PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 13. KATAKAN SAJA JIKA RINDU


__ADS_3

***


Amira merasa dirinya semakin terpenjara. Tak ada waktu memikirkan diri sendiri atau hati yang selalu merintih. Sementara kerinduan hanya tersimpan tanpa ada kesempatan.


"Amira! Ada customer yang mau pesan makanan. Dia maunya dilayanin sama kamu. Cowok itu sangat aneh. Dia memakai jaket tebal dengan penutup kepala. Wajahnya tertutup masker dan kacamata hitam.Tapi, aku tahu dia pasti ganteng!" cerita May siang itu.


"Kenapa pula siang-siang begini pake jaket. Jangan-jangan dia sakit kulit!" celetuk Lusi.


"Sudahlah! Pergilah Amira. Nanti dia komplain karena gak dilayanin!" ujar May mengingatkan.


Akhirnya, Amira sampai juga ke hadapan customer aneh itu.


"Menunya apa saja di sini?" tanya cowok aneh itu.


Amira terdiam, dia seperti mengenali suara laki-laki aneh itu.


"Ada kopi, Tuan!"


"Aku gak suka kopi! Yang lain apa?"


"Roti bakar juga ada!"


"Hhmmm, yang lain apa?"


Amira mulai kesal. Ingin sekali menjauhi orang aneh seperti itu.


"Sebenarnya kamu mau pesan gak sih?" komplain Amira dalam hati.


"Eeh! Kok kasar gitu?"


"Maaf, maksud Tuan apa?" Amira pura pura tak tahu.


Amira menarik napas panjang. Mencoba menenangkan diri. Dia tidak ingin ada masalah yang akan merepotkannya sendiri.


"Maaf, Tuan. Bagaimana kalau steak?" tanya Amira lagi dengan suara rendah.


"Nah itu, aku suka!"


"Baik, satu paket steak. Minumnya apa, Tuan?"


"Sesuatu yang hangat, seperti hatimu!"


Amira melotot. Dia paling tidak suka customer yang suka merayu.


"Semua hati manusia pasti hangat, Tuan. Karena kita semua hidup," jawab Amira asal jeplak.


"Bagaimana dengan vampir? Dia hidup tapi hatinya hitam?"


Amira mendongak. Gaya bicara laki-laki itu seperti dikenalnya.


"Bagaimana kalau terlalu rindu, membuat hati menjadi beku?"


"Hentikan! Kamu ...., Leon?"


"Bukan, aku bukan Leon. Tapi, pacarnya Amira Asmadari!"


"Leoon! Kenapa ke sini? Nanti ketahuan managerku!"


Amira menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada Pak Handoko. Hanya May dan lusi yang memerhatikannya dari jauh.


"Tenanglah! Aku kan customermu."


"Baik! Mau pesan apa lagi, Tuan?"

__ADS_1


"Bagaimana sepiring rindu dan semangkuk cinta?"


"Leoon ...!"


"Oke, deh. Steak saja dan minuman soda dingin!"


"Baik, Tuan. Terima kasih pesanannya!"


Amira cepat-cepat pergi dan menemui kasir.


"Siapa cowok aneh itu, Ra?"


"Dia kawan di kampusku dulu!"


"Siapa namanya? Kalian teman dekat, ya? Apa pacar?" May kepo.


"Temen dekat aja kok, May!"


Amira memilih menjauhi May dan Lusi agar tidak ada pertanyaan lagi.


"Kenapa juga Leon ke sini? Apa mungkin dia tahu aku sangat merindukannya?" pikir Amira.


Leon tersenyum tipis, dia tahu Amira juga merindukannya tapi tidak mau mengatakannya.


Tak lama, pesanan Leon selesai dan Amira mengantarkan ke mejanya.


"Silakan dinikmati, Tuan."


"Nanti malam aku ke sini lagi, ya!"


Amira mendongak. Lama-lama, semua tahu siapa leon kalau sering datang.


"Besok saja aku libur. Tapi, aku mau pulang dulu. Kita bertemu di kampus!"


Lagi-lagi, Amira melotot.


"Gak usah, Leon! Iih, susah amat sih dibilanginnya!"


"Aku gak bisa menahan rindu lagi!"


"Leoon! Sudah, aakh!"


Amira nyelonong pergi. Leon hanya tertawa kecil. Hatinya yang terakhir ini terjerat rindu sebentar lagi akan bebas.


Beberapa perempuan di meja sebelah leon saling berbisik.


"Aku tebak dia pasti artis! Biasanya mereka menyamar karena takut ketahuan penggemarnya!" bisik salah satu dari mereka.


