PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 19. JEJAK MANUSIA HARIMAU


__ADS_3

***


Leon menjadi sangat gelisah ketika tidak bertemu Amira. Kamarnya masih gelap gulita padahal sudah hampir jam sebelas malam.


Penglihatan malam dan indra perasanya tidak bisa mendeteksi keberadaan Amira. Leon sudah berusaha sekuat tenaga, namun usahanya sia-sia.


Seperti juga Casandra yang tidak bisa dilacak keberadaannya. Ada kekuatan yang jauh lebih besar berada di dekatnya. Leon curiga kalau saat ini Casandra berada di dekat Klan Cristian.


Tapi, Leon tidak melihat hawa panas vampir berada di dekat Amira. Panasnya berbeda seperti hawa panas binatang buas.


Tak lama, sebuah mobil berhenti di depan rumah Amira. Leon hanya bisa memerhatikannya dari kegelapan.


Amira turun dari mobil dengan penampilan yang sangat jauh berbeda. Dia sangat cantik dan anggun. Leon hampir tidak mengenalinya lagi.


Seorang laki-laki muncul dan mengeluarkan beberapa kantong belanjaan dari bagasi mobil. Leon merasakan hawa panas dari laki-laki itu. Entah dia makhluk apa. Yang jelas, bukan vampir.


"Makasih ya, Pak!" ucap Amira setelah Wijaya mengeluarkan barang-barangnya.


"Gak apa-apa, kok. Semuanya sudah menjadi tugasku. Apa besok pagi perlu aku jemput?"


"Ti-tidak usah, Pak. Saya bisa berangkat ke kantor sendiri!" tolak Amira.


"Baiklah! Masuklah, sudah malam!"


Amira mengangguk dan melangkah masuk ke dalam rumahnya. Baru saja akan memencet bel, ayahnya muncul.


"Maaf, Yah. Amira terlambat."


"Ya, sudah! Istirahatlah. Ayah mau bicara dengan Nak Wijaya!"


Amira tertegun. Bagaimana ayahnya tahu yang mengantarnya pulang adalah Wijaya? Gadis itu jadi penasaran.


Dari jendela kamarnya, Amira melihat ayahnya dan Wijaya tengah berbicara serius. Gadis itu baru sadar kalau yang memberikan referensi pekerjaannya adalah Wijaya.


"Amira ...," panggil Leon lewat telepati.

__ADS_1


Bayangan Amira terlihat dari jendela. Namun, suara Leon tidak terdengar. Hanya ada suara desir angin yang membawa dingin.


Beberapa kali Leon mencoba bicara dengan Amira lewat telepati. Tapi tidak membuahkan hasil. Ada selubung kabut putih mengelilingi Amira. Leon tidak bisa menembusnya.


"Terima kasih ya, Nak Wijaya. Maaf jika Amira sedikit merepotkan!" ujar Iskandar.


"Gak apa-apa kok, Pak. Sudah menjadi tugas saya."


"Tolong jaga Amira ya, Nak. Bapak merasa ada hawa jahat yang mendekatinya. Bapak gak ingin kejadian yang menimpa ibunya terulang lagi padanya!"


"Siap, Pak. Sebaiknya Bapak tenang saja. Saya akan menjaga Amira sebisa mungkin!"


Amira menggigil ketika angin malam mulai liar. Dia melihat Wijaya masuk ke dalam mobil dan ayahnya masuk ke dalam rumah. Amira pun menutup jendela kamar. Rasa ingin tahunya, disimpan dahulu sampai pagi menjelang.


Wijaya diam sebentar sampai bayangan Pak Iskandar sudah tidak kelihatan lagi. Sekilas dia melihat Amira menutup jendela kamarnya. Kemudian menebar pandangan ke sekeliling tempat itu. Dia merasakan sesuatu dari dalam kegelapan. Untuk sementara, sesuatu itu tidak akan mendekati Amira.


***


Untuk sementara, Leon ke peternakan ayahnya di luar kota. Udara pedesaan yang sejuk mungkin bisa menenangkan pikirannya.


Dia teringat pertama kali datang ke tempat itu. Yang ada hanya rumah ayahnya yang mirip kastil. Di sekeliling tempat itu hanya ada hutan lebat dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi.


Dengan mudah Leon menemukan binatang hutan untuk melampiaskan rasa hausnya akan darah.


