PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 25. AKU TAHU, PACARKU TAK BERSALAH


__ADS_3

***


Wijaya mengajak Amira ke lokasi penculikan di kampusnya. Di sana sudah menunggu beberapa polisi. Mereka langsung memberi hormat dan Wijaya menyambutnya. Dia kelihatan sangat berwibawa.


"Pak Wijaya!"


Seorang laki-laki berpakaian biasa memanggil Wijaya.


"Iya, Pak Farhan!" jawab Wijaya setelah saling memberi hormat.


"Hhmm apa gadis ini yang tadi mencarimu?" tanya Farhan begitu melihat Amira.


"Kenalkan! Ini Amira. Dia mengenal korban dan kuliah di sini juga!"


"Sepertinya kita pernah bertemu. Oh iya, kamu saksi pembunuhan Nona Rena. Iya, kan?"


"Iya, itu saya, Pak!" jawab Amira yang juga mengenali Farhan.


"Ternyata cinlok itu beneran ada, ya. Kalian udah jadian, kan?"


Amira agak bingung menjawab pertanyaan Farhan.


"Kapan kejadian menghilangnya gadis itu?" tanya Wijaya mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin Amira merasa tidak nyaman.


"Semalam, Pak. Kata orang tua gadis itu, putrinya gak pulang setelah kuliah. Mobilnya juga masih di tempat parkir!"


"Biasanya Gisella selalu dengan dua teman karibnya, Nania dan Lusi. Apa mereka sudah memberi kabar, Pak?"


"Hhmmm, nanti kami yang akan menanyai mereka. Apa kamu punya nomor handphonenya?" Wijaya cepat merespon.


Amira menggeleng.


"Saya tidak punya, Pak. Tapi ..., pasti ada di arsip kampus."


"Baik! Nanti saya akan hubungi mereka!" jawa Farhan.


Mereka masih menelusuri lorong kampus yang sepi. Kegiatan mengajar diliburkan selama tiga hari karena proses penyidikan. Suasana pun bertambah sepi.


Tidak ada yang aneh di tempat itu. Hanya lorong panjang dan jalanan menuju taman tempat mahasiswa menghabiskan waktu sambil belajar.


"Peristiwa ini pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Banyak gadis-gadis menghilang dan sampai sekarang tidak ditemukan!" celetuk Farhan.


"Bagaimana bisa terjadi? Apa gak ada saksi?"


Wijaya mulai ingin tahu.

__ADS_1


"Kejadiannya selalu di malam hari. Hanya ada beberapa orang, sekuriti dan petugas kebersihan. Anehnya, ada seorang sekuriti yang bebas dari penyidikan!"


"Siapa dia?"


"Namanya Gunawan, pekerjaannya sekuriti senior. Umurnya hampir 45 tahun. Aku rasa dia masih bekerja di sini. Tadi aku sempat melihatnya!"


Wijaya mengerutkan keningnya. "Mungkin, Gunawan adalah orang yang dicari Leon," pikirnya.


"Pak Gunawan?" gumam Amira ketika mendengar nama Pak Gunawan disebut.


"Kamu kenal dengannya?"


Amira cepat mengangguk.


"Pak Gunawan biasa menjaga perpustakaan. Aku mengenalnya sejak pertama masuk kuliah. Tapi, dia orangnya baik. Tidak mungkin dia yang menculik Gisella!"


Wijaya dan Farhan saling pandang. Semua pelaku kajahatan biasanya memang orang baik-baik.


"Bagaimana dia bisa lolos? Setahuku, ada alat pendeteksi kebohongan. Siapapun tidak akan bisa lolos dari alat itu!"


"Nyatanya dia bisa lolos, padahal semua bukti mengarah padanya. Sayang, saat itu CCTV semuanya rusak!"


Wijaya terdiam. Dia harus menemui sekuriti itu. Bisa jadi, dia adalah kaki tangan vampir bernama Cristian. Wijaya berharap para korban segera ditemukan.


