PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 51. PERTEMUAN YANG MENYEDIHKAN


__ADS_3

***


"Berjanjilah! Setelah bertemu dengan leon, kamu akan ikut denganku kembali ke kampus!"


Amira cepat mengangguk begitu mendengar ucapan Andrian. Hatinya hampir meledak karena menahan segala kerinduan kepada kekasihnya.


Andrian telah mempercayai Amira sepenuhnya. Dia sangat yakin, Amira akan memenuhi janjinya.


"Pergilah! Bawalah lilin itu karena di sana sangat gelap," ujar Andrian setelah membuka pintu menuju ke ruang bawah tanah.


"Apakah Leon ada di sana? Berarti perasaanku benar!"


Amira segera mengambil sebuah lilin di pojok ruangan. Rumah itu memang tidak ada listrik karena berada di tengah hutan.


"Hati-hatilah!"


Amira mengangguk sebelum memasuki ruangan gelap itu.


"Tunggu sebentar!"


Andrian teringat perkataan ayahnya. Kerangkeng itu sudah diberikan kekuatan vampir putih. Jangankan manusia biasa, vampir pun tidak akan bisa mendekatinya.


"Aku harus ikut denganmu! Hal yang menakutkan bisa saja terjadi padamu!"


"Menakutkan seperti apa? Yang akan aku temui adalah Leon. Dia kekasihku sendiri. Apakah hanya dalam waktu sebulan, dia bisa berubah menjadi makhluk menakutkan?"


Andrian menatap Amira lekat. Dia tidak bisa berbohong bila hanya akan membuatnya merasa bersalah.


"Apakah kamu sudah lupa? Leon juga seorang vampir!"


Amira tertegun. Dia hampir lupa kalau Leon adalah vampir. Makhluk kegelapan yang sangat menakutkan. Tapi Amira yakin, Leon tidak akan bisa menyakitinya.


Ternyata, setelah melewati pintu, ada ruangan besar di dalamnya. Seperti lemari es untuk menyimpan susu.

__ADS_1


"Hhmm, bau apa ini? Apa susu murni baunya anyir seperti ini?"


"Bukan susu tapi anyir darah!"


"Da-darah? Apa darah sapi dan kambing?"


"Nah! Itu kamu tahu. Sebaik-baiknya vampir pasti akan memerlukan darah agar tetap hidup. Tapi, sudah sebulan Leon tidak meminum darah setetes pun. Aku tidak tahu dia akan seganas apa!" jelas Andrian. Dia mengetahui tentang Leon dari ayahnya. Dia juga tahu Leonlah yang mengisi hati Amira.


Amira tak bisa berkata apa-apa setelah mendengar ucapan Andrian. Dia malah semakin cemas. Leon pasti sangat tersiksa selama satu bulan ini. Tanpa makan dan minum pasti bisa membuatnya mati.


Amira tidak tahu perasaannya seperti apa. Setiap langkah menuruni anak tangga, hatinya seperti ditarik. Jantungnya berdegup semakin kencang. Sebentar lagi, akan bertemu dengan kekasih yang sangat dirindukan. Meskipun pertemuan itu sangat menyedihkan.


Sesampainya di lantai dasar, bau pengap menyeruak. Tak ada angin bahkan udara yang masuk ke tempat itu. Amira hanya terdiam sambil mengikuti langkah Andrian.


Tak lama, Andrian berhenti.


"Kamu tunggu di sini dulu, ya!" ucapnya pelan.


Amira mengangguk dan mengikuti instruksi Andrian. Dia hanya melihat laki-laki separuh vampir itu kembali melangkahkan kaki sampai di ujung lorong.


Wajah Andrian berubah ketika sebuah bayangan muncul dari kerangkeng yang gelap. Dia mundur beberapa langkah seperti melihat sesuatu yang mengejutkan. Terdengar erangan dari bayangan itu.


"Le-Leooon!" ujar Amira yang tak bisa menahan kerinduannya lagi. Dia memberanikan diri untuk mendekati Leon.


Namun, Amira sangat terkejit dengan apa yang dilihatnya. Leon sudah berubah wujud menjadi manusia kelelawar dengan wajah menakutkan dan pakaian compang camping. Matanya memerah dan pandangannya nanar.


"Amira! Seharusnya kamu tidak ke sini! Dia bukanlah Leon yang kamu kenal!"


"Tidak! Dia adalah Leon, apapun wujudnya. Leon ..., ini aku, Amira. Aku kekasihmu, Leon!"


Manusia kelelawar itu hanya mengerang dan memperlihatkan taringnya yang tajam. Pandangannya kosong.


"Dia tidak mengenalimu, Amira. Kini, Leon dalam masa krisis. Aku bisa menyembuhkannya tapi harus seizin para vampir putih. Sekarang, yang terbaik adalah membiarkannya tetap di sini! Sisa waktu hukuman masih lama. Aku akan berusaha meminta keringanan dari para vampir putih!"

__ADS_1


"Tidak! Setidaknya berikan Leon makanan atau darah sapi. Di atas banyak simpanan darah. Kita bisa memberikannya saat ini juga!"


Andrian menatap Amira lekat. Mata gadis itu sudah basah, tidak ada gunanya menangis di saat seperti ini.


"Kita tidak bisa melakukannya Amira. Aku tidak bisa menembus segelnya. Hanya para vampir putih yang bisa melakukannya.


"Tapi, kasihan Leon. Dia sendirian di sini. Aku ..., bisa membantumu memohon kepada para vampir putih. Leon bisa mati jika terlalu lama di sini!"


Amira tak mampu menahan air matanya lagi dan memegang jeruji besi yang mengurung Leon.


Wajah Andrian berubah. Dia melihat Amira dengan mudahnya memegang jeruji itu. Padahal, ketika dia memegangnya seperti ada aliran listrik di tubuhnya.


"Leon, aku mencintaimu. Apapun yang terjadi, aku akan membawamu ke luar dari tempat ini," ujar Amira dengan bersimbah air mata.


Sosok mengerikan itu berhenti mengerang dan menatap Amira lekat, seakan tahu siapa gadis itu. Sosok itu mendekati jeruji dan meraih tangan Amira. Namun, tubuhnya malah terpental seperti ada aliran listrik yang sangat besar. sosok itu pun tergeletak di atas lantai tak sadarkan diri.


"Leooon!" teriak Amira.


"Jeruji itu sudah disegel, dia tidak mampu memegang apalagi menembusnya, Amira!"


"Tapi, aku bisa memegangnya!"


"Ya! Aku akan membicarakan lagi dengan ayah. Sebaiknya kita keluar dari sini!"


"Tapi Leon masih tidak bergerak. Aku takut dia akan mati!"


"Sesungguhnya vampir itu sudah tidak mempunyai nyawa jadi dia tidak akan mati lagi. Ayolah, kita pergi!"


Andrian terpaksa menarik tangan Amira yang masih berat meninggalkan kekasihnya sendirian.


Air mata Amira masih deras mengalir. Pertemuan menyedihkan itu tidak akan terlupakan. Amira berjanji, dia akan kembali menemui kekasihnya.


***

__ADS_1


Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Ikuti terus kisah Amira dan Leon, ya. Kasihan Leon, apa dia bisa kembali lagi ya .... ❤❤❤❤❤


__ADS_2