PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 4. RENCANA JAHAT TRIO PENYIHIR


__ADS_3

***


Amira mulai memikirkan sosok cowok bernama Leon. Untuk apa cowok itu mencarinya? Apa minta dibalas budi karena sudah menolong Amira? Padahal dirinya gak pernah menjanjikan apapun.


"Hhmm jadi kamu cewek tercupu di kampus ini, ya?"


Gisella dan gengnya menghampiri Amira yang sedang menikmati makan siang di kantin kampus. Biasanya, selalu berdua dengan Rena. Kebetulan hari itu Amira sendirian.


"Iya, memangnya ada apa?"


Amira sedikit minder begitu melihat Gisella, gadis tercantik di kampus. Dia bersama kedua kawannya yang juga tidak kalah cantik. Mereka seperti girlband korea yang sedang hits, Orange Caramel. Tapi, Amira lebih melihatnya seperti Trio Penyihir.


"Sebenarnya, aku malas mengatakan ini. Tapi, berhubung aku akan membuat pesta ulang tahun, jadi secara pribadi mengundangmu!"


Amira diam sejenak. Merasa aneh karena Gisella sudah mengundangnya.


"Eee, maaf aku gak bisa datang. Aa ... aku sibuk!"


"Heh! Masih untung Gisella mau mengundangmu," ujar Nania.


"Iya! Kalau kamu malu dengan wajahmu, pakai saja topeng!" celetuk Lisa


Ketiganya berlalu sambil tertawa. Amira hanya terdiam sampai mereka tidak terlihat lagi. Memakai topeng? Apa Amira harus datang ke acara itu? Amira mulai meragu.


Sebelumnya, Gisella, Nania dan Lisa sudah membicarakan soal undangan untuk Amira.


"Kamu yakin mau mengundang anak jelek itu, Gis?" Nania kurang setuju dengan rencana Gisella.


"Iya, Gis. Dia cuma mengganggu pemandangan aja!" Lisa juga mengutarakan pikirannya.


"Tenang, aja. Aku sudah merencanakan semuanya dengan baik, kok" jawab Gisella seraya menyeringai.


"Maksudmu? Anak jelek itu cuma buat hiburan aja?"


Lisa penasaran. Nania langsung setuju.


"Kalau begitu, aku setuju. Pasti rame!"


"Pokoknya, bujuk saja anak jelek itu datang ke pestaku," ujar Gisella sangat yakin dengan rencana jahatnya.


"Soal Leon gimana? Kamu undang juga, gak?"


"Iya, Gis. Dia kan gak pernah datang kalau ada acara kampus. Apalagi pesta!"

__ADS_1


"Dia pasti datang!"


Gisella tertawa kecil. Siapa yang menolak undangan darinya. Dia sangat yakin, Leon juga pasti akan datang.


***


Kebetulan dosen memundurkan jadwal mengajar menjadi malam hari. Amira mau tidak mau harus hadir. Padahal, ingin mencari Leon di perpustakaan. Amira terpaksa mengurungkan niatnya.


Amira sengaja menunggu semua mahasiswa keluar ruangan. Dengan demikian dia bisa bebas berjalan. Dulu, Amira pernah memaksakan diri berebut keluar. Yang terjadi, dia malah terjatuh dan hampir terinjak.


Setelah benar-benar sepi, Amira baru keluar ruangan. Langkahnya sangat cepat agar tidak tertinggal bus. Seharusnya, dia berlari. Tapi tenaganya sudah habis terkuras untuk belajar.


Namun, tak seberapa jauh, Amira merasa ada bayangan yang mengikutinya. Dia menoleh. Tak ada siapapun kecuali cicak yang menempel di dinding.


"Aakh kau cicak! Membuatku takut saja. Apa kamu mau ikut pulang denganku?" Gumam Amira.


Amira pun kembali berjalan. Bayangan itu datang lagi. Sepertinya Amira harus berlari.


Begitu tiba di tikungan, Amira hampir menabrak seseorang.


"Hei, hati-hatilah!"


Karena berhenti mendadak, hampir saja Amira terjatuh. Namun, sepasang tangan kekar berhasil menangkapnya. Sementara, buku-bukunya berserakan di lantai.


"Ma ... maaf. Aku tidak melihat dengan jelas?" sungutnya sambil memunguti buku-bukunya.


"Apa kamu selalu ceroboh seperti ini?"


"Hah? Gak kok. Aku hanya buru-buru aja! Aku ...."


Amira berhenti bicara begitu melihat ke arah orang yang hampir ditabraknya. Ternyata orang yang berdiri di depannya adalah Leon.


"Kamu ..., Leon? Maafkan aku," lanjut Amira. Kali ini suaranya melembut.


"Ternyata kamu kenal juga denganku. Tapi beberapa hari yang lalu, sikapmu sangat berbeda!"


"Iya, waktu itu aku lagi buru-buru."


"Apa sekarang kamu gak buru-buru?"


"Yah, buru-buru juga sih!"


Nah, Amira mulai merasakan dadanya panas.

__ADS_1


"Kenapa sih, mulutnya tidak semanis wajahnya!" celetuk Amira dalam hati.


"Jadi wajahku manis, ya? Gak keren atau ganteng gitu?"


"Lumayan manis sih, tapi mulutmu itu ...."


Amira menelan ludah. Dia sudah keceplosan mengatakan hal buruk.


"Jadi, apa maumu?" tanya Amira menutupi kegugupannya.


"Maksudmu?"


"Kamu ke sini mencariku, kan?"


"Bagaimana kamu tahu kalau aku mencarimu?"


Leon melangkah mendekati Amira hingga gadis itu terpojok. Mata Leon memerah dan napasnya menderu.


Amira memejamkan mata. Membayangkan kalau benar Leon itu vampir, dia pasti sudah menghisap darahnya.


"Kamu benar! Aku mau mengembalikan buku catatanmu yang terjatuh di perpustakaan!"


Leon menyodorkan sebuah buku bewarna pink. Amira bisa bernapas lega dan mengenali buku itu.


"Eeh, itu memang bukuku. Pantas saja aku tidak menemukannya di mana-mana! Makasih ya, Leon!"


"Aku hanya kasihan padamu. Buku itu pasti sangat penting. Apalagi ada ...."


"Eeh, kamu sudah membacanya, ya?"


Amira mendekap buku catatannya erat.


Leon hanya tertawa. Teringat sempat melihat isi catatan Amira. Sesuatu yang memang harus ditutupi karena sedikit memalukan.


Tiba-tiba raut wajah Amira berubah.


"Aduh! Bus terakhir sebentar lagi datang. Maaf aku harus pergi. Makasih, ya!"


Amira berlari secepat mungkin. Bus sedang menunggu di halte. Gadis itu berharap tidak tertinggal.


Leon hanya tersenyum kecil melihat Amira yang melesat seperti anak panah. Beberapa kali, dia hampir terjatuh karena tidak melihat dengan benar. "Dasar gadis ceroboh!" gumam Leon.


***

__ADS_1


Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Ikuti kisah selanjutnya ya ...


__ADS_2