
"Kita pulang ke rumah mama papa?" Tanya Kyara yang matanya masih fokus ke ponselnya.
Kyara dan Mia sedang berada di dalam lift yang membawa mereka turun ke lobi gedung kantor Mia.
"Aku akan pulang ke apartemenku. Kau, terserah saja!" jawab Mia malas.
Kyara menyimpan ponselnya ke dalam tas,
"Ayolah, Kak! Aku hanya berlibur satu pekan di sini. Pulanglah ke rumah mama papa agar kita berdua bisa mengobrol banyak hal," pinta Kyara sembari menggamit lengan sang kakak.
"Lalu agar kau juga bisa mengejekku tentang Bian atau tentang hal lainnya, begitu?" Sahut Mia dengan nada sinis.
Kyara terkekeh,
"Kakak sensi sekali hari ini," timpal Kyara masih terkekeh.
"Aku sedang banyak pikiran dan banyak pekerjaan. Jadi jangan menggangguku dan membuatku semakin marah!" Mia mendelik ke arah adik sambungnya tersebut.
Kyara hanya mencibir.
Lift sudah sampai di lobi kantor.
Nona direktur dan adik kesayangannya itu segera keluar dan berjalan cepat menuju pintu keluar.
Mobil Mia beserta sang sopir sudah menunggu di depan lobi.
"Bagaimana kalau kita mampir ke kafe Bian? Mungkin setelah melihat wajah pria brengsek itu, kakak tidak akan marah-marah lagi," usul Kyara yang berusaha menyamai langkah kak Mia.
Mia langsung menghentikan langkahnya saat mendengar Kyara menyebut nama Bian.
"Apa katamu barusan?" Mia kembali mendelik ke arah Kyara.
"Pergi ke kafe Bian," jawab Kyara pura-pura polos.
"Pergilah sendiri sana kalau kau ingin bertemu pria brengsek itu! Aku sungguh tidak tertarik bertemu dengannya. Lebih baik aku berendam di apartemen mewahku ketimbang harus memandangi wajah pria brengsek itu," cecar Mia dengan nada yang berapi-api.
Seketika Kyara langsung bungkam.
Sepertinya kak Mia sedang kesal dengan seorang pria bernama Bian. Tapi apa yang membuat kaka Mia kesal? Apa Bian menolak cintanya?
Mia masuk ke mobil dan Kyara tetap setia mengikuti kakak direkturnya tersebut.
__ADS_1
Hingga mobil melaju meninggalkan gedung kantor, baik Kyara maupun Mia masih sama-sama diam.
Mobil Mia berhenti di perempatan karena lampu merah. Di saat yang bersamaan, motor Bian juga berhenti tepat di samping mobil nona direktur tersebut.
Mia yang sedang menatap keluar jendela tentu saja terkejut, karena kini Bian sedang naik motor dan membonceng Dea dengan sangat mesra. Dua kekasih itu saling berpegangan tangan di atas motor Bian.
Seketika atmosfer di dalam mobil Mia terasa panas. Mia mengepalkan tangannya erat demi menahan emosinya.
Dan sialnya lagi, kenapa lampu lalu lintas ini terasa lama sekali dan tak kunjung berubah menjadi hijau?
Apa lampunya rusak?
Kyara yang duduk di samping Mia tak sengaja ikut melihat Bian yang membonceng seorang gadis dengan sangat mesra.
Kyara ganti menatap ke arah sang kakak yang kini wajahnya merah padam.
"Bukankah itu Bian?" Ceplos Kyara seakan bertanya pada Mia.
"Iya, lalu kenapa kalau itu Bian? Apa kau cemburu melihatnya membonceng seorang gadis?" Sahut Mia dengan nada ketus. Nona direktur itu seperti tengah memendam amarah yang siap meledak kapan saja.
Kyara tergelak,
"Aku rasa bukan aku yang cemburu, tapi kakakku yang kaya yang sepertinya ingin marah dan menghajar pria brengsek bersama pacar barunya," sahut Kyara masih sambil tertawa.
Tapi bukannya diam atau takut dengan gertakan Mia, Kyara malah semakin terbahak.
"Wajah kakak sudah merah padam seperti kepiting rebus, dan kakak masih saja menyangkal, astaga..." Kyara masih tergelak.
Mia menahan geram di hatinya.
Lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.
Oh, syukurlah!
Aku tidak perlu lama-lama memandangi pasangan norak yang sok mesra di atas motor itu.
Mia bergumam dalam hati sesaat setelah motor Bian melaju mendahului mobil Mia.
Dan pria brengsek itu kenapa masih saja menggenggam tangan Dea saat melajukan motornya? Bagaimana kalau motor itu kehilangan keseimbangan dan mereka berdua terjatuh?
Dasar pria bodoh!
__ADS_1
Sekali lagi Mia menggerutu dalam hati.
"Bian sudah punya pacar baru dan kakakku yang kaya merasa cemburu. Oh, kak Mia yang malang," Kyara masih tak berhenti mengejek Mia.
"Tutup mulutmu yang sok tahu itu, atau aku akan menendangmu keluar dari mobilku" Mia mendelik ke arah Kyara.
Namun lagi-lagi Kyara tidak merasa takut dan malah tergelak untuk kesekian kalinya.
"Kalau cemburu bilang saja cemburu, Kak! Jangan gengsi begitu," timpal Kyara dengan mimik wajah yang sungguh mengesalkan.
Mia yang sudah jengkel langsung menyentil kening adik sambungnya tersebut,
"Auuw! Sakit, Kak!" Kyara mengaduh seraya mengusap keningnya yang terasa nyeri.
"Makanya, jangan bicara sembarangan apalagi sok tahu dengan perasaanku!" Sahut Mia masih dengan nada yang bersungut-sungut.
Kyara hanya mencibir dan tidak menyahut lagi.
Mobil Mia sudah sampai di gedung apartemen Mia.
"Pulang sana! Aku sedang tidak menerima tamu malam ini," ujar Mia ketus sesaat sebelum mobil berhenti.
Nona direktur itu segera keluar dari mobilnya, sesaat setelah mobil berhenti di depan lobi.
Kyara menurunkan kaca jendela mobil,
"Jangan menghancurkan isi apartemen mewahmu, kakakku yang kaya!" Pesan Kyara sebelum kembali menaikkan kaca jendela mobil dengan cepat.
Mia baru saja ingin memukul adiknya yang usil tersebut, namun ternyata mobil sudah terlebih dahulu melaju meninggalkan lobi apartemen.
Mia hanya bisa menahan geram,
"Awas kamu, Kya!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini,
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