PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 17. HATIKU HANYA MILIKMU ....


__ADS_3

***


Amira menatap Leon tajam, tubuhnya masih gemetar. Untuk sesaat, Amira meragukan Leon.


"Tidak, Amira! Jangan ragukan aku," pinta Leon meski Amira tidak mengatakan apapun.


Lagi-lagi, Leon bisa membaca pikiran Amira.


"Maafkan aku, Leon. Hatiku melemah!"


Leon merasa hatinya ikut menjadi lemah. Mereka sudah terkait dan merasakan hal yang sama.


"Baiklah, Amira. Aku tidak akan memaksakan hatimu. Sebaiknya, aku pergi ...," ujar Leon lirih.


Namun begitu Leon mau melangkah pergi, terdengar suara dari arah pintu.


"Amira ..., apa kamu sudah tidur?"


Terdengar suara ayahnya. Amira kelihatan panik.


"Su-sudah mau tidur, Ayah!"


"Ayah mau bicara sebentar!"


"I-iya, Ayah!"


Tiba-tiba, Amira menarik tangan Leon.


"Kamu sembunyi di kolong tempat tidur aja, ya. Tapi, jangan berisik nanti ayah tahu!"


Leon sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Amira. Mengira kalau dirinya akan diusir. Ternyata perkiraan Leon salah dan menuruti Amira saja.


Sekali lagi, Amira memberi kode agar Leon tidak berisik. Leon mengangguk. Tempat itu sangat sempit. Tapi Leon merasa seperti di ruangan yang sangat luas. Amira ternyata tidak menginginkannya pergi.


"Ada apa, Ayah?" tanya Amira ketika ayahnya sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Apa benar kamu gak mau kuliah lagi?"


"Iya, Ayah. Sebaiknya Amira kerja saja."


"Ada kawan ayah yang membutuhkan pegawai di kantornya. Waktu bekerja hanya sampai sore aja dan kamu tidak harus pulang malam," jelas Iskandar.


"Baik, Yah. Nanti Amira coba dulu. Mudah-mudahan Amira bisa bekerja di sana."


"Ya, sudah! Kamu tidur aja. Tunggu sebentar!"


Iskandar melihat sesuatu ketika akan pergi.


Amira menjadi gelisah. Berharap ayahnya tidak mengetahui keberadaan Leon.

__ADS_1


"Sebaiknya jendela kamu tutup dulu. Di luar angin cukup kencang. Nanti kamu malah masuk angin!"


Amira bisa bernapas lega. Ternyata, ayahnya hanya meliat jendela kamarnya yang terbuka.


"Iya, Yah. Nanti Amira tutup!"


Amira buru-buru mengunci kamar setelah ayahnya tak kelihatan lagi.


"Keluarlah, Leon. Ayahku sudah pergi!" ujar Amira kepada Leon yang masih ada di kolong tempat tidur.


"Maafkan aku! Jaketmu jadi kotor ...."


Amira membersihkan jaket Leon yang sedikit kotor. Tapi, Leon malah meraih tangannya. Amira jadi salah tingkah.


"Aku mencintaimu, Amira. Aku tidak akan menyakitimu!" ujar Leon penuh makna.


"I-iya, aku tahu!"


"Tapi, tadi kamu ...?"


"Sudahlah! Tadi aku memang sedikit bimbang. Yang penting sekarang kamu harus jaga diri dan hatimu. Aku gak mau kamu kenapa-napa!"


"Benarkah?"


Sekarang Leon malah yang menjadi ragu.


"Iikh! Biasanya kamu selalu tahu isi hatiku! Kenapa sekarang malah meragukannya!" ujar Amira sedikit ngambek.


Suasana hati mereka kembali berbunga lagi. Tak akan layu meski tertiup angin.


"Aku kangen, Leon. Seharusnya kamu beri kabar!"


"Iya, maafkan aku!"


Lagi-lagi Leon minta maaf.


"Maaf melulu! Gak cukup kalau hanya kata maaf!"


Amira sudah mulai bisa bercanda.


"Baiklah! Aku akan memberikan sesuatu sebagai tanda permintaan maafku. Tapi, kamu harus memejamkan mata, ya!"


"Benarkah? Baik! Aku merem, ya. Awas kabur!"


Leon tertawa kecil. Hadiah yang akan diberikannya adalah sebuah kecupan. Namun ketika sedikit lagi menyentuh bibir Amira, terdengar suara ayahnya lagi. Sontak keduanya terkejut.


"Amiraaa!" panggil Ayah Amira.


"Ada Ayah lagi!" bisik Amira dan langsung membuka mata.

__ADS_1


"Aku ke kolong tempat tidurmu lagi?"


"Gak sempat! Di belakang pintu aja!"


"Ada apa lagi, Yah?" tanya Amira setelah membuka pintu kamar.


"Ayah hanya mau memberikan alamat perusahaan aja!" ujar Ayah Amira sambil menyerahkan sebuah kartu nama.


"Hubungi Ibu Melati yang tertera di kartu nama itu!" lanjut Ayah Amira.


"Baik, Yah!"


"Ya, sudah! Tidurlah dan tutup jendela kamarmu!"


"Iya, Yah!" ucap Amira sambil menutup pintu.


Amira bersandar di pintu dan menarik napas panjang. Sebuah senyuman mengembang di bibirnya.


Leon tak dapat menahan perasaannya lagi. Dia mendekati Amira dan langsung memeluknya.


"Aku sangat merindukanmu, Sayang.Terima kasih sudah memercayaiku!"


Tak lama, bibirnya sudah ******* bibir Amira dengan penuh perasaan. Amira yang semula terkejut kemudian menyambutnya dengan hangat.


Angin merangsek masuk lewat jendela. Tapi, kedua manusia berbeda alam itu tak memedulikannya.


***


Amira menatap kartu nama di tangannya dan melihat gedung tinggi di hadapannya.


"Gedung Cakrawala lantai 10 ruang 310. Melati kusuma wardhani, CEO PT Kusuma Green forest. Dari mana ayah mendapatkan referensi ke tempat ini, ya?" gumam Amira.


"Maaf, bisa saya bertemu dengan Ibu Melati? Nama saya Amira asmadari," ujar Amira setelah sampai di meja informasi.


"Tunggu sebentar, ya!" Wanita cantik itu mengangkat telepon dan berbicara dengan seseorang sebentar.


"Silakan naik langsung ke lantai 10!"


"Baik! Terima kasih," ujar Amira sebelum pergi.


Beberapa orang sedang berdiri di depan lift. Amira ikut berdiri tapi agak ke samping. Tak lama, pintu lift terbuka. Orang-orang dari dalam segera keluar dan dari luar merangsek masuk.


Tiba-tiba Amira tertegun, dia melihat seseorang yang dikenal. Dia adalah Wijaya, polisi muda yang menyelidiki kematian Rena. Gadis itu membalikkan badan agar laki-laki itu tidak melihatnya.


Wijaya langsung berjalan menuju ke pintu keluar. Dia tidak menyadari ada Amira di dekatnya.


Amira sendiri masih tidak mengerti. Mengapa seorang polisi ada di perkantoran. Apakah Wijaya sedang menjalankan tugas? Atau ada keperluan pribadi.


***

__ADS_1


Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Ikuti terus kisah selanjutnya ya


__ADS_2