
***
Hampir menjelang malam. Amira dan Rena masih berada di Halte depan kampusnya. Rena sengaja menahan Amira karena ada sesuatu yang direncanakannya.
"Please, Ra. Kita harus datang ke acara ultahnya gisel. Cowok-cowok keren di kampus kita pasti akan datang! Aku mau ketemu Leon. Dia cowok paling ganteng di kampus kita!" rayu Rena sambil memasang muka memelas.
"Kamu pergi saja sendiri. Kamu kan tahu aku gak suka pesta!" tolak Amira.
Amira memang tidak suka pesta. Bukan tanpa sebab. Dia adalah gadis cupu dengan rambut keriting dan kaca mata tebal. Belum lagi kawat gigi yang sudah bersemayam di mulutnya sejak SMP. Mana bisa berada di tengah gadis-gadis cantik dan cowok-cowok ganteng. Mereka pasti mencibirnya habis-habisan.
Tapi, Rena berbanding terbalik dari Amira. Dia gadis yang cantik dan supel. Entah mengapa berteman dengan Amira yang kupernya level sepuluh.
"Baiklah! Bagaimana kalau aku barter dengan buku Diandra Lee terbaru," lanjut Rena.
Kali ini usahanya berhasil. Ekspresi Amira langsung berubah.
"Beneran nih, Ren? Aku mau bukunya yang terbaru, judulnya Senandung Rindu Aleysa!"
"Oke kalau begitu! Kita deal, ya!" ujar Rena seraya mengulurkan tangan.
Amira menyambutnya dengan semangat. Dia senang sekali membaca novel. Di sana dia bisa menjadi siapa saja. Terutama tokoh utamanya yang cantik dan selalu dikejar cowok ganteng.
"Nah! Akhirnya bus kita datang juga!" celetuk Rena ketika melihat sebuah bus mendekat ke arah mereka.
"Haduh! Aku lupa mengambil buku di perpustakaan, Ren!"
Amira mendadak teringat buku-buku pesanannya di perpustakaan.
__ADS_1
"Kamu jalan saja duluan, Ren. Masih ada bus terakhir jam delapan!"
Wajah Rena berubah cemas.
"Malam-malam begini ke perpus? Aku dengar tempat itu menyeramkan kalau malam, Ra. Katanya ada sosok bayangan yang menyeramkan di sana! Memang kamu berani, Ra?"
Amira tertawa, memperlihatkan kawat giginya.
"Malah hantu yang takut denganku, Ra. Sudahlah! Kamu tenang saja,"
Rena masuk ke dalam bus dengan sedikit cemas. Berharap tidak terjadi hal buruk dengan sahabatnya itu.
Amira melambaikan tangan sampai bus yang membawa Rena menjauh.
Suasana kampus memang agak menyeramkan kalau malam. Hanya sedikit mahasiswa yang mengambil kelas malam. Mereka tidak ada yang berkeliaran di luar kampus.
Amira terus berjalan menyusuri lorong yang sunyi. Entah kenapa, kali ini bulu kuduknya merinding. Yang membuatnya takut bukanlah hantu tapi manusia yang mempunyai maksud jahat.
Baru saja akan melangkah masuk, sekelebat bayangan mendahului Amira. Menyisakan angin dingin yang membuatnya mengigil.
Gadis itu menebar pandangan ke seluruh penjuru. Tidak ada angin. Pepohonan hanya diam tak bergerak sama sekali.
"Aakh! Jangan main-main denganku, ya!" ucap Amira sekadar menghibur dirinya sendiri.
"Hai, Pak Gun. Maaf, aku kelupaan mengambil buku. Aku boleh masuk, kan?"
"Boleh, Neng. Tumben bisa kelupaan?"
__ADS_1
"Iya, tadi mengobrol dengan teman jadi lupa, deh! Aku masuk, ya."
"Iya, Neng! Silakan."
Amira sudah kenal baik dengan Pak Gunawan, sekuriti paling tua di kampusnya. Sudah hampir tiga tahun, Amira menjadi langganan tetap pengunjung perpustakaan.
"Mbak Risaaa, maaf ya. Aku kelupaan ngambil bukunya!"
Amira langsung meminta maaf kepada Risa. Mereka juga sudah kenal lama. Makanya semua buku pesanan Amira selalu disiapkan Risa duluan.
"Aku yang minta maaf, Amira. Buku pesananmu hanya sebagian yang ada. Sisanya, kamu cari sendiri saja di rak buku, ya. Banyak kok yang isinya sama, cuma penulisnya aja yang beda-beda," jelas Risa sambil menyodorkan beberapa buku.
"Oke deh, Mba. Aku cari dulu sebentar, ya!" ujar Amira setelah memeriksa buku-buku yang diberikan Risa. Dia tahu buku apa saja yang tidak ada di sana.
Amira segera mencari sisa buku yang diperlukannya. Saat ini, Amira sudah di tingkat tiga. Dia harus siap-siap untuk ujian D3 hingga memerlukan banyak buku.
Ketika sedang asyik memilih buku, bayangan hitam kembali melewati Amira dengan sangat cepat seperti angin. Gadis itu tertegun. Mana ada angin di dalam gedung. Tidak ada kipas angin di sana karena sudah ada pendingin ruangan.
Amira membuang pikiran buruk jauh-jauh. Dia adalah gadis yang realistis dan tidak percaya mistis. Mungkin ada bagian yang terbuka hingga angin bisa masuk.
Akhirnya, Amira menemukan buku yang dicarinya. Perlahan, diambilnya buku itu dari rak buku.
Tiba-tiba, wuuuush ....
Bayangan itu jelas terlihat. Amira sangat terkejut dan membuatnya hampir menabrak rak buku. Bayangan hitam tinggi besar baru saja melewatinya. Sangat cepat hingga wajahnya tidak terlihat.
Bayangan misterius itu berhasil membuat Amira syok. Bulu kuduknya merinding. Apakah dia hantu?"
__ADS_1
***
Hai gengs makasih ya sudah mampir. Ikuti terus jalan ceritanya ya. Jangan lupa jaga kesehatan ....