
***
Vampir dan Manusia Harimau saling berhadapan. Siap bertarung sampai darah penghabisan karena seorang manusia biasa. Seorang gadis yang sama-sama mereka cintai.
"Amira jelas milikku! Jangan membuatnya bimbang!"
Dengan gerakan secepat kilat, Leon mencengkram leher Wijaya kuat.
"Bimbang? Apa kamu takut Amira akan memilihku?"
Wijaya tersenyum sinis. Tak nampak ketakutan sama sekali. Kekalahannya tempo hari akan dibalasnya kapan saja bahkan saat itu juga.
Sementara itu, Amira baru saja sampai di kamar tidur. Dia merasakan hatinya bergemuruh. Sesuatu sedang terjadi.
Dari jendela kamar, Amira menatap jauh ke dalam kegelapan.
"Leoon ...," bisiknya lirih memanggil nama kekasihnya.
Tiba-tiba, Amira melihat sesuatu dari arah kegelapan. Pepohonan bergerak meski angin tak berembus. Burung-burung yang tengah tertidur, terusik dan terbang dengan ketakutan.
"Jangan-jangan ..., telah terjadi sesuatu pada Leon!"
Tanpa menunggu lama, gadis itu pun keluar dari rumahnya dengan setengah berlari menuju ke arah kegelapan.
Leon tersentak. Merasakan kehadiran Amira yang kian mendekat.
"Amira!"
Leon yang sedang dalam posisi siap menyerang mundur beberapa langkah.
Wijaya juga merasakan kehadiran Amira. Tak ingin Amira melihatnya dalam keadaan setengah manusia setengah harimau.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Begitu sampai, Amira langsung menembak dengan pertanyaan.
Untung saja Wijaya dan Leon sudah kembali ke bentuk normal.
"Kami sedang berbicara saja, Amira. Kamu tak perlu khawatir!" jawab Leon setenang mungkin.
"Tentu saja aku khawatir. Mengapa kalian bertemu di dalam kegelapan? Apa tidak ada tempat lain yang lebih nyaman?"
"Aku hanya menanyakan beberapa hal padanya. Kamu tenang, aja!"
Wijaya juga berusaha menenangkan Amira.
"Sesuatu yang buruk pasti terjadi di antara kalian. Aku mau bicara denganmu, Leon!"
Dengan penuh keyakinan, Amira berjalan ke arah Leon dan melewati Wijaya. Laki-laki itu mengira tirai kabut putih darinya masih ada. Ternyata, Amira bisa menembusnya dan sampai di dekat Leon dengan mudah.
Wijaya tidak mengerti, tirai kabut putihnya tidak berfungsi lagi. Dia juga tidak tahu sejak kapan menghilang. Seharusnya tirai itu terus ada sampai dia sendiri yang mencabutnya.
"Ayo, Leon! Ikut denganku!" ujar Amira seraya menarik tangan Leon.
__ADS_1
"Tapi, Amira. Rumahmu ke arah lain!"
"Aku gak akan pulang kalau kita belum bicara!"
Amira tetap berkeras. Segala kegundahannya harus segera berakhir.
Wijaya hanya bisa melihat kepergian Amira dan Leon tanpa berbuat apapun. Dia berpikir keras bagaimana tirai yang ditandai pada Amira tak ada lagi.
"Waktu itu ..., aku terluka dan tak berdaya. Jadi, Leon melukaiku hanya untuk menghilangkan tirai itu dari Amira!"
Pertarungan beberapa waktu yang lalu kembali terbayang. Leon sudah membuat Wijaya tak berdaya. Saat itu, dia dengan mudah membunuhnya. Tapi, Leon tidak melakukannya. Di saat terakhir, dia malah meninggalkan Wijaya.
Entah sampai di mana Amira berjalan sambil menarik tangan Leon. Sebenarnya, dia ingin pergi sejauh-jauhnya bersama Leon. Melampiaskan perasaannya yang sudah tertahan cukup lama.
"Hentikan, Amira! Kita sudah berjalan cukup jauh!"
"Biar saja! Aku akan berjalan sampai kakiku terluka!" jawab Amira tanpa menoleh.
Sampai akhirnya, Leon tak tega melihat kemarahan Amira yang malah menyiksa dirinya sendiri.
"Baiklah! Aku minta maaf jika telah membuat hatimu terluka. Tapi, berhentilah!"
