
***
Amira mulai sibuk lagi dengan buku-bukunya. Hampir seminggu wajah tampan Leon tidak kelihatan. Amira merasa ada sesuatu yang hilang.
Di kamar Amira, bayangan Leon selalu bersliweran. Gadis itu berusaha konsen belajar. Tapi usahanya tidak berhasil.
Sebenarnya, Amira tahu tempat kesukaan Leon yaitu perpustakaan. Tapi gadis itu takut kecewa jika tidak bertemu dengannya.
Nyatanya, Amira sudah berdiri di depan gedung perpustakaan. Masih ada satu hari sebelum ujian. Bagaimanapun, Amira harus bertemu Leon.
"Hai, Amira. Kok, baru kelihatan?"
Risa langsung menyambut Amira.
"Aku sibuk, Mba!" jawab Amira sambil cengengesan.
Biasanya minimal tiga kali seminggu, Amira selalu menyempatÄ·an diri ke perpustakaan.
"Hhmm, sibuk belajar apa pacaran?" goda Risa lagi .
"Nggak kok, Mba. Sibuk belajar, besok sudah mulai ujian!" jawab Amira mencari alasan.
"Oh iya. Kamu mau cari buku apa?"
"Mau lihat buku novel aja, Mba. Buat refreshing otak!"
"Cari novel atau cari gebetan?" celetuk Risa lagi.
"Akh, Mba bisa aja!" jawab Amira sedikit malu.
"Aku merasa aneh, deh. Kenapa ya kalau cowok tampan itu ke sini, pasti kamu datang. Apa ini yang dimaksud takdir Tuhan?"
"Siapa, Mba?" tanya Amira ingin tahu.
"Itu loh, cowok yang bersamamu waktu itu. Dia ada di sana, tuh," jawab Risa sambil menunjuk ke arah laki-laki yang dimaksudnya.
Di sana ada Leon! Amira mulai merasakan debar itu lagi.
"Aakh, cuma kebetulan aja kok, Mba!"
Risa hanya tersenyum. Jelas, Amira jadi salah tingkah begitu melihat Leon. Risa tidak heran lagi. Sudah banyak mahasiswa yang jadi pasangan di tempat itu. Mungkin, Amira akan jadi pasangan berikutnya.
Amira mengambil jalan memutar. Dia berniat mengagetkan Leon. Setelah mendapatkan waktu yang tepat, Amira segera menyergap. Tak sabar melihat reaksi Leon. Wajah tampannya itu pasti aneh bila sedang terkejut.
Sedetik kemudian, langkah Amira terhenti. Seorang gadis berambut pirang muncul di dekat Leon. Dia sangat cantik seperti boneka.
Leon tersenyum ketika gadis pirang itu memeluknya dari belakang. Mereka sangat akrab dan berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti Amira.
Mungkin bahasa Jerman, Rusia atau Francis. Aakh, Amira menyesal tidak mengenal Leon lebih dekat. Sepertinya kesempatan itu semakin jauh. Bisa jadi gadis pirang itu adalah pacar Leon.
Amira melangkah mundur menjauhi Leon. Merasakan sesuatu bergemuruh di dadanya.
"Dasar, Gadis Cupu! Seharusnya kamu tahu diri!"
Tanpa sadar, Amira memukul kepalanya dengan buku yang ada di tangannya. Gadis itu merasa hilang ingatan.
Setidaknya, Amira menemukan novel yang bisa menghibur hatinya.
"Misteri Pembunuhan Gadis Cupu", Haduh! Amira salah mengambil buku dan meletakkannya kembali di tempatnya semula. Kemudian, dia mengambil buku yang lain.
Ketika Amira mengambil salah satu buku, wajah Leon menyembul dari celahnya. Amira sangat terkejut hingga membuat buku yang dipegangnya terjatuh.
"Aduh! Kenapa Leon ada di situ? Bukankah dia bersama pacarnya!" pikir Amira.
Dengan mengendap-endap, Amira mengambil buku yang terjatuh.
"Aku harus pergi dari sini secepatnya!"
Amira berharap Leon tidak tahu keberadaannya. Namun, tiba-tiba cowok tampan itu sudah ada di hadapannya. Amira semakin gugup.
__ADS_1
"Leon! Ka ... kamu mengagetkanku saja!" ujar Amira terbata-bata.
Leon menatap Amira lekat.
"Kenapa tidak menyapaku?"
"Aku gak tahu kamu ada di sini!"
"Aku gak suka pembohong!"
"Bener, kok. Sudah, ya. Aku mau pergi!" ujar Amira mencari alasan.
"Tunggu!"
Leon meraih tangan Amira.
"Jangan seperti itu, Leon. Nanti pacarmu melihat!"
Amira berusaha melepaskan genggaman tangan Leon.
"Pacarku? Siapa?"
"Jangan pura-pura. Gadis pirang yang tadi memelukmu, dia pacarmu, kan?"
"Oh, gadis itu. Hhmmm, jangan katakan kalau kamu cemburu dengan dia!"
Amira melotot.
