
***
"Maafkan ayah, Amira. Keadaan keuangan kita sedang sulit. Adikmu juga mulai masuk sekolah. Kamu ambil cuti kuliah saja dulu. Kalau kerjaan ayah sudah membaik, kamu bisa teruskan lagi!" ungkap Iskandar, Ayah Amira.
Amira tersentak. Kata-kata ayahnya seperti petir yang menyambar tubuhnya. Dia tahu sudah waktunya sang adik sekolah. Tapi, tidak harus mengorbankan pendidikan Amira.
Itu karena Ayah Amira menikah lagi sebelum setahun ibunya meninggal. Katanya tidak ada yang mengurus Adik Amira. Alasan itu memang wajar. Amira juga tidak bisa menjaganya karena harus kuliah.
"Baik, Ayah!"
Hanya itu yang bisa dikatakan Amira. Tidak ada alasan untuk membantah kemauan ayahnya. Keadaan usaha ayahnya memang kurang baik. Amira tidak akan memaksakan diri untuk kuliah.
Yang disesalkan Amira adalah jika dia tidak ke kampus berarti tidak akan bertemu Leon. Dia juga tidak bisa memberi kabar karena Leon tidak mempunyai handphone.
Sebenarnya Iskandar juga tidak tega melihat Amira hanya diam saja tanpa membantah. Mungkin lebih baik kalau putrinya itu marah dan mengungkapkan semua perasaannya.
Sifat Amira persis seperti ibunya. Asma, Ibu Amira juga pendiam dan jarang bicara. Dia selalu menuruti perkataan Iskandar tanpa membantah.
Malam mengerikan itu kembali hadir di kepala Iskandar. Asma tidak pernah keluar sendirian. Tapi malam itu, dia berkeras untuk pergi membeli obat sendirian. Sementara, Iskandar tak mampu berjalan karena demam.
Tepat jam 10.00, seseorang dari kepolisian menghubungi Iskandar.
"Maaf, Pak. Apa Bapak bernama Iskandar?" tanya seseorang dari ujung telepon.
"Iya benar, saya Iskandar. Ada apa, ya?"
"Saya dari kepolisian. Apa istri anda bernama Asma?"
"Iya, Pak. Istri saya bernama Asma!"
"Sebaiknya bapak langsung ke rumah sakit. Istri bapak mendapatkan kecelakaan!"
Dengan badan yang masih lemah, Iskandar segera menuju ke rumah sakit. Dia mengira Asma hanya mengalami luka-luka. Kenyataannya istrinya itu sudah tiada.
Tak ada yang lebih menyedihkan dari kehilangan orang yang dicintai. Iskandar merasa ada sebagian hatinya yang hilang. Hanya air mata kesedihan yang menemaninya.
"Sebenarnya kematian istri bapak sedikit janggal. Menurut dokter, istri bapak kehilangan banyak darah tp tidak ada luka di tubuhnya. Hanya ada bekas gigitan di bagian leher. Itu pun kami belum tahu apakah luka itu bekas gigitan hewan atau manusia!" jelas polisi muda itu dengan gamblang
__ADS_1
"Manusia? Apa ada manusia yang menghisap darah?"
"Dalam mitos ada makhluk yang bernama vampir. Itu pun belum ada yang bisa membuktikannya. Sambil menunggu proses lebih lanjut. Sebaiknya istri bapak diotopsi terlebih dahulu!"
"Tidak! Saya tidak mau jasad istri saya juga menderita. Saya akan memakamkannya besok!"
Iskandar tidak mau mengotopsi jasad Asma. Keesokan harinya, jasad Asma dimakamkan. Dia ingat, saat itu Amira sangat tegar. Hingga Iskandar memergokinya sedang menangis di dalam kamar sendirian.
Pihak kepolisan tak mampu mengungkap motif kematian Asma. Iskandar harus ikhkas menerima kepergian istrinya meski masih ada yang mengganjal di dalam hati.
***
"Rena ...."
Rena sedang berjalan menuju kelasnya ketika Leon muncul tiba-tiba.
"Aakh! Kamu membuatku kaget aja, Leon? Ada apa? Tumben muncul di depanku?"
"Maaf! Amira di mana?"
"Dia di rumahnya, adiknya sedang sakit!"
"Jangan bohong! Adiknya baik-baik saja."
"Bagaimana kamu tahu?"
Leon memang sudah mendatangi rumah Amira. Semua keluarganya baik-baik saja. Tapi, Amira tidak ada di sana.
"Katakan saja yang sebenarnya!"
"Hhmmm, tapi jangan katakan aku yang bilang, ya! Amira cuti kuliah dan tinggal di mess tempat kerjanya."
Rena terpaksa mengatakan keberadaan Amira. Dia tak tega melihat Leon kelihatan sangat cemas.
"Amira bekerja di mana?"
"Cafe Resto Diamond, coba cari saja di GPS!"
__ADS_1
"Oke, makasih!"
Leon melangkah pergi. Tinggal Rena yang masih tertegun.
Entah apa yang akan terjadi pada Amira dan Leon. Rena berharap mereka akan baik-baik saja.
***
Amira memutuskan untuk bekerja sebagai pelayan. Dia tidak betah hanya di rumah tanpa melakukan apa pun.
Hari pertama bekerja, Amira agak kebingungan karena harus berdandan. Untung saja ada May. Mereka seumuran tapi dia lebih senior karena sudah bekerja sejak lulus SMA.
"Sini aku bantu merapikan rambut dan merias wajahmu. Kita harus rapi di depan customer. Kalau setiap hari seperti ini, nanti kamu juga bisa berdandan sendiri!" ujar May seraya menyisir rambut keriting Amira.
"Makasih ya, May. Aku memang tidak pandai berdandan!" jawab Amira sedikit malu.
"Tenang aja. Kita ini tinggal dan bekerja di tempat yang sama. Aku akan selalu ada untukmu, kamu juga sama. Kita semua sudah seperti saudara. Coba lepas kacamatamu," ujar May memberi instruksi.
Amira menuruti May dan melepas kacamatanya.
"Nah! Sebenarnya kamu ini lebih cantik bila tidak memakai kacamata!"
"Tapi, aku gak bisa melihat!"
"Tenanglah! Nanti sepulang bekerja kita ke toko kacamata. Kamu harus pakai kontak lensa agar lebih cantik!"
Amira mengangguk. Dia tidak pernah berpikir untuk meninggalkan kacamata. Kali ini, dia harus melakukannya.
Penampilan Amira sekarang sudah berbeda karena semua pekerja harus rapi. Rambut panjangnya harus dikonde cepol dan memakai topi juga celemek. Kaca mata tebalnya sudah berganti kontak lens yang membuat wajahnya lebih fres. Behel yang setia menemani, akhirnya dilepas juga.
Amira hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Entah bagaimana kalau leon melihatnya seperti itu. Gadis itu menarik napas panjang. Hatinya kembali bergemuruh.
"Leon ..., aku rindu!"
***
Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Ikuti terus kisah selanjutnya ya ....
__ADS_1