Masa itu sudah lama berlalu. Seiring waktu, hutan banyak dibuka untuk perkebunan teh. Leon dan ayahnya harus pergi agak jauh ke tempat lain untuk berburu. Namun rasa haus itu semakin tidak terpenuhi.


Sampai akhirnya, mereka membangun peternakan sendiri. Ada sapi, kambing juga hewan unggas. Mereka bisa memenuhi rasa haus darah kapanpun yang diinginkan.


Alex sangat senang, Leon mau pulang. Rasa kesepian membuatnya hampir meninggalkan tempat itu. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya bertahan. Kisah cintanya dengan Mawar. Puteri dari pengurus peternakannya. Mereka bahkan sampai menikah. Namun waktu yang memisahkan mereka. Mawar menua dan akhirnya menghadap yang kuasa. Sementara Alex tetap abadi di dalam dunia kegelapan.


"Ada makhluk kegelapan lain, Ayah. Dia bisa berjalan di bawah matahari dan beraktifitas seperti manusia biasa. Dia bahkan menyelubungi Amira dengan kabut putih hingga aku tidak bisa mendekatinya!" ungkap Leon setelah ada waktu untuk bicara dengan ayahnya.


Alex tak bicara namun lewat kekuatan telepati membawa Leon terbang jauh sekali. Ketika pertama menjejakkan kaki di tanah Batavia. Mereka menyebutnya seperti itu meski kini sudah berubah menjadi Jakarta.


Alex bersembunyi di sebuah kapal dagang dari Belanda yang berkeliling dunia. Dia bersembunyi di dalam gudang gelap dan memangsa tikus untuk memenuhi rasa hausnya.

__ADS_1


Akhirnya kapal dagang itu sampai di pelabuhan. Penduduk aslinya berkulit coklat dan bertubuh pendek. Alex hampir tak tahan untuk memangsa manusia setelah berbulan bulan di dalam kapal.


Alex pun lari ke dalam hutan dan bertemu seorang pemburu yang sedang membawa seekor kijang. Ketika darah kijang membuat Alex lupa diri, manusia itu berubah menjadi seekor harimau. Pertarungan pun terjadi. Alex yang sangat lemah tak mampu melawan harimau yang sangat buas. Anehnya, sebelum pergi, harimau itu meninggalkan buruannya untuk Alex.


Cerita berakhir di situ. Alex tidak pernah bertemu lagi dengan manusia harimau itu. Hampir dua ratus tahun tak sekali pun terdengar kabarnya.


"Apa ayah tidak pernah mencari manusia harimau itu?"


Leon mulai penasaran.


Alex menggeleng.


"Tak ada gunanya kami bertemu lagi. Yang ada hanya pertikaian karena sama-sama membutuhkan darah segar. Aku pernah mendengar cerita, manusia harimau itu menyebrangi pulau yang sangat jauh!"


"Sekarang makhluk itu ada di sini, Ayah. Dia mengendus keberadaan kita meski tidak mengganggu! Aku sangat mengkhawatirkan Amira," ujar Leon lirih.


Alex teringat sosok Mawar yang telah membuatnya jatuh cinta. Saat itu, Mawar mau menerima dirinya meski tak disetujui keluarganya sendiri.


"Apa gadis itu tahu siapa kamu sebenarnya?"


Leon mengangguk.


"Iya, Ayah. Amira menerima siapa diriku dan mempercayaiku. Untuk itulah aku tidak akan melepaskannya!" jawab Leon penuh keyakinan.


"Mungkin orang yang kamu maksud itu benar manusia harimau. Dia biasa menandai setiap mangsanya. Mungkin kali ini, dia bermaksud melindungi gadis itu!"


"Aku akan berusaha melepaskan selubung kabut putih dari Amira."


Leon sangat yakin dengan apa yang akan dilakukannya.


Alex menoleh dan menatap Leon lekat. Lewat matanya dia bisa melihat kilatan cahaya. Kabut putih itu akan membawa pertarungan dua makhluk kegelapan.


"Kamu harus tahu, Leon. Sekalinya manusia harimau memberikan tanda, tak mudah melepaskannya. Dia akan mempertahankannya hingga mati!"


Leon tertegun. Pertarungan itu tidak akan terhindarkan.

__ADS_1


***


Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Ikuti terus kisah selanjutnya ya ....


__ADS_2