Nona Mia

Nona Mia
SURAT PERJANJIAN KOSONG


__ADS_3

Tengah hari, Bian pulang untuk melihat keadaan Mia.


Semoga gadis itu sudah berhenti merajuk.


"May, aku pulang" sapa Bian sambil membuka pintu depan.


Tidak terkunci.


Bian masuk ke dalam rumah. Ruang depan kosong. Bian lanjut melongok ke dalam kamar Eve, kosong juga.


Kemana nona kaya itu?


"Hai, Mas. Sudah pulang?" Mia yang baru datang dari pintu depan menyapa Bian yang tampak kebingungan.


Wajah gadis itu terlihat sumringah, sangat berbeda dengan Mia tadi pagi yang cemberut dan merajuk.


"Kamu darimana, May?" Tanya Bian sedikit curiga.


"Main. Ke rumah pemilik kontrakan. May bosan mas di rumah," jawab Mia santai.


Gadis itu segera duduk di karpet yang ada di ruang depan dan membuka bungkusan yang tadi di bawa Bian.


Ada dua nasi bungkus dan beberapa biji gorengan.


"Apa ini untuk May?" Tanya Mia sambil menatap ke arah Bian.


"Ya. Itu makan siang untukmu. Aku pikir mungkin kamu belum makan karena tadi pagi aku lupa tidak memberimu uang untuk belanja" jawab Bian panjang lebar.


Mia tersenyum simpul,


"Baiklah. Ayo kita makan!" Mia sudah membuka bungkusan nasi itu.


Bian ikut duduk dan makan bersama Mia.


Ini aneh. Tadi pagi gadis ini marah pada Bian, tapi kenapa siang ini wajahnya sudah berubah sumringah begini.


Sesaat Bian merasa khawatir.


Apa yang dikatakan pemilik kontrakan ini pada Mia, hingga gadis ini langsung berubah sikap secepat ini?


"May, kamu masih marah?" Tanya Bian sedikit ragu.


Mia menggeleng dengan cepat.


"Maaf atas sikap May tadi pagi, Mas." Ucap Mia seraya menepuk bahu Bian.


Bian semakin merasa curiga.


Apa sebenarnya yang terjadi pada nona kaya ini?


Mendadak suasana di ruangan itu menjadi hening. Bian dan Mia menikmati nasi bungkus mereka dalam diam. Sepertinya dua orang itu sibuk dengan pikiran masing-masing.


Setelah menghabiskan nasi bungkusnya, Bian mengeluarkan sebuah map dari dalam tas yang ia bawa.


"May, apa kamu bisa tanda tangan di sini?" Bian menyodorkan dua lembar kertas kosong dengan materai di bagian bawahnya.


Mia mengernyit bingung,


"Apa ini, Mas?" Tanya Mia tak mengerti.


"Surat perjanjian dengan perusahaan tempatku bekerja" jawab Bian berbohong.

__ADS_1


"Tapi kertas ini kosong, Mas! Mana isi perjanjiannya?" Tanya Mia tak percaya.


Bian menghela nafas,


"Iya aku belum sempat menulisnya, May. Yang penting kamu tanda tangan dulu, nanti aku akan menulisnya saat ada waktu." Dusta Bian sekali lagi.


Tentu saja Bian punya sebuah rencana licik dengan kertas bermaterai ini.


"Kamu mau menulis perjanjian yang kemarin itu pasti. Kamu mau menipuku, Mas!" Tuduh Mia cepat.


Skakmat!


Bian langsung kehilangan kata-kata setelah tuduhan yang Mia lontarkan barusan.


"Maymunah sayang, aku tidak menipumu. Aku mencintaimu, mana mungkin aku akan menipumu. Kamu istri kesayanganku, May!" Bual Bian dengan nada penuh kebucinan.


Demi apapun, Bian tidak serius dengan kata-katanya barusan. Itu hanya sebuah bualan dan omong kosong.


Lagipula, Bian tidak mungkin mencintai gadis sombong dan galak sejenis Mia.


Lebih baik Bian jomblo seumur hidup ketimbang harus menikah dengan nona kaya yang galak dan baperan ini.


Mia menghela nafas,


"Baiklah, aku mau sebuah bukti kalau mas Bian memang benar-benar mencintaiku" ujar Mia akhirnya yang langsung membuat Bian menjadi pucat.


Ah, tapi bukan Bian namanya kalau langsung menyerah begitu saja. Bian akan menerima tantangan dari nona kaya ini, demi dua buah tanda tangan.


"Kamu mau bukti apa, May?" Bian merangkulkan lengannya ke pundak Mia.


"Sentuh aku, Mas" jawab Mia sambil menatap tajam ke arah netra milik Bian.


Sesaat, Bian membeku mendengar jawaban dari Mia barusan.


Bian tidak bisa melakukannya.


Bian dan Mia bukanlah pasangan suami istri.


Dan Bian ingin tetap menjaga keperjakaannya hingga ia menikah nanti.


