
***
Keluarga Amira menerima kedatangan Wijaya dan sangat mempercayainya. Sebelumnya, Wijaya meminta izin untuk mengajak Amira berlibur. Ayah Amira mengizinkannya tanpa banyak pertanyaan.
"Apa liburan kalian menyenangkan? Memang sebaiknya Nak Wijaya sering-sering liburan meski gak sama Amira. Biar tidak mengurusi pekerjaan melulu," celetuk Ayah Amira.
"Baik, Pak. Bagaimana kalau kita liburan bareng? Apa ke pantai? Mumpung masih musim panas," jawab Wijaya yang malah mengajak liburan bareng.
Amira teringat janji Leon untuk mengajaknya ke pantai. Andai saja saat ini, Wijaya adalah Leon, pasti sangat menyenangkan.
"Ma-maaf, saya mau ke kamar. Saya tinggal dulu ya, Abang Wijaya!"
Amira membiasakan diri bersikap tidak terlalu formal dengan Wijaya. Tapi, malah membuatnya canggung.
Ayah Amira tersenyum mendengar Amira memanggil Wijaya dengan sebutan abang. Berarti mereka sudah lebih dekat.
"Baiklah! Aku masih ingin mengobrol dengan ayahmu. Boleh, kan?"
"Ya tentu bolehlah, Nak Wijaya. Kamu istirahat saja, Amira!"
"Baik, Ayah!"
Amira melangkah pergi menuju ke kamarnya. Sekilas, dia melihat ayah dan Wijaya kembali mengobrol. Terakhir ini, mereka menjadi lebih akrab.
Setelah mandi, Amira merasa tubuhnya lebih segar. Baru saja Amira menutup pintu, sebuah bayangan hitam muncul dan berdiri di depannya. Amira sangat terkejut dan hampir terjatuh. Untung saja Bayangan itu sigap dan menarik Amira ke dalam pelukannya.
"Leooon! Kamu membuatku kaget aja!" seloroh Amira setelah tahu siapa bayangan itu.
"Jangan salahkan aku kalau kamu kaget. Aku tidak melakukan apa pun dan hanya diam. Kalau kamu merasa terganggu, aku akan pergi saja!" rajuk Leon sambil membalikkan badannya.
"Eeeh, jangan pergi. Aku gak ngerasa terganggu, kok!"
Leon tersenyum, usaha merajuknya langsung berhasil.
"Baiklah! Aku ingin istirahat sebentar di sini!"
Leon langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Amira melotot melihat kelakuan Leon.
"Iikh! Jangan di situ, Leon. Nanti ada yang melihat!"
"Siapa yang melihatku? Ayahmu? Atau Manusia harimau itu?"
"Leooon! Kau tahu dia adalah Wijaya, bukan manusia harimau. Apa kamu mau disebut vampir?"
__ADS_1
"Aku memang vampir! Aakh, sudahlah! Aku mau tidur. Tolong tutup jendela, ya!"
Leon langsung membalikkan badan dan memeluk guling.
"Heeh! Bagaimana kamu bisa keluar saat panas seperti ini?"
Tidak ada jawaban. Leon benar-benar sudah terlelap.
Amira mengendap-endap mendekati Leon. Mencolek hidungnya yang mancung, mengira Leon akan membuka mata. Tapi, Leon tetap terpejam.
Sesaat Amira tertegun. Rindu itu perlahan hadir kembali. Padahal saat ini, Leon ada di dekatnya.
"Aku sangat merindukanmu, Leon. Andai kau hanya manusia biasa. Kita bisa pergi ke mana saja. Kau bisa menemui ayah dan keluargaku. Kita bisa berlibur ke pantai atau ke gunung," bisik Amira pelan seraya mengusap rambut coklat Leon.
Amira terkesima dengan wajah tampan Leon. Masih tak percaya kalau dia adalah pacarnya. Beberapa saat yang lalu, Leon adalah vampir yang sangat gagah dan siap bertempur. Kini, Leon hanya seorang laki-laki biasa.