Kali ini, Leon menahan kakinya sehingga Amira tak mampu menariknya lagi. Gadis itu hanya diam sementara air mata mulai mengalir di pipinya.
"Maafkan aku, Amira," ucap Leon lirih. Dia merasakan hati gadis pujaannya remuk redam.
"Jangan perlakukan aku seperti ini, Leon. Hatiku cuma satu, hanya untukmu!"
Leon segera memeluk Amira. Dia tahu Amira berkata jujur tentang hatinya.
Amira berbalik dan menatap Leon lekat.
"Aku yakin kamu selalu ada, Leon. Entah, dalam terang atau di kegelapan. Di dunia nyata atau pun di dalam mimpi. Jangan ragukan hatiku lagi!" ucap Amira penuh ketegasan.
Leon merasa bersalah. Untuk sesaat, dia sempat meragukan hati Amira yang selalu untuk dirinya. Dia kembali memeluk Amira dan menghapus sisa air mata di pipinya.
"Aku akan berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi, Sayang!"
Pertikaian kecil itu berakhir dengan sebuah kecupan penuh kemesraan. Keduanya terbuai dalam perasaan yang sama. Membiarkan bulan menatap penuh iri kepadanya.
"Sudah hampir pagi! Sebaiknya kamu pulang, Amira!"
Leon merasakan hangat mentari mulai merasuk ke dalam kulitnya.
"Ya, udah. Aku akan pulang sendiri. Kamu pergilah duluan. Nanti kamu malah kepanasan!"
"Tidak! Aku akan mengantarmu pulang."
"Tapi, matahari sebentar lagi akan muncul, Leon!"
"Tenanglah, pejamkan saja matamu!"
Amira tidak ingin memulai hari dengan berdebatan. Dia hanya menuruti Leon dan memejamkan mata.
__ADS_1
Leon tersenyum dan langsung menggendong Amira. Dengan sekali kibasan, tubuhnya melesat seperti angin. Tak sampai beberapa detik, mereka sudah sampai di kamar Amira.
"Bukalah matamu!"
Amira mengikuti instruksi Leon dan tersadar sudah kembali ke kamarnya.
"Ini kan kamarku?"
"Iya, Sayang. Kamu istrihatlah! Aku harus pergi."
"Tunggu sebentar!" ujar Amira menahan kepergian Leon.
Gadis itu mendekati kekasihnya dan menghadiahkan kecupan kecil di pipinya. Seakan ciuman liar yang sudah mereka lakukan tidak pernah cukup.
"Aku mencintaimu, Leon ...," bisiknya lembut.
Leon tak ingin beranjak sedikit pun dari sisi gadis yang sangat dicintainya.
Sementara itu, Iskandar merasa ada sesuatu dari dalam kamar Amira. Sepertinya Amira sedang berbicara dengan seseorang.
"Amiraaa!"
Terdengar suara dari arah luar kamar Amira.
"Ayahmu datang! Aku harus pergi!" ujar Leon seraya melepaskan pelukannya.
Amira mengangguk.
"Nanti malam aku akan menunggumu di taman dekat kampus!"
"Baiklah! Tapi, hati-hati."
Leon segera berdiri di depan jendela kamar Amira. Dalam sekejap, dia menghilang.
"Iya, Ayah!" ujar Amira langsung membukakan pintu untuk ayahnya.
"Kamu sedang bicara dengan siapa?"
"Ga ada siapa-siapa kok, Yah. Mungkin ayah mendengar tirai yang tertiup angin!"
Iskandar melihat ke arah jendela kamar Amira yang terbuka. Angin memang berembus kencang dan membuat tirainya terbang hingga menimbulkan suara.
"Yah, ada sesuatu yang ingin Amira katakan. Sepertinya, Amira mau melanjutkan kuliah lagi. Tapi, Amira belum menanyakan kepada Ibu Melati!"
"Apa nanti kamu gak capek, Amira?"
"Gak kok, Yah. Amira akan memanfaatkan waktu lebih baik lagi!"
Iskandar harus menyetujui keputusan Amira. Dia memang selalu merasa bersalah karena Amira harus mengambil cuti kuliah.
Amira merasa hatinya sangat tenang. Masalahnya dengan Leon sudah selesai. Hanya ada sedikit kesalah fahaman yang bisa menjadi besar bila didiamkan. Sudah waktunya menikmati hati yang dipenuhi dengan cinta.
***
__ADS_1
Hai gengs makasih ya sudah mampir, ikuti terus kisah selanjutnya ya .... ❤❤❤