"May, aku bukannya menolakmu. Tapi kamu tahu sendiri, sakitku belum sembuh. Aku tidak mau kamu ikut tertular." Bian sekali lagi berbohong dan menurunkan harga dirinya demi tanda tangan konyol dari nona direktur ini.


Ah, masabodoh.


Saat nanti ingatan nona kaya ini kembali, Bian yakin kalau Mia tidak akan mengingat pernyataan Bian yang satu ini.


"Baiklah, cium aku kalau begitu" Mia memberikan alternatif.


"Mmmuahh" Bian langsung mencium kening Mia tanpa basa-basi.


Namun bukannya senang, Mia malah merengut sambil bersedekap.


"Ciuman macam apa itu, Mas?" Tanya Mia dengan nada galak.


Bian memasang wajah polos,


"Kamu ingin di cium, aku menciummu. Salahnya di mana?" Tanya Bian masih pura-pura polos.


Mia berdecak,


"Aku istrimu, bukan adikmu. Dan seorang suami tidak mencium istrinya seperti itu" tukas Mia mulai geram.

__ADS_1


"Jadi?" Bian masih saja berpura-pura tak paham. Padahal dalam hati Bian sudah mengumpat berulang kali dan tentu saja Bian paham kalau yang di maksud nona kaya ini adalah sebuah ciuman di mana bibirnya dan bibir nona kaya ini saling menempel.


Oh, ayolah. Bian pria dewasa yang sebenarnya juga sudah paham dengan hal-hal seperti itu. Meskipun jujur, Bian belum pernah mempraktekkannya.


Ya, Bian belum pernah punya pacar dan memang dirinya tidak ada niat untuk berpacaran. Karena menurut Bian mempunyai seorang pacar itu hanyalah sebuah pemborosan. Wanita jaman sekarang selalu identik dengan shopping dan makan-makan. Dan Bian tidak mau uangnya habis hanya untuk hal-hal tidak berfaedah sejenis itu.


Tapi mungkin jika disuruh berpacaran dengan nona kaya seperti Mia, Bian tak akan keberatan. Setidaknya Bian bisa memanfaatkan atau meminta sedikit uang kepada pacarnya jika pacarnya adalah seorang gadis yang kaya raya.


Mia kembali berdecak. Sepertinya gadis itu mulai kesal.


"Baiklah, aku rasa aku tidak perlu menandatangani surat kosong bodoh itu." ucap Mia sambil berlalu dari hadapan Bian dan melemparkan kertas yang tadi di sodorkan oleh Bian.


Bian mengusap wajahnya dengan kasar.


'Baiklah, aku tidak akan kehilangan keperjakaan hanya karena mencium nona kaya itu, kan? Baiklah, baiklah. Kendalikan dirimu, Bian!' Bian tak berhenti menggerutu dalam hati.


"May!" Bian memegang bahu Mia, sebelum gadis itu berlalu semakin jauh.


Tanpa aba-aba dan tanpa persetujuan dari Mia, Bian segera saja menarik Mia ke dalam pelukannya dan menempelkan bibirnya sendiri ke atas bibir Mia yang merah merekah tersebut.


Tentu saja Mia kaget dengan tindakan Bian yang tiba-tiba itu. Namun akhirnya, Mia memilih untuk menikmatinya.


Mia mengalungkan kedua lengannya di leher Bian dan menikmati sentuhan hangat bibir Bian.


Apa Mia egois jika berharap ciuman ini tidak segera berakhir?


Cukup lama keduanya saling berpagut, hingga akhirnya Bian memilih untuk mengakhiri ciuman terkutuk ini.


Ah, sial! Hanya ciuman dan salah satu bagian tubuh Bian langsung terasa panas dan meronta hebat. Bian benar-benar harus mengumpat beberapa kali.


Jangan sampai setelah ini Bian benar-benar meniduri nona kaya ini.


Mia tersenyum lebar setelah Bian menyelesaikan satu ciuman panjang itu.


"Baiklah, berikan kertas itu. Aku akan menandatangainya" tukas Mia masih tersenyum.


Secepat kilat, Bian mengambil kertas kosong tadi.


Mia membubuhkan tanda tangan di atas materai, dan sudah akan menulis namanya.


Namun Mia berhenti sejenak dan tampak berpikir.


Mia sepertinya sering melakukan hal ini. Menandatangani dokumen lalu membubuhkan namanya di bawah tanda tangan tersebut.


Tapi kenapa yang berputar-putar di otaknya bukan nama Maymunah, melainkan nama Mia.


Siapa Mia?


"Mas, siapa Mia?" Tanya Mia yang sontak membuat Bian terkejut.


Apa ingatan nona kaya ini sudah kembali?


*****


Hari ini dobel update sebagai ucapan terima kasih atas like dan vote dari kalian semua.


Masih di tunggu like dan votenya.


Terima kasih juga yang sudah mampir membaca cerita nona Mia.


Author usahakan up setiap hari.

__ADS_1


Happy Reading 😙


__ADS_2