PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 90. AKU CEMBURU!!!


__ADS_3

***


"A-anna?"


Amira sangat terkejut setelah melihat Anna. Dia tidak mengira sikap Leon berubah terhadap Anna. Padahal dia pernah menyerang Amira.


"Aku tahu kamu pasti terkejut, Amira. Leon sudah membuat pikiranku berubah. Kehadirannya sangat berarti bagiku," ujar Anna seraya menggamit lengan Leon.


Amira merasa hatinya bergemuruh melihat sikap Anna terhadap Leon. Apalagi Leon hanya diam saja.


"Baiklah! Aku gak tahu apa yang terjadi. Tapi aku masih ingat pertemuan terakhir kita. Kau menyerangku dan ingin memangsaku, Anna!"


"Itu hanya masalalu, Amira. Leon membuat mataku terbuka. Apalagi, aku akan bertemu dengan saudara kembarku yang lama hilang," jelas Anna lagi tanpa melepaskan tangan Leon.


Amira tak sanggup melihat mereka lagi dan memilih mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Cemburu mulai membuat hatinya panas.


"Baiklah! Aku tak tahu bagaimana hubunganmu dengan Leon saat ini. Hari sudah malam, aku harus pulang!"


Amira langsung nyelonong menuju ke jalan raya. Bus terakhir sudah lama berlalu juga kereta. Berharap masih ada taksi yang bisa membawanya pulang.


Leon hanya tersenyum melihat sikap Amira yang seperti sedang marah. Sebenarnya, dia bisa membaca pikiran Amira. Dia sedang cemburu!


"Taksi!" panggil Amira ketika sebuah taksi mendekat. Taksi itu langsung berhenti tepat di depannya. Dengan sigap, Amira langsung masuk ke dalamnya.


Alangkah terkejutnya Amira ketika ternyata Leon sudah berada di dalam taksi.


"Leon? Kenapa kamu ada di sini?"


"Kenapa heran? Aku yang membawa taksi ini. Aku ini pacar yang hebat, kan?"


"Iih! Dasar sombong!" ujar Amira masih dengan wajah cemberut.


Taksi kembali melaju, sopirnya hanya tersenyum mendengar pembicaraan sepasang kekasih itu. Sebenarnya Leon sudah memberi pesan kepadanya. Dia mengatakan kalau kekasihnya sedang ngambek karena cemburu. Jadi, kalau ada sedikit adegan drama, sopir itu pura-pura tak mendengarnya.

__ADS_1


Leon tertawa puas. Dia masih bisa mengambil hati kekasihnya lagi meski Amira masih merajuk.


"Ayolah, Sayang. Mana senyumanmu, aku kangen!" ujar Leon seraya mengalungkan tangannya di leher Amira.


"Gombal! Tadi kamu sudah mengatakan hal itu. Apa kamu sudah lupa? Apa karena ada Anna, vam ...."


Amira menghentikan perkataannya. Dia hampir keceplosan menyebut kata vampir.


"Kenapa? Apa Anna itu vampir?"


Amira melotot. Leon menyebutnya dengan ringan.


Sementara sopir itu hanya diam saja. Sebenarnya, Leon juga sudah mengatakan soal vampir kepadanya.


"Bu-bukan begitu, Leon. Anna sangat cantik dan dia memegang tanganmu. Salahnya, kamu diam saja. Kamu suka kan begitu?" bisik Amira dengan mata bulatnya yang bisa copot kapan saja.


"Tak masalah kalau cuma memegang tangan. Kau kan tahu siapa pemilik hatiku, yaitu Amira, kekasihku yang paling manis," jawab Leon dengan sedikit menggoda.


"Baiklah kalau begitu. Lihat aja sikapmu kalau ada seseorang yang memegang tanganku juga!"


"Leoon!" teriak Amira seraya melihat sopir taksi. Anehnya, sopir itu hanya tersenyum tanpa terpengaruh sedikit pun.


Leon hanya tertawa. Sebenarnya dia sangat senang kalau Amira cemburu.


"Jadi, apa kamu cemburu dengan Anna?"


"Kau juga pernah cemburu kepada Abang Wijaya. Iya, kan?"


"Siapa bilang? Aku sih santai orangnya!"


"Oh begitu, ya," ucap Amira yang masih kesal.


"Aku ngantuk, bangunkan aku kalau sudah sampai di rumahmu, ya!"

__ADS_1


Leon langsung menaruh kepalanya di bahu Amira dan memejamkan mata. Tak peduli tatapan mata Amira masih mengandung bara.


Amira menarik napas panjang. Hatinya memang masih panas. Tapi, tak mampu menyimpan amarah lebih lama. Semarah apapun tak akan membuatnya menjauh dari kekasihnya itu.


"Aku akan mengantarmu sampai di rumah!" ujar Leon ketika taksi sudah sampai di depan rumah Amira.


"Ja-jangan! Aku pulang sendiri aja. Sudah malam, ayah nanti malah marah kalau melihatmu!" cegah Amira seraya turun dari mobil.


"Aku akan ke rumahmu besok, ya."


"Terserah kamu ajalah! Pergilah," jawab Amira masih dengan nada datar.


Amira bersiap melangkahkan kakinya, ketika tangannya tertahan. Leon yang sudah menariknya.


"Lepaskan, Leon. Nanti ayah melihat kita!"


"Aku akan lepas kalau kamu gak marah lagi!"


"Leoon!"


Amira berusaha melepaskan tangannya. Tapi Leon tetap menahannya.


"Iya-iya! Aku gak marah lagi, kok! Jadi lepaskan tanganku," pinta Amira.


"Baiklah! Selamat tidur, Sayang. Mimpikan aku, ya!"


Amira tidak menjawab ucapan Leon. Dia langsung berlari menuju ke rumahnya.


"Iya, Sayang. Aku akan memimpikanmu ...."


Leon tersenyum ketika mendengar suara hati Amira. Hatinya merasa tenang meski kerinduan kembali datang padahal belum lama terpisah dengan kekasihnya.


***

__ADS_1


Hai gengs, makasih ya sudah mampir, ternyata Amira sedang cemburu, ya hihi gimana kelanjutan kisahnya ya, kepoin terus yuks ❤❤❤❤❤


__ADS_2