
***
"Apa yang Abang lakukan di sini? Apa masih ada vampir?"
Amira tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Ada sedikit harap kalau vampir itu adalah Leon.
"