
***
Leon tampak gelisah dalam tidurnya, kala matahari menjadi penguasa. Dalam penglihatannya, Leon melihat Amira tengah berada di sebuah ruangan sempit dan gelap. Keadaan Amira tak berdaya dengan mulut tertutup lakban dan tubuhnya terikat tali.
Sebuah bayangan muncul. Wajahnya perlahan kelihatan lebih jelas. Dia adalah Cristian yang sudah berwujud vampir dengan taring tajam siap menghisap darah mangsanya. Sebentar lagi, Amiralah yang akan menjadi korbannya.
"Tidak!"
Leon terjaga. Belum saatnya bangun. Di luar masih terang dan sinar mentari sangat menyengat. Kali ini Leon tidak tinggal diam. Amira dalam bahaya.
Sementara itu, Amira masih berada di sekitar kampus. Berjalan pelan ke arah perpustakaan yang selalu sepi. Wijaya sudah menempelkan alat pelacak di bajunya seperti peniti. Amira sangat yakin pembunuh Rena akan segera di tangkap.
Tak menunggu lama, Amira merasa ada seseorang mengikutinya. Dia pura-pura berhenti dan mengecek keadaan sekitar. Tidak ada siapapun di tempat itu selain dirinya.
Amira pun kembali melangkah. Perasaan itu datang lagi. Dia yakin seseorang ada di belakangnya. Baru saja, Amira akan berbalik, seseorang sudah berdiri di hadapannya.
"Pak Gunawan?"
Amira sangat terkejut karena orang yang mengikutinya adalah Pak Gunawan. Amira berusaha setenang mungkin meski dia tahu siapa Pak Gunawan itu.
"Iya, Neng! Maaf mengagetkan. Apa kabar, Neng? Saya ikut berduka karena teman Neng telah meninggal!" ungkap Pak Gunawan, sekuriti yang sedang dicurigai Wijaya.
"Iya, Pak. Saya jadi sedih teringat Rena. Saya juga prihatin karena Gisella belum ditemukan sampai sekarang. Apa Bapak tahu di mana Gisella menghilang?"
Pak Gun mulai gelisah.
"Katanya, yang menculik Gisella ada di kampus juga. Kalau Bapak bertemu orang yang mencurigakan, kasih tahu saya ya, Pak," ujar Amira lagi.
"Eeh ..., iya Neng!" jawab Pak Gun singkat.
"Tapi, saya mencurigai seseorang. Dia pasti sekuriti di sini!"
Pak Gun sangat terkejut dengan ucapan Amira.
__ADS_1
"Ba-bagaimana Neng tahu soal itu!"
"Jelas saya tahu, Pak. Yang memegang kunci kan hanya sekuriti. Pasti salah satu dari mereka tahu setiap ruangan dan jalan di sini!"
Pak Gun gemetaran. Cepat atau lambat Amira pasti mengetahui dirinya adalah orang yang dimaksud.
"Maaf, Pak! Saya harus pergi. Sekuriti itu pasti ada di dekat perpustakaan!"
"Sa-saya antar ya, Neng!"
Amira mengangguk dan berjalan lebih dulu. Dia tidak tahu kalau Pak Gun sudah menyiapkan sapu tangan dengan obat bius.
Sebentar lagi, mereka sampai ke gedung perpustakaan. Amira segaja melambatkan langkahnya. Baru saja, Amira akan berbalik arah, Pak Gun membekapnya dengan sapu tangan.
Amira meronta namun bau obat bius itu sangat menyengat. Sebentar saja, Amira tidak sadarkan diri.
Di bagian lain, Wijaya dan beberapa polisi berada di dalam mobil pengintai. Dia mendengar jelas pembicaraan Amira dan Pak Gun.
"Tidak ada suara Nona Amira lagi, Pak. Mungkin, tersangka sudah melancarkan aksinya dan membuat Nona Amira tak sadarkan diri!" ujar Farhan.
Wijaya mulai cemas.
"Masih aman, Pak. Signalnya tidak jauh dari lokasi terakhir," ujar Kevin, polisi bagian pengecekan signal.
"Berarti masih area gedung perpustakaan. Aku akan ke sana! Siapkan pasukan!"
Wijaya langsung bangkit dari tempat duduk. Dia tidak ingin Amira semakin jauh dari pengamatannya.
***
Amira terjaga. Aroma obat bius masih menyengat. Membuatnya pusing dan pandangannya kabur. Dia mencoba mengingat apa yang sudah terjadi. Dia tak sadarkan diri setelah Pak Gun membekap mulutnya dengan sapu tangan beraroma menyengat.
"Aakh! Di mana aku?" ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Amira meronta. Tangan dan kakinya terikat. Mulutnya juga tertutup kain. Di ruangan gelap itu tak ada cahaya sama sekali, membuat Amira tak bisa melihat apa pun.
"Uugh-uugh!"
Terdengar suara dari dalam kegelapan. Amira melihat lebih saksama. Lamat-lamat dia melihat seorang gadis dalam keadaan terikat seperti dirinya. Amira sangat terkejut. Gadis itu adalah Gisella.
"Uugh-uugh!"
Amira ingin berteriak, namun mulutnya tertutup. Dia terus berontak dan berusaha keras melepaskan tali yang mengikatnya tapi semua itu hanya sia-sia.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka dan cahaya dari lampu minyak menerangi tempat itu. Wajah orang yang baru saja masuk sedikit terlihat.
"Maaf, Neng Amira. Saya harus melakukan ini karena Neng sudah mengetahui siapa saya sebenarnya!"
Amira terbelalak. Pak Gun tidak kelihatan menyesal. Dia hanya takut ketahuan.
"Uugh-uugh!"
Suara Amira tak jelas, namun amarahnya tak bisa ditutupi. Bagaimana dia bisa melepaskan diri?
"Leoon ...!"
Penggilnya dalam hati. Berharap sang kekasih akan segera menolongnya.
***
leon tersentak. dia sangat jelas mendengar suara Amira memanggilnya. dia tidak bisa tinggal diam.
Di luar matahari masih panas. ini untuk kali kedua, Leon keluar saat masih terang. Pertama untuk menemui Amira di tempatnya bekerja. Saat itu kulitnya terbakar meski sudah memakai jaket berlapis.
Kini, Leon tidak menghiraukan keadaannya lagi. Dia harus menemukan Amira secepatnya. Para pemburu darah itu sudah berkumpul. Cepat atau lambat akan ada korban manusia lagi.
***
__ADS_1
Hai gengs makasih ya sudah mampir, ikuti terus kisah selanjutnya ya .... ❤❤❤