PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 2. KEPINCUT COWOK SOK KEREN


__ADS_3

***


Setelah berputar-putar di ruang perpustakaan, akhirnya Amira sampai juga di rak buku yang dicarinya. Ditariknya buku itu pelan-pelan. Betapa terkejutnya dia, ketika sebuah bayangan menyembul dari celah buku buku. Tapi, bukan seperti yang dikiranya. Bayangan itu seorang laki-laki berwajah tampan.


Tanpa sadar, Amira menikmati pemandangan yang jarang sekali dilihatnya. Wajah tampan tanpa satu pun jerawat. Semulus porselen. Hidung mancung dan mata yang tidak terlalu besar. Kulitnya sedikit pucat mungkin karena terpengaruh pencahayaan yang temaram.


Sepertinya, cowok itu serius sekali membaca buku. Begitu dia menoleh, Amira buru-buru bersembunyi. Dadanya berdegup kencang seperti pencuri yang tertangkap basah.


"Aakh! Sayang wajah ganteng dianggurin. Tapi, sebaiknya aku pindah ke tempat lain saja. Daripada cowok ganteng itu muntah begitu melihat wajahku!"


Dengan langkah seringan mungkin, Amira pindah posisi. Berharap cowok ganteng itu tidak menyadari keberadaannya. Sampai-sampai, Amira menahan napas!


Setelah cukup jauh, Amira baru bisa membuka hidung dan mengeluarkan napas panjang. Tubuhnya terasa sangat lemas. Setelah tenang, Amira membuang pandangan ke arah rak buku. Di depannya hanya ada deretan buku-buku lawas.


Sebuah buku berjudul "Berburu Vampir" membuat Amira tertarik. Jaman sekarang mana ada vampir.


Tapi, gak ada tuh yang mau berburu pocong atau kuntilanak. Pasti penulisnya pingsan berkali-kali.


Amira cekikikan, membayangkan orang-orang yang berburu pocong, apalagi Kuntilanak. Padahal, Amira gak sadar suara tawanya sudah persis suara kunti.


Buku "Berburu Vampir" itu ternyata membuat Amira tertarik juga. Dengan pelan-pelan, ia menarik buku itu. Dari celah buku, bayangan cowok ganteng itu, kembali terlihat.


Kali ini, Amira syok sampai level seratus. Saking terkejutnya, sampai membentur tembok dan menabrak rak buku cukup keras. Spontan rak itu bergoyang seperti ada gempa.


Sudah bisa ditebak kejadian selanjutnya ya gaees ...


Amira sudah bersiap menutup wajahnya dengan tas. Meski wajahnya tak menarik sama sekali tapi penting juga untuk bertahan hidup.


Paling-paling, dia pingsan dan ditemukan keesokan harinya. Itu juga kalau ada yang datang. Jika ada yang melihat wajahnya, mereka pasti akan pura-pura tak melihat.


Huuh, beginilah nasib gadis cupu. Tak berharga sama sekali ....


Yang terjadi, tenyata tidak seperti yang Amira pikirkan. Sebuah bayangan melesat secepat kilat dan menahan rak buku. Amira membuka mata dan cowok berwajah tampan sudah berdiri di hadapannya. Posisi mereka sangat dekat, sampai Amira tak sanggup berkedip.

__ADS_1


"Kamu gak apa-apa?" tanya cowok itu dengan wajah cemas.


Amira mengangguk.


"Aku baik-baik, aja. Makasih, ya!"


"Lain kali, hati-hati. Aku tak ingin ada cerita seorang mahasiswi mati di perpustakaan karena tertimbun buku!"


Amira merasa tenggorokannya sangat kering. Wajah cowok itu memang tampan tapi mulutnya setajam pedang.


"Aku bukannya mati tertimbun buku! Tapi mati dibunuh lidahmu yang setajam pedang ...," ucap Amira dalam hati.


"Apa katamu?"


"Apa? Aku gak ngomong apa-apa, kok!"


"Jangan bohong! Aku tahu yang kamu pikirkan?!"


"Ya ya, aku bohong. Aku memang sedang kelaparan. Jadi, biarkan aku pergi!"


Amira berniat kabur. Tapi, jaketnya tertahan sesuatu. Ternyata cowok sok keren itu sudah menariknya.


"Apa lagi?"


"Apa kamu mau kabur? Siapa yang membereskan buku-buku itu? Yang jelas bukan aku!"


Amira cengengesan begitu sadar banyak buku bertebaran di atas lantai.


"Iya iya, aku bereskan!"


Amira melirik jam tangannya. Sudah jam setengah delapan. Masih ada waktu sebelum bus terakhir datang.


Kriiiuk ....

__ADS_1


"Hadeh! Malah cacing di perutku minta makan. Diam ya cing, jangan demo, ya. Aku janji nanti akan memberimu makan tiga piring, ya ...."


Cowok sok keren itu tertawa kecil. Sepertinya, dia mendengar apa yang ada di pikiran Amira. Dia memilih duduk tak jauh dari Amira dan membaca bukunya kembali.


"Kalau seperti itu kan enak, lebih baik diam. Daripada ngomong tapi menyakitkan!" gerutu Amira sambil menatap cowok sok keren itu tajam.


Namun begitu cowok itu menoleh, Amira cepat membuang muka.


Jam delapan kurang lima belas menit ....


Masih ada buku-buku yang harus diletakan di atas rak. Amira clingak-clinguk mencari tangga. Wajah gadis itu menjadi cerah begitu melihatnya ada di pojok ruangan. Hanya saja, tangga itu lumayan berat.


"Iih! Gak ngeliat apa kalau ada orang yang kesusahan! Nyaman bener duduk di situ. Heh, cowok sok keren! Bantu aku, dong," ucap Amira lagi di dalam hati.


Cowok itu tidak menoleh sama sekali. Sepertinya, harapan Amira tidak akan terwujud. Dengan bersusah payah, akhirnya Amira berhasil membawa tangga itu.


Tapi begitu sampai, dilihatnya semua buku sudah tersusun rapi. Cowok itu juga tidak kelihatan lagi.


"Apa mungkin dia yang sudah membereskannya? Mana mungkin!" Lagi-lagi Amira bicara sendiri.


Dari kejauhan, bayangan cowok sok keren itu terlihat di meja penjaga perpustakaan, kemudian berjalan keluar ruangan. Amira segera berlari ke arahnya.


"Mbak Risaa! Sisa bukunya aku cari besok aja, ya! Aku sudah kemalaman."


Amira mengambil buku-bukunya di atas meja dan langsung kabur. Risa hanya geleng-geleng melihat tingkah Amira yang kekanakan.


"Gak sampai sedetik, cowok itu sudah gak kelihatan. Dia manusia apa vampir, sih? Cepat sekali hilangnya!"


Amira merasa aneh dengan dirinya sendiri. Sosok cowok sok keren itu sudah membuatnya penasaran. Apa dia benar-benar sudah kepincut dengannya?


***


Hai gengs makasih ya sudah mampir, jangan lupa ikuti terus jalan ceritanya ya ....

__ADS_1


__ADS_2