
***
Wijaya belum bisa melupakan Amira sepenuhnya. Sunyinya hutan tak mampu menahan semua kerinduan. Apalagi terakhir ini, mimpi itu selalu hadir. Dirinya berada di pelaminan bersama seorang gadis yang sangat dikenalnya. Dia adalah Amira.
Tetapi, sebuah kabar mengejutkan datang pagi ini. Kakaknya mengatakan kalau Amira akan menikah dengan Leon. Hati Wijaya semakin gundah.
Bagi seorang manusia harimau, ketika sudah menandai seorang gadis, mereka akan menjadi pasangan seumur hidup. Wijaya pernah menandai Amira meski Leon memutuskan tirai putih itu.
Akankah Wijaya akan hidup kesepian selamanya. Sementara pasangan hidupnya akan menikahi laki-laki lain.
"Pergilah! Aku tak suka melihatmu gundah sepanjang hari!" tegur Kakek Wijaya yang juga seorang manusia harimau.
"Aku takut, Kek. Aku takut tak bisa menahan perasaan dan merusak tali yang pernah kuikat!" jawab Wijaya tanpa menerangkan maksud perkataannya langsung.
Sesungguhnya, Kakek Wijaya mengetahui isi hati dan pikiran cucunya itu.
"Dulu, Kakek juga pernah muda sepertimu. Kakek bertemu seorang gadis yang sangat cantik. Karena Kakek sangat mencintainya, makanya Kakek menandai gadis itu agar kami bisa hidup selamanya," ungkap Kakek Wijaya lirih.
"Lalu, kenapa sekarang Kakek sendirian?"
Kakek Wijaya terdiam, ingatannya melayang jauh. Gadis tercantik di desanya kembali terbayang.
"Gadis itu menderita sakit parah dan Kakek terlambat datang. Manusia harimau hanya bisa menandai pasangannya satu kali seumur hidup. Makanya sekarang Kakek hidup sendirian," ungkap Kakek Wijaya seraya menarik napas panjang.
"Aku gak mau jadi jomblo seumur hidup, Kek. Aku ingin punya keluarga. Ada istri di sisiku dan anak-anak yang lucu!" ujar Wijaya penuh keyakinan. Tapi, sesaat kemudian wajahnya berubah sendu.
"Tapi gadis pujaanku akan menikah dengan orang lain, Kek. Aku harus bagaimana?"
__ADS_1
Kakek Wijaya menatap cucunya lekat. Sebenarnya ada rahasia yang masih disimpan rapat. Dia akan menceritakannya di saat yang tepat. Untuk sementara, membiarkan cucunya itu menempuh jalannya sendiri.
***
Akhirnya, hari wisuda Leon berlangsung juga. Perlu waktu seratus tahun untuk sampai di hari ini. Bukan gelar yang diinginkan Leon. Melainkan hari itu, ada Amira di sisinya.
Amira sudah berdandan rapi dengan berpakaian tradisional. Atasan kebaya dan kain juga rambutnya yang ditata rapi bak seorang pengantin. Melati membantu mendandani Amira, sementara Casandra bertugas mengantarkan Amira ke tempat acara wisuda berlangsung.
Leon tak berkutik ketika Amira berdiri di hadapannya. Kecantikan Amira semakin bersinar. Leon tidak memerlukan acara wisuda. Dia bisa saja membawa kabur Amira langsung ke penghulu.
"Ayolah, kita pergi saja dari tempat ini! Aku gak butuh acara wisuda. Yang penting aku sudah lulus dan mendapatkan cintamu!" bisik Leon sebelum masuk ke dalam gedung.
Amira melotot. Jelas dia tidak setuju dengan perkataan Leon.
"Kamu kan tahu kata-kata ayah. Sabarlah sedikit lagi!"
"Kenapa sih harus ada ayahmu di antara kita?!" ucap Leon yang sedikit kesal karena Amira menolak keinginannya.
"Anak-anak?"
Amira mengangguk. Untuk kesekian kali, Leon mengalah.
"Baiklah! Aku ingin secepatnya melihat anak-anak kita," ucap Leon dengan mata berbinar.
"Itu soal nanti, Leon. Yang pasti kita harus menikah dulu!"
"Iya-iya! Besok aku akan melamarmu di depan orang tuamu, ya!"
__ADS_1
"Iya, sudahlah! Masuk sana. Aku, Kak Melati dan Casandra akan ke lantai atas!"
***
Sehari kemudian, Leon benar-benar menghadap orang tua Amira untuk melamarnya.
"Saya ingin menikah dengan Amira, Om!"
Ayah Amira belum sepenuhnya mengenal Leon. Tapi, Amira sepertinya sudah sangat dekat dengannya.
"Dua tahun lagi, Amira baru lulus kuliah. Kami berharap, kalian bisa menunda rencana pernikahan kalian!" ucap Ayah Amira ketika Leon mengutarakan keinginannya untuk menikahi Amira.
Leon sudah tahu jawaban Ayah Amira, tapi dia tidak akan patah semangat.
"Amira tetap bisa kuliah kok, Om. Saya berjanji tidak akan menghalangi Amira untuk meraih cita-citanya!" ungkap Leon berharap Ayah Amira akan mempercayainya.
Ayah Amira terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Kini, hanya Amira yang bisa memberikan keputusan.
"Baiklah! Terserah Amira apakah mau menerima lamaranmu. Bagaimana Amira?"
Amira sangat terkejut mendengar pertanyaan ayahnya. Tentu saja dia sudah mempunyai jawabannya. Tak ingin kehilangan Leon sekali lagi dan hidup bersama dengannya untuk selamanya.
"Eemm, a-aku ..., mau menikah dengan Leon, Ayah!" jawab Amira malu-malu.
Leon langsung lega mendengar jawaban Amira. Sebentar lagi, Amira akan menjadi miliknya seutuhnya.
Apakah pernikahan impian Amira dan Leon akan berjalan lancar?
__ADS_1
***
Hai gengs makasih ya sudah mampir. Maaf ya kemarin off dulu karena ada kesibukan. Bagaimana ya kelanjutan kisah Amira dan Leon? Apakah mereka akan menikah? Kepoin terus ya ❤❤❤❤❤