PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 5. SELAMAT, KAMU SUDAH JATUH CINTA!


__ADS_3

***


"Jadi kamu sudah ketemu Leon, Ra? Gimana dia? Haduh! Kenapa kemarin aku gak masuk kuliah, ya?" Rena memukul kepalanya karena menyesal tidak bertemu Leon.


"Katamu dia cowok terganteng di kampus kita. Menurutku biasa aja! Tapi, dia lumayan baik, sih. Bahkan, sudah tiga kali menolongku."


Amira teringat pertemuan pertamanya dengan Leon. Dia sudah mencurigainya sebagai vampir. Ternyata, Leon malah menolongnya.


"Lumayan baik? Sadarlah Nona Amira! Leon itu jarang sekali menampakan diri. Dia mengambil kelas malam. Katanya kalau siang, dia itu magang di sebuah klinik. Lalu, tiba-tiba kamu bertemu dengannya dan dia mencarimu! Hellooo, itu adalah anugerah terindah yang banyak diharapkan cewek di kampus kita ini, Nona!" ungkap Rena sedikit gusar.


Amira hanya tertawa kecil. Kemudian dia terdiam. Teringat debar ketika berdekatan dengan Leon. Pasti banyak gadis yang merasakannya juga.


"Aku gak nyangkal kalau hatiku berdebar di dekat Leon. Bahkan kami sempat berpelukan, uups ...."


Amira menutup mulutnya tapi Rena terlanjur mendengar ucapannya.


"Heiii, Nona Amira! Ternyata kamu lebih maju daripada aku, ya! Selamat ya, kamu sudah jatuh cinta!"


"Pasti banyak yang jatuh cinta sama Leon, Ren. Aku mah apa atuh! Gadis cupu tak dikenal bahkan tak ada yang melihat!"


"Apa peduliku dengan mereka. Yang penting Leon sudah melihatmu, Amira. Itu adalah anugerah!" ujar Rena tegas.


Amira termenung. Dia sangat tahu siapa dirinya dan Leon. Mana mungkin mereka jadian. Gadis itu hanya menggeleng, harapan palsu itu lenyap dari kepalanya.


"Bagaimana dengan pesta Gisel? Kamu mau datang gak? Aku sudah mendapatkan undangan dari Grup WA," jelas Rena sambil menunjukan undangan dari Gisella di handphonenya.


"Aku gak gabung di grup WA. Tapi anehnya, Gisella sudah mengundang langsung!"


"Bagus, dong! Nanti kita ke sana barengan, aja."


"Entahlah, aku merasa aneh aja, Ren. Selama ini, sekali pun Gisel tidak pernah melihatku. Kenapa sekarang dia malah mengundangku ke acara ultahnya?"


Amira ragu-ragu.


"Tenanglah! Aku akan menjagamu!"


Perkataan Rena sedikit menghilangkan keraguan Amira.


***

__ADS_1


Akhirnya, Amira dan Rena datang juga ke acara ultah Gisella. Keluarga Gisella memang orang berada. Rumahnya seperti istana dengan halaman yang sangat luas.


Beberapa mobil dan motor sudah terparkir di depan rumah Gisella. Mereka semuanya berdandan cantik-cantik dan tampan-tampan.


"Kenapa, Ra? Ayo kita masuk ke dalam," ajak Rena ketika Amira malah menghentikan langkahnya.


"Perasaanku gak enak, Ren. Kita pulang aja, yuk."


Amira membalikkan badannya hendak pulang. Tapi Rena malah menarik tangannya.


"Eeh, kita sudah terlanjur di sini. Ayolah! Emang kamu gak mau ketemu pangeran vampirmu itu?"


"Siapa?"


"Ya Leon, lah!"


"Aku malah semakin ragu kalau ada Leon, Ren! Aku takut melakukan kesalahan dan membuatnya membenciku!" ungkap Amira penuh kecemasan.


"Sudahlah! Pokoknya kamu menempel saja padaku, ya."


Amira mengikuti instruksi Rena dan berharap tidak terjadi hal buruk.


Wajahnya kelihatan sangat cemas. Sebenarnya, dia tidak ingin datang ke pesta Gisella. Tapi setelah mendengar pembicaraan Gisella dan teman-temannya, pikiran Leon berubah. Mereka mengincar Amira.


Setelah waktu yang sangat lama, Leon baru bisa mencemaskan seorang gadis. Seratus tahun, dua ratus tahun, hatinya berubah hitam. Kegelapan membuatnya menjadi mahkluk tanpa rasa.


Kini, perlahan hatinya mulai hangat. Kehadiran Amira membuatnya memikirkan hal lain selain kegelapan.


"Ingatlah! Kau harus mempunyai rasa cinta. Baru kamu bisa menjadi manusia!" ujar lelaki renta yang dipanggilnya ayah.


Tuan Alex, dia menyelamatkan Leon dari kegelapan. Mengajarkan untuk tidak memangsa manusia. Dia hanya memangsa makhluk hutan. Ketika hutan berubah menjadi pemukiman, tidak ada lagi yang bisa dimangsa. Mereka pun membuat peternakan.


"Lalu, bagaimana caranya mendapatkan rasa itu?"


"Kau akan menemukannya!"


"Kapan itu?"


"Jika kau mulai mencemaskan seorang gadis. Dialah yang akan mengubahmu menjadi manusia, dengan cinta!"

__ADS_1


Leon memang ingin menjadi manusia biasa. Tahun demi tahun telah berlalu. Hatinya berubah hitam. Dia sudah bertemu puluhan bahkan ratusan gadis-gadis cantik. Tak satu pun dari mereka yang bisa membuat Leon memikirkannya.


Namun sangat berbeda dengan Amira. Dari rupa memang dia tidak begitu cantik. Tapi ketika mata mereka bertemu, Leon melihat sebuah tempat yang begitu damai.


***


Sementara itu, Lisa dan Nania sudah menunggu Amira dan Rena di depan pintu.


"Hai, Ren. Ikut aku yuk. Gisel mencarimu!"


Lisa langsung menggandeng Rena.


"Amira sayang, aku punya gaun cantik untukmu. Aku rasa baju yang kamu kenakan kurang cocok untuk pesta!"


Nania juga menggandeng Amira menuju ke lantai atas.


Ternyata, tidak ada siapapun di sana. Amira mulai curiga.


"Eeh, aku cari Rena dulu ya,"


ujar Amira mencari alasan.


"Gak usah! nanti juga kita bertemu di pesta. Ayo! Ganti bajumu, aku akan menghias wajahmu agar lebih cantik!"


Amira terpaksa mengikuti kemauan Nania. Dia memberikan gaun berwarna merah dengan jubah hitam seperti seorang puteri kerajaan.


"Aku akan menghias wajahmu, ya! Jadi pejamkan matamu!"


Entah kenapa Amira mau saja diperintah Nania. Bayangan Leon menghampiri benaknya. Jika Amira kelihatan cantik pasti Leon akan terpesona padanya.


"Bukalah matamu dan lihatlah. Kau menjelma menjadi gadis cantik seperti Tuan Puteri!"


Amira tertegun melihat wajahnya sendiri di cermin. Tak percaya kalau gadis cantik itu adalah dirinya.


"Apa beneran itu aku?"


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2