Gadis itu tersipu malu karena sikap Bian yang selalu berlebihan seperti ini.
"Eheem! Yang baru kasmaran, dimana saja, kapan saja, pegangan tangan terus, " Eve yang baru tiba di kafe Bian langsung menegur pasangan yang tengah dilanda kebucinan tersebut.
Cepat-cepat Dea melepaskan tangannya dari genggaman Bian.
Dan Bian malah ganti merangkul pundak Dea.
"Hai, Eve. Senang akhirnya kau datang," sapa Bian pada adiknya tersebut dengan senyuman sumringah.
"Dimana dokter Steve, Eve?" Dea ikut menyapa Eve dan menanyakan keberadaan suami Eve.
"Steve ada urusan mendadak di rumah sakit," jawab Eve menjelaskan.
__ADS_1
Dea hanya mengangguk.
"Jadi, kalian akan pergi?" Tanya Eve selanjutnya.
"Ya, kami akan berkencan menikmati malam minggu," jawab Bian cepat. Mata pria itu terlihat berbinar senang.
Eve ikut tersenyum bahagia.
Baru kali ini Eve melihat abang Bian begitu bahagia.
Sejak abangnya ini memutuskan untuk menjalin hubungan serius bersama kak Dea, Eve langsung mendukungnya. Kak Dea adalah gadis yang baik hati dan penyayang. Dan berkat kak Dea juga, abang Bian selalu tersenyum sumringah setiap hari.
Binar kebahagiaan selalu nampak di wajah abang Bian belakang ini.
"Aku akan bersiap-siap dulu," pamit Dea seraya berlalu naik ke tangga dan menuju lantai dua kafe.
Eve mengedarkan pandangannya dan tak sengaja melihat jas serta paperbag yang ada di atas meja kasir.
"Apa ini, Bang? Apa abang masih berkencan dengan nona Mia?" Tanya Eve dengan nada tidak senang.
"Aku tidak berkencan, Eve! Aku hanya menemani nona kaya itu ke pesta perusahaan. Ini bagian dari perjanjian yang kami buat," sangkal Bian membela diri.
Eve berdecak,
"Pikirkan perasaan kak Dea, Bang! Kak Dea itu pacar abang. Dia pasti cemburu melihat abang pergi ke pesta bersama nona Mia, meskipun itu hanya pura-pura," sergah Eve masih keberatan.
"Aku sudah menjelaskan semuanya pada Dea, Eve! Dan Dea paham dengan keadaanku sekarang. Aku juga tidak bisa berbuat banyak. Nona Mia sudah melunasi semua hutangku di bank," ujar Bian sekali lagi.
Eve mendengus.
Dea sudah turun kembali. Gadis itu terlihat segar dengan rambut yang diikat ala ekor kuda dan poni yang menutupi dahinya.
"Kau tidak keberatan kan, berjaga sendirian di kafe ini?" Bian bertanya sekali lagi pada Eve.
"Tentu saja tidak. Steve akan menyusul ke sini setelah urusannya selesai," jawab Eve dengan nada santai.
"Kalian bersenang-senanglah!" Imbuh Eve lagi seraya tersenyum lebar.
"Ayo, Dea!" Bian merangkul kekasihnya tersebut dan segera berlalu menuju pintu keluar kafe.
"Bye Eve!" Dea melambaikan tangan pada Eve sebelum meninggalkan kafe.
Eve balas melambaikan tangan ke arah Dea dan Bian.
Bukankah mereka adalah pasangan yang serasi?
Eve bergumam dalam hati.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen dan vote 💕