"Iya, benar. Dia pasti artis! Postur tubuhnya tinggi dan porposional, pasti ganteng juga!" bisik satunya lagi.


"Ya, sudah. Aku mau langsung mendatanginya, aja!"


Perempuan yang paling mencolok dandanannya mendekati Leon.


"Hai, boleh kenalan?"


Dari jauh Amira menatap Leon dengan pandangan penuh bara api. Leon menyadari saat itu Amira akan membakarnya hidup-hidup jika melayani perempuan kesepian itu.


"Aaagh uuugh ...," jawab Leon seperti orang bisu.


Perempuan itu sepertinya sangat terkejut dengan reaksi leon.


"Maaf, aku salah orang!" Perempuan itu langsung kembali ke tempatnya.

__ADS_1


"Sialan! Dia bisu!"


Teman-temannya langsung tertawa.


Leon melirik Amira. Gadis pujaannya itu mengangkat dua jempolnya sambil tersenyum manis.


***


Penampilan Amira memang sangat berbeda. Tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya selalu rapi dan mengikat rambut panjangnya. Amira ragu apakah membiarkannya tergerai seperti biasa. Dia takut Leon tidak mengenalinya.


Akhirnya, Amira memutuskan mengikat rambutnya. Mungkin karena sudah terbiasa di tempat kerja. Bahkan dia sedang memikirkan untuk memotong rambut agar tidak capek-capek menatanya sebelum kerja.


"Amira mau keluar dulu ya, yah. Sepertinya nanti Amira langsung ke tempat kerja," ujar Amira berpamitan dengan ayahnya.


"Apa kamu tidak mau bermain dengan adikmu dulu. Asyira selalu menanyakanmu."


Iskandar berusaha menahan Amira. Ada rasa bersalah setiap Amira pergi ke luar rumah.


"Nanti, Amira menemui Asyira sebentar! Kayaknya tadi sedang tidur dengan Kayla, yah."


"Baiklah, jangan lupa pamitan dengan mamamu sebelum pergi! Tunggu sebentar ..., jangan pulang malam sendirian. Ajak kawanmu untuk pulang!" pesan Iskandar cemas.


Entah kenapa, kini lebih mencemaskan Amira. Dia tidak ingin peristiwa mengerikan yang terjadi pada istrinya terulang kembali.


Amira mengangguk. Biasanya, Rena memang selalu bersamanya. Tapi, sekarang dia selalu sendirian.


Hubungan Amira dengan ibu tirinya memang tidak terlalu akrab. Itu karena Amira memang pendiam dan lebih suka menghindar jika ada kesempatan.


Bukan karena Amira membenci ibu tirinya. Tapi, karena bayangan ibunya masih melekat dalam ingatan.


Kedua adik mungilnya masih tertidur. Amira mencium mereka perlahan agar tidak bangun. Namun begitu akan keluar kamar, Asyira terbangun.


"Kak Amira ...," panggil Asyira.


Amira segera menoleh dan menemukan adiknya itu sedang terduduk di tepi ranjang.


"Asyira kangen Kak Amira ...," ujar anak kecil itu lirih.


Amira segera memeluk adik kecilnya itu erat.


"Kak Amira juga kangen Asyira ...."


Tanpa terasa sebutir air mata mengalir di pipinya. Anak sekecil itu sudah kehilangan ibunya. Amira merasa bersalah karena tidak bisa menjaganya.


"Kak Amira jangan pergi lagi. Katanya mau main dengan Asyira dan Adek Kayla."


"Iya, Sayang. Nanti kalau Kak Amira libur lagi kita akan main ke taman, ya!"


"Syira maunya sekarang, Kak!"


Bocah perempuan itu tak mampu menahan tangis. Kesedihannya terobati ketika mendapatkan seorang adik. Tapi kehadiran kakaknya juga sangat menghibur.


Amira melirik jam tangannya. Sudah jam 4 sore. Masih ada waktu untuk bermain sebentar dengan kedua adiknya.


Tak lama, Amira sudah asyik bercengkrama dengan adik-adik mungilnya. Hatinya yang terakhir ini tak menentu seakan terlupakan dengan canda dan tawa mereka.


Tanpa terasa, hari sudah menjelang malam. Leon sudah menunggu Amira di depan kampus. Tentu saja di sisi gedung yang gelap.


Leon merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya. Tanpa sadar, kerinduan sudah membawanya menjadi manusia.


***


Hai gengs makasih ya sudah mampir, ikuti terus jalan cerita selanjutnya ya ....

__ADS_1


__ADS_2