
***
Annastasia sangat senang ketika Leon mengabarkan kalau saudara kembarnya sudah ditemukan. Sebentar lagi, mereka akan kembali bersama setelah hampir seratus tahun terpisah.
Ada sesuatu yang masih dikhawatirkan Annastasia. Saudara kembarnya itu sudah banyak melakukan kejahatan. Bukan hanya kepada manusia tetapi juga kepada bangsa vampir.
"Kalian memang sangat mirip. Tapi, sikap kalian sangat berbeda. Saudaramu itu baru saja membunuh kekasihnya sendiri namun sikapnya tanpa rasa bersalah sedikit pun!" ujar Casandra ketika Annastasia sudah sampai di rumahnya.
"Membunuh kekasihnya?!" Annastasia tidak menyangka sikap saudara kembarnya tidak berubah sama sekali.
"Aku yakin, pasti ada sebabnya sampai Annabela membunuh kekasihnya," ujar Andrian berusaha menenangkan Casandra.
"Kau sama saja dengan Leon. Padahal Annabela hampir membunuh Amira!"
Annastasia hanya terdiam. Tidak tahu harus bagaimana jika bertemu dengan saudara kembarnya. Padahal dia ingin Annabela ikut bersamanya ke negeri vampir putih.
"Aku tidak berniat membela siapapun. Annabela melakukan itu karena ingin menyelamatkan Leon. Aku rasa itu alasan yang tepat meski harus membunuh kekasihnya sendiri. Soal Amira, aku rasa dia melakukannya karena mengikuti kekasihnya yang sangat jahat!"
"Itulah yang aku maksud. Dia akan melakukan apapun yang menurutnya benar. Kamu harus hati-hati, Nona Annastasia," pesan Casandra.
Sayang, Annastasia tidak bertemu dengan saudara kembarnya. Padahal sangat banyak yang ingin diceritakan kepadanya. Annabela pergi padahal sudah tahu soal kedatangannya. Dia memang selalu seperti itu. Melakukan apapun yang disukainya.
***
Leon bukan tidak tahu kalau Annabela mengikutinya sampai ke rumah Amira. Dia hanya tidak ingin Amira menjadi khawatir jika tahu soal Annabela. Apalagi, Amira hampir terluka karenanya.
Setelah orang tua Amira pulang, Leon langsung pergi. Dia tahu Annabela masih mengikutinya. Sampai di sudut yang paling gelap, Leon menangkap basah Annabela.
"Keluarlah! Aku tahu kamu mengikutiku, Annabela!"
__ADS_1
Tidak ada jawaban. Hanya ada angin malam yang berembus dan membuat pepohonan sedikit bergoyang.
"Sekali lagi, keluarlah!" ujar Leon yang mulai tidak suka dengan sikap Annabela.
Akhirnya sebuah bayangan muncul. Dia adalah Annabela.
"Baiklah! Kau tahu aku mengikutimu. Tapi mengapa tadi kau diam saja? Apa kamu mengkhawatirkan kekasihmu Amira?"
Leon menarik napas panjang. Kesabarannya ada batasnya. Sebentar lagi akan meledak.
"Aku tahu siapa kamu! Saudaramu sudah datang. Cepat temui dia dan menjauh dariku juga kekasihku!" ujar Leon tegas.
"Aku kira kamu sudah tidak pemarah. Aku suka jika kamu seperti itu dari pada berpura-pura menjadi manusia."
"Jangan campuri urusanku! Sebaiknya kita pulang secepatnya!"
"Oke! Aku akan ikut bersamamu, Leon!"
Amira menatap kegelapan dari kaca jendela kamarnya. Dia merasakan kehadiran vampir lain. Mungkin saja dia adalah Anna. Sikapnya sangat aneh. Dia seperti lem yang menempel pada Leon. Amira yakin ada yang diinginkannya.
Walaupun Amira sangat mempercayai Leon, rasa khawatir menghampiri hatinya juga. Rasa cemburu itu tidak mau hilang. Berharap Leon akan selalu setia dan memegang janjinya.
"Adikku hampir mati! Aku harus menemukan siapa yang sudah menyerangnya!"
Amira teringat kata-kata Melati. Dia juga harus membantunya menemukan siapa yang sudah menyerang Wijaya hingga terluka parah. Mungkin saja dia makhluk kera, atau ada vampir lain yang mempunyai kekuatan jauh lebih besar!
***
"Saudariku! Akhirnya kita bertemu juga!" ucap Annastasia ketika bertemu dengan Annabela dan langsung memeluknya. Dia merasakan hatinya sangat lega karena bertemu juga dengan saudari kembarnya.
__ADS_1
"Apa kabarmu, Annastasia? Kau sudah menjadi ketua vampir putih. Aku sangat senang, Saudariku!"
"Ya, Saudariku. Sangat banyak yang ingin aku ceritakan ...."
Mereka langsung terlibat pembicaraan yang sangat panjang. Annastasia merasa tak cukup waktu untuk menceritakan semuanya. Sementara Annabela hanya menjadi pendengar.
"Bagaimana kabar Amira, Leon?" tanya Andrian yang teringat dengan Amira.
"Amira baik-baik saja! Dia sudah menerima lamaranku. Beruntung aku sudah bisa berjalan di dunia terang sehingga bisa bertemu dengan keluarga Amira. Aku sangat berterima kasih kepada Nona Annastasia!" ungkap Leon yang tidak memberi kesempatan Andrian bernostalgia dengan Amira.
Andrian hanya tersenyum. Sikap Leon masih sama padahal mereka sudah menjadi saudara.
"Syukurlah kalau seperti itu. Mungkin nanti aku akan menemui Amira."
"Tidak usah! Untuk apa?" cegah Leon secepat kilat.
"Hanya sekedar bertegur sapa saja. Apa kamu masih cemburu padaku, Leon?"
"Cemburu? Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin Amira menjadi cemas lagi!"
"Hhmmm, memangnya apa yang dicemaskannya?"
Leon terdiam. Berusaha mengatur kata-kata.
"Aku tidak ingin Amira mencemaskan masalah keluarga kita. Amira sudah banyak melalui kejadian luar biasa karenaku. Sekarang, aku hanya ingin melihat Amira bahagia!"
Kata-kata Leon memang ada benarnya. Andrian juga tidak ingin Amira melalui kesulitan lagi. Meski hatinya masih merasakan sesuatu yang berbeda setiap teringat padanya.
***
__ADS_1
Hai gengs maaf ya sedikit telat karena ada kesibukan, bagaimana kisah Amira dan Leon selanjutnya ya, apakah Leon akan pindah ke lain hati?