Sekali lagi, Amira menyentuh hidung Leon dengan ujung jarinya, kemudian pindah ke area matanya. Bulu matanya sangat lentik bak bulu mata palsu milik artis terkenal. Setelah itu, ujung jari Amira mulai nakal dan menyentuh bibir Leon.
Jantung Amira semakin berdegup kencang. Teringat beberapa kali menyentuh bibir Leon dengan bibirnya.
"Jangan berpikiran jorok, ya!"
Mendadak, Leon membuka mata. Amira sangat terkejut dan segera menjauh. Tapi, Leon menarik tangannya sehingga Amira jatuh ke pelukannya.
Amira meronta kala Leon memeluknya erat.
"Sebentar saja, Sayang. Katanya kamu kangen ...."
"Iikh, siapa bilang?!"
"Apa kau lupa kalau aku bisa membaca pikiranmu?"
"Enggak, kok. Aku gak mikirin apa-apa!" kilah Amira.
"Masa, sih? Bahkan aku mendengar suara hatimu yang merindukan sebuah ciuman!"
"Leooon! Tutup matamu."
Amira menutup mata Leon dengan telapak tangannya.
"Usahamu sia-sia! Aku bisa mendengar degup jantungmu yang semakin kencang!"
Leon meraih tangan Amira dan menggenggamnya erat.
__ADS_1
"Aku juga merindukanmu, Sayang. Untuk itulah aku ke sini meski matahari bisa membakar tubuhku!"
"Leooon, kau bisa menemuiku nanti malam!"
"Tidak ada waktu lagi. Rindu itu bisa membunuhku bila tertahan lebih lama lagi."
Amira menatap Leon lekat. Betapa rindu itu juga membuat dirinya bisa mati kapan saja.
Wajah kedua insan itu semakin dekat. Beberapa detik kemudian bibir mereka saling memangut lembut.
"Amira! Apa kamu sudah selesai rapih-rapih? Nak Wijaya sudah mau pergi!"
Leon dan Amira sangat terkejut dan segera melepaskan ciuman mereka. Leon tidak mengerti mengapa tidak mengetahui keberadaan Ayah Amira. Mungkin dia sudah terhanyut dalam suasana syahdu itu.
"Iya, Ayah! Sebentar lagi Amira selesai."
Amira juga sangat panik.
"Aku mau keluar. Kamu di sini saja, ya. Jangan pergi dulu!"
"Tunggu, Amira. Aku ingin memelukmu sekali lagi!"
Leon memeluk Amira erat. Dia sangat membenci keadaan seperti ini. Waktunya untuk berpisah.
"Sudahlah, Leon. Aku pergi sebentar saja. Nanti ke sini lagi, kok!"
"Baiklah! Pergilah. Tapi kau harus tahu, aku sangat mencintaimu!"
"Aku tahu, kok. Aku juga sangat mencintaimu," jawab Amira sebelum melangkah pergi.
Leon masih tertegun meski Amira sudah tidak kelihatan. Waktunya untuk pergi meski terasa sangat berat. Saat ini, ayahnya sangat membutuhkan kehadirannya. Leon sudah memilih, dia harus pergi.
Amira mengantarkan kepergian Wijaya sampai di depan pintu. Kemudian, berlari menuju ke kamarnya. Leon pasti sedang menunggunya.
Namun, kamar tidurnya kosong. Hanya tirai yang melambai tertiup angin. Leon sudah pergi.
Airmata Amira menetes. Perasaannya mengatakan Leon akan pergi dalam waktu yang lama.
"Leooon ..., aku mencintaimu! Sampai kapan pun aku akan menunggumu," bisiknya sambil membuang pandangannya ke luar jendela. Berharap Leon mendengar suaranya.
***
Hai gengs ketemu lagi dengan vampir, uups dengan mimin othor, jangan lupa ikuti terus ya, bisa sambil ngemil kok, asal jangan banyak-banyak nanti bisa jadi nduut hihi ❤❤❤
__ADS_1