PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 24. KOLAB VAMPIR DAN MANUSIA HARIMAU


__ADS_3

***


Leon terus mencari keberadaan Casandra. Dia tahu apa yang dipikirkan Amira. Tentang kesalahannya yang sudah menyerang Wijaya meski itu untuk kebaikan mereka.


"Cristian selalu punya kaki tangan, dia adalah manusia yang berhati iblis. Jauh lebih menakutkan dari makhluk kegelapan!"


Alex hanya bisa memberikan sedikit info untuk Leon.


"Seperti apa manusia itu, Ayah?"


"Dia manusia yang rakus akan harta, tapi bisa menutupi keserakahannya dengan baik!"


Banyak manusia yang punya kriteria seperti yang dikatakan ayahnya. Leon tak akan mudah menemukan manusia seperti itu. Mau tidak mau harus meminta bantuan seseorang yang bisa berjalan di dalam terang. Seseorang itu bukanlah Amira karena Leon takut malah membuatnya dalam bahaya.


Leon melihat Amira bersama Wijaya ketika pulang bekerja. Kebersamaan mereka membuat Leon merasakan gemuruh di hatinya. Leon hanya bisa bersama Amira di malam hari tapi Wijaya bisa bersamanya kapanpun.


Wijaya merasakan kehadiran Leon sejak dari rumah Amira. Saat itu Wijaya sedang tidak ingin bertempur jadi membiarkan sosok Leon di dalam kegelapan.


"Apa yang kau inginkan? Aku tidak ingin bertempur!"


Wijaya menghentikan mobilnya di tempat yang agak sepi. Dia tahu, Leon masih mengikutinya.


Leon menampakkan diri. Dia juga tidak bermaksud untuk menyerang Wijaya.


"Aku butuh bantuanmu!" jawabnya singkat.


Wijaya tertawa sinis.


"Bantuan? Bukankah kamu tidak suka padaku? Apa kau tidak tahu malu?"


"Ya! Aku memang tidak menyukaimu karena terlalu dekat dengan Amira. Apalagi kau sudah menandainya! Amira adalah pacarku!"


Nada suara Leon mulai meninggi. Hatinya menjadi panas setiap kali teringat Amira sering bersama Wijaya.


"Lalu kenapa sekarang kau meminta bantuanku?"


"Aku bukan pembunuh Rena atau Ibu Amira!"


"Aku tahu! Tapi, vampir lain yang melakukannya."


"Kau tahu? Lalu kenapa mendekati Amira?"


"Itu lain persoalan!"


Hati Leon benar-benar panas. Sikap Wijaya benar-benar angkuh.


"Baiklah! Aku tidak mau bertengkar. Aku hanya meminta bantuanmu mencari kaki tangan vampir yang sudah membunuh Rena. Mungkin dia sudah menculik beberapa orang untuk dipersembahkan kepada Cristian, vampir yang menghisap darah manusia!" ungkap Leon panjang lebar.


Wijaya mendengarkan dengan saksama. Dia merasa Leon tidak berbohong. Tidak salah membantunya, bila untuk mengungkap pembunuhan Rena.


***


Gisella mempercepat langkahnya ketika menyadari tidak ada orang lain di sekitar kampus.


"Dasar Nania! Lusi apalagi! Kenapa mereka barengan gak masuk kampus! Awas aja besok. Mereka harus dikasih pelajaran!" gerutu Gisella.

__ADS_1


Dosennya tiba-tiba memundurkan jadwal pelajaran. Gisella tidak sempat menghubungi dua sahabatnya. Dia tak mengira keduanya malah tidak masuk.


"Sialan! Handphone mereka gak ada yang aktif!"


Gisella masih saja menggerutu. Tak sadar ada seseorang yang sedang mengikutinya.


"Siapa itu?"


Gisella langsung menoleh ketika menyadari ada bayangan di belakangnya. Wajahnya pucat. Kematian Rena sangat menggemparkan isi kampus dan membuat suasana jadi menakutkan.


"Saya, Neng!"


Seorang laki-laki setengah tua muncul dari kegelapan. Dia adalah Gunawan, sekuriti tua di kampus itu.


"Siapa kamu?"


"Saya sekuriti di sini, Neng. Biar saya antarkan Neng sampai di depan kampus. Sekarang banyak kejahatan seperti yang terjadi pada salah satu mahasiswi kemarin!" jelas Gunawan.


"Oh iya, Pak. Saya takut sendirian ...," ujar Gisella. Dia menjadi tenang karena ada sekuriti bersamanya.


Tak lama mereka sudah sampai di taman yang agak gelap.


"Saya sering melihat Neng bersama kawan-kawan. Kenapa sekarang sendirian?" tanya Gunawan lagi sambil berjalan.


"Gak tau nih, Pak. Mereka gak ada kabar, hapenya ga aktif semuanya!"