Amira sedikit terkejut mendengar pertanyaan Wijaya. Dia sedang memikirkan gosip yang beredar di kalangan mahasiswa.


"Katanya, bangunan gedung kampus aslinya sudah lama sejak jaman belanda. Tapi, sebagian besar sudah di renovasi menjadi lebih modern!"


"Apa ada bangunan lamanya yang masih tersisa?" tanya Farhan tertarik juga.


"Hhmmm, sebenarnya ada sedikit gosip atau cerita hantu. Entah itu benar atau tidak. Di perpustakaan sering terlihat penampakan bayangan hitam!"


"Apa itu vampir?"


Tiba-tiba, Wijaya menyela. Amira jadi gugup karena dia tahu siapa bayangan hitam itu. Dia adalah Leon.


Begitu juga Wijaya. Dia tahu Amira tidak akan mengatakan siapa bayangan hitam itu.


"Entahlah, aku gak tahu!" jawab Amira singkat.


Wijaya sudah menebak jawaban Amira.


"Baiklah! Sebaiknya kita mencari peta lama lokasi ini. Amira, aku mengantarmu pulang!"


"Ti-tidak usah! Aku bisa pulang sendiri, kok."

__ADS_1


"Sebentar lagi gelap, ayahmu pasti khawatir!"


Amira tak bisa menolak permintaan Wijaya. Malam sebentar lagi akan datang. Para makhluk kegelapan pasti berkeliaran.


Leon melihat Wijaya mengantar Amira pulang. Dia melihat senyuman mengembang di sudut bibir Amira. Seandainya bisa selalu bersamanya pasti hari-hari yang mereka lalui selalu berwarna.


"Bagaimana dengan Pak Gunawan? Apa dia menjadi tersangka penculikan Gisella?"


"Buktinya belum kuat jadi tidak bisa diproses lebih lanjut. Oh iya, tadi katanya kamu mau membicarakan sesuatu. Apa yang kamu pikirkan?"


Amira terdiam sementara pikirannya melayang jauh.


"Leon tidak bersalah! Aku bisa mempertanggung jawabkan dengan hatiku!"


Suara hati Amira menggema ke seluruh penjuru. Leon hanya bisa melihatnya dari jauh.


"Aku mencintaimu, Amira ...," bisik Leon lirih seperti angin.


Di bagian yang gelap, Leon bertemu dengan Wijaya.


"Benar yang kamu katakan. Ada kaki tangan manusia yang membantu vampir pemangsa manusia itu. Dia menculik beberapa gadis namun sampai saat ini belum ditemukan!"


Leon menatap Wijaya dingin.


"Mengapa kamu membawa Amira dalam situasi ini? Bahkan aku menyembunyikan semua darinya?"


Wijaya terdiam. Leon malah membicarakan soal lain.


"Amira yang menginginkannya sendiri. Aku tahu dia ingin mengatakan sesuatu tentangmu. Seharusnya kau yang paling tahu isi hatinya!"


"Aku khawatir dia menjadi bertambah cemas. Jangan libatkan dia lagi!"


"Aku akan menjaganya, bahkan sampai aku mati sekalipun!"


Amarah Leon kembali muncul. Sosok makhluk kegelapan keluar dari dalam dirinya. Menjadi vampir dengan taring lancip di deretan giginya.


"Aku tak peduli kau mati! Tapi, Aku tidak akan terima kalau Amira harus menderita!"


Wijaya juga tak mampu menahan diri. Amira sudah melekat dalam jiwanya. Matanya memerah semerah darah. Kukunya meruncing tajam dan bulu-bulu halus keluar dari kulitnya.


Keduanya siap bertarung kembali. Mungkin malam ini darah dua makhluk kegelapan akan kembali menyentuh tanah.


***


Hai gengs makasih ya sudah mampir, ikuti terus kisah selanjutnya ya .... ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2