"Cemburu? Kenapa cemburu? Yang jadi pacarmu itu kan dia, bukan aku?"
Leon tertawa kecil.
"Jadi ..., kalau kamu pacarku, baru kamu cemburu. Begitu? Kalau kamu cemburu berarti kamu pacarku. Iya, kan?"
Tanpa sadar, Amira mengangguk. Tapi begitu mengerti maksud Leon, ekspresi Amira berubah.
"Tapi kamu kan cemburu berarti kamulah yang jadi pacarku!" seru Leon kekeh.
"Leooon!"
Lagi-lagi Leon tertawa. Teori psikologinya berhasil.
"Baiklah! Kita harus menetapkan kata yang benar. Jadi, kamu pacarku atau aku pacarmu, mana yang benar?"
"Jangan meledek, Leon! Katakan saja yang sebenarnya. Aku gak apa-apa, kok!"
"Oke, jadi kamu pacarku! Itu yang benar, kan?"
"Iikh! Aku pergi saja!"
"Baik, ayo kita makan dulu!"
Leon kembali meraih tangan Amira dan menggenggamnya erat. Amira tak sempat menolaknya.
"Aku gak bawa mobil hanya motor. Kamu gak apa-apa, kan?" tanya Leon dari atas motor gedenya.
"Aku gak apa-apa, kok. Naik sepeda juga bisa!"
"Oke! Lain waktu kita naik sepeda. Sekarang, pakai helm ini dan naiklah.!"
Amira langsung membonceng di belakang Leon setelah memakai helm. Tapi, Leon belum melajukan sepeda motornya juga.
"Ada apa? Apa ada yang salah?"
"Iya, ada yang kurang?"
"Apa?"
"Harusnya seperti ini!"
__ADS_1
Leon meraih kedua tangan Amira dan meletakkan di pinggangnya.
"Nah! Kalau begini baru benar."
"Leoon ...."
"Peluk aku erat, ya. Aku gak mau kamu jatuh karena motor ini gak bisa pelan," jelas Leon lagi.
Amira mengikuti instruksi Leon. Dengan sedikit canggung, dia memegang erat pinggang Leon. Saat itu, dadanya berdebar semakin kencang.
Leon tersenyum puas. Menikmati setiap debar jantung Amira. Yang membuat hatinya terasa hangat.
Leon mengajak Amira ke restoran ayam cepat saji. Tapi, Amira kelihatan tak ***** makan. Padahal biasanya selalu makan banyak.
"Kenapa gak dimakan? Biasanya kamu selalu kelaparan!"
"Aku gak gitu, kok!"
"Seingatku kamu seperti itu. Ingatlah, waktu kamu menangis di samping kampus. Selalu ada ibu kantin yang mengantarkan makanan. Iya, kan?"
Amira mendongak. Yang dikatakan Leon memang benar.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Kalau sedih pasti perut terasa lapar. Makanya aku memesan makanan itu untukmu!"
"Jadi, waktu itu kamu yang memberikan aku makanan? Kata ibu kantin, sedang promo gratis."
Leon tersenyum.
"Aku yang memintanya untuk mengatakan seperti itu. Kamu pasti tidak akan mau menerima pemberian orang apalagi gak dikenal!" ungkap Leon.
Ekspresi Amira kembali berubah. Ternyata Leon sudah perhatian padanya sejak lama.
"Maafkan aku sudah merepotkanmu. Bahkan sejak kita tidak saling kenal!"
"Sudahlah! Sekarang makanlah yang banyak!"
Amira mengangguk. Kali ini, dia tidak meragukan Leon lagi. Ternyata, Leon sudah sejak lama ada di dekatnya.
Leon ikut menyantap makanannya. Sebenarnya dia lebih suka menyantapnya mentah. Tapi, dia tidak ingin ada yang tahu kebiasaannya.
"Ayolah! Aku akan mengantarmu pulang!" ujar Leon setelah selesai makan.
"Apa gak apa-apa kalau kamu mengantarku pulang? Apa gadis pirang itu tidak marah?"
Amira masih khawatir.
"Tenanglah! Namanya Casandra. Dia adikku!"
"Apa! Dia adikmu? Kenapa gak bilang dari tadi?"
"Aku hanya senang melihatmu cemburu. Berarti kamu itu adalah pacarku!"
"Leeoon! Jangan meledekku terus. Soal pacar adalah masalah serius!" ujar Amira sedikit gusar. Dia tak ingin jadi baper karena perkataan Leon.
"Aku serius, Amira. Kita pacaran saja. Kamu adalah pacarku dan aku adalah pacarmu. Iya, kan?"
Amira terdiam. Menatap Leon lekat. Mencari kebenaran perkataan Leon lewat matanya.
Mata berwarna biru itu mengatakan segalanya. Amira dan Leon berjalan sambil bergandengan tangan hingga mereka menjadi tua.
Akhirnya, Amira mengangguk pasti. Tak ada keraguan lagi di hatinya.
"Iya! Kamu adalah pacarku!"
***
Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Ikuti terus jalan ceritanya ya ....
__ADS_1