
***
"Siapa kau?" tanya Casandra ketika pagi-pagi menemukan seorang perempuan di ruang makan.
"Selamat pagi, kamu pasti Casandra. Iya, kan?" ucap Anna tanpa menjawab pertanyaan Casandra.
"Kamu vampir?"
Anna tertawa kecil.
"Aneh! Kau bisa membaca pikiranku. Untuk apa selalu bertanya?" jawab Anna seraya menikmati roti sandwich dan susunya.
"Karena aku bukan kau!" ujar Casandra mulai panas.
"Ada apa ini?" tanya Leon yang baru muncul. Penampilannya lebih rapih. Dia mencukur kumis dan jenggotnya meski rambutnya masih gondrong.
"Aku tak suka ada orang asing di rumahku, Leon!" ujar Casandra yang masih berdiri di tempatnya semula.
"Dia adalah Anna. Kau tidak melihat wajahnya? Dia saudara kembar ketua vampir putih! Sebentar lagi Andrian akan membawanya ke sini. Aku pergi dulu, ya!" terang Leon seraya melangkah pergi.
"Leoon!" panggil Casandra.
Leon tidak mendengarkannya lagi. Dia sibuk mengatur perasaannya karena akan bertemu keluarga Amira untuk pertama kali.
"Duduklah, Casandra! Kita bisa sarapan bersama," ujar Anna seraya menyodorkan roti lapis yang dibuatnya.
Casandra hanya diam saja. Wajah Anna memang sangat mirip dengan ketua vampir putih. Hanya saja, kelakuannya sangat berbeda.
***
"Jadi, namamu adalah Leonardo. Kamu masih kuliah atau sudah bekerja? Aku rasa, dengan rambutmu yang panjang begitu, tidak ada perusahaan yang akan menerimamu!" ungkap Ayah Amira ketika Leon sudah berada di ruang tamu.
"Saya masih kuliah semester akhir jurusan kedokteran, Om. Sebentar lagi saya akan lulus," jelas Leon. Sepertinya kekhawatiran Amira benar. Stigma rambut gondrong membuat Ayah Amira kurang menyukainya.
__ADS_1
"Kedokteran? Apa mahasiswanya boleh punya rambut panjang?"
"Ini masih libur, Om. Nanti juga saya akan potong pendek," jelas Leon untuk kesekian kalinya.
"Leoon?"
Amira sedikit terkejut melihat Leon sudah di rumahnya. Apalagi melihat penampilannya lebih rapih dan mencukur jenggotnya.
"Iya, Amira. Eeem, katamu kita mau ke pantai!"
"Ooh, iya. Boleh ya, Yah. Sebentar lagi liburan kan berakhir. Aku mau ke pantai. Boleh ya, Yah?" pinta Amira seperti anak kecil.
"Boleh kan, Yah? Kebetulan kami juga mau ada acara keluarga. Repot kalau bawa anak kecil. Kami titip anak-anak, ya!"
Tiba-tiba, Ibu Amira muncul. Hanya saja kata-katanya cukup mengejutkan. Leon mengira hari itu akan romatis berdua seharian. Bukannya menjaga anak kecil.
Satu jam kemudian ....
"Syiraaa, Syifaa ..., ayo kejar kakak!" teriak Amira yang asyik bermain di tepi pantai bersama kedua adik kecilnya.
"Kak, ayo gendong. Aku capek, nih!" ujar Srifa, Adik Amira yang paling kecil sambil menarik tangan Leon. Usianya hampir tiga tahun dan sedang lucu-lucunya. Leon tak bisa menolak melihat matanya mengejap.
Tak berapa lama, Syifa sudah berada di atas punggung Leon. Beberapa orang memerhatikannya sambil bergumam.
"Udah ganteng, sayang anak juga. Aku mau punya suami kayak orang itu!"
"Tuh, Pah. Kayak orang itu dong. Gantian gendong kan Mamah capek!"
Leon hanya tersenyum mendengar celetukan mereka. Setidaknya komentar mereka baik-baik semuanya.
"Kakak nanti akan menikah dengan kakakku, kan?" tanya Syira, Adik Amira yang lebih besar.
"Heeem, apa menurutmu kakakmu mau menikah denganku?"
__ADS_1
"Tergantung! Pokoknya kakak jangan sampai membuat Kak Amira menangis! Kalau kakak sampai begitu, aku akan menghukum kakak!" ujar Syira dengan nada suara tinggi. Dia kelihatan sangat menyayangi kakaknya.
"Tentu saja, Kakak gak akan membuat kakakmu menangis. Kakak janji akan membuat Kak Amira akan bahagia selamanya!"
"Bener ya, Kak. Awas kalau kakak bo'oong!" ucap anak kecil itu dengan sedikit mengancam.
"Iya, Kakak janji!" jawab Leon pasti. Berada di dekat adik-adik Amira, Leon merasa lebih manusia. Sudah sangat lama, Leon tidak bertemu dengan anak kecil. kejujuran mereka membuatnya lebih hidup.
Amira tersenyum melihat Leon yang sudah mulai akrab dengan kedua adiknya. Dia merasa bersalah karena membuatnya kelelahan karena menggendong adiknya bergantian.
Tanpa terasa hari mulai sore. Amira memutuskan untuk pulang.
"Maafkan aku ya, Leon. Kamu pasti capek menjaga adik-adikku!" ujar Amira setelah sampai di rumah. Kedua adiknya langsung tidur karena kecapean.
"Gak apa-apa kok, Sayang!"
"Iikh! Sayang, sayang! Nanti ayahku denger."
"Gak, kok. Mereka masih jauh. Sekitar satu jam lagi baru sampai!"
Amira menatap Leon lekat. Sikap Leon sudah banyak berubah. Dia sudah seperti manusia normal.
"Terima kasih ya, Sayang ...," ucap Amira tanpa takut-takut lagi.
"Nah! Begitu dong, Sayang. Lelahku langsung terganti setelah mendengar ucapanmu. Ayolah, sekali lagi panggil sayang," pinta Leon.
"Gak, aah!" jawab Amira seraya menjauh dari Leon.
Kali ini, Leon tidak membiarkannya pergi. Sedetik kemudian, Leon sudah berada di hadapannya. Amira tak berkutik. Bahkan, ketika sebuah kecupan mendarat di bibirnya.
Di dalam kegelapan, sebuah bayangan mengamati dari kejauhan. Anna pernah ke rumah Amira dan mengira Leon pasti ada di sana. Dugaannya tepat, Leon sedang bersama Amira. Entah apa yang dipikirkan Anna. Kini, kekasihnya sudah tiada. Dia harus menggantikannya dengan seseorang yang lebih baik. Dia adalah leon!
***
__ADS_1
Hai gengs, makasih ya sudah mampir, ikuti terus kisah Amira dan Leon ya, happy weekend ❤❤❤❤❤