"Mungkin gak ada signal, Neng! Biasanya seperti itu."


Gisella mulai tidak nyaman karena Gunawan banyak bicara. Dia sengaja sibuk mengutak atik handphonenya sehingga tak sadar menginjak batu kecil. Untung saja, Gisella tidak jatuh tapi handphonenya sempat terlempar.


"Gak usah, Pak! Biar aku aja," cegah Gisella.


Gisella segera mencari handphonenya yang terjatuh. Tempat itu memang agak remang-remang. Dia harus berjongkok agar bisa melihat dengan jelas. Wajah Gisella berubah cerah setelah melihat benda yang dicari.


"Hhmmm, untung kamu masih bisa kutemukan!" ujar Gisella dengan senyum mengembang.


Namun ketika akan kembali berdiri, seseorang sudah ada di depannya.


"Pak Gunawan! Kamu mengagetkan aja."


Wajah Pak Gunawan tanpa ekspresi. Dia mengeluarkan saputangan dan langsung membekap mulut Gisella. Gadis itu masih bisa mencium bau menyengat dan berusaha berontak. Namun, beberapa detik kemudian dia tak sadarkan diri.


Pak Gunawan tersenyum tipis. Bergegas dia menggotong tubuh Gisella yang sudah tak berdaya kembali masuk ke dalam kampus.


Malam semakin larut. Leon merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Sayup terdengar suara jeritan perempuan. Makhluk kegelapan lainnya sudah mendapatkan mangsanya.


***


Amira seperti pungguk merindukan bulan. Setiap malam membuka jendela kamar dan selalu menanti kedatangan Leon. Rasa bersalah kian menyiksa karena sudah membuat Leon bertanggung jawab atas penyerangan kepada Wijaya.


"Maafkan aku, Leon ...," bisik Amira sambil menyeka airmata.


Leon hampir lupa ingatan mendengar suara Amira di kejauhan. Hanya perlu beberapa detik, dia bisa langsung muncul di hadapan kekasihnya itu. Tapi, Leon tidak ingin melihat Amira meragukan kejujurannya. Karena hubungan mereka bukan hanya dua hati tapi juga dua dunia.


"Bersabarlah, Amira. Sebentar lagi, aku akan menemuimu ...."

__ADS_1


Kegelapan segera berakhir. Amira tidak bisa menunggu lagi. Dia harus menyelesaikan kecurigaan Wijaya secepatnya.


"Pak Wijaya, ada seseorang yang mencarimu!" ujar seorang anggota polisi.


"Siapa, ya?"


"Seorang gadis cantik! Dia pacarmu, ya?" goda polisi berseragam itu.


"Aakh masa, sih. Saya masih jomblo, looh," jawab Wijaya ikut bercanda.


"Ya, sudah! Buatku aja!"


"Eeiit! Sesama jomblo dilarang saling mendahului!"


Wijaya segera beranjak dari tempat duduknya menuju ke ruang tunggu.


"Amira?"


Amira mengangguk.


"Maaf mengganggu, Pak. Ada yang ingin saya bicarakan!"


"Oh, baiklah! Kita bicara di luar saja. Kamu mau minum kopi?"


"Ga usah! Saya gak minum kopi, Pak."


"Baiklah! Kita makan saja," ujar Wijaya langsung nyelonong pergi.


Amira jadi sedikit bingung. Tujuannya sangat jelas tapi Wijaya selalu membelokkannya ke arah lain.


"Maaf, Pak. Saya enggak lapar. Saya mau membicarakan soal ...."


"Oke! Nanti kita bisa bicara tapi jangan biarkan perutmu menderita. Makanlah dulu!"


Amira harus lebih bersabar dan mengikuti kemauan Wijaya.


Setelah selesai makan, Amira semakin gelisah. Baru saja, Amira akan membicarakan soal Leon, terdengar bunyi handphone Wijaya.


"Ya, Hallo."


"Ada kasus penculikan di kampus Universitas Nusantara. Seorang mahasiswi bernama Gisella menghilang dari semalam. Tolong diselidiki!" ungkap seseorang dari ujung handphone.


"Apa? Mahasiswi bernama Gisella menghilang? Baik, aku akan ke sana!"


"Gi-Gisella? Dia menghilang?"


"Apa kamu kenal dengannya?"


Amira mengangguk.


"Baiklah! Ikutlah denganku ke kampusmu!"


Untuk sesaat, Amira melupakan tujuannya bertemu dengan Wijaya. Wajah Gisella terbayang di pelupuk matanya. Apakah menghilangnya Gisella berhubungan dengan kematian Rena? Apakah karena vampir juga? Bagaimana dengan Leon?


***

__ADS_1


Hai gengs, makasih ya sudah mampir, ikuti terus kisah selanjutnya ya .... ❤❤❤


__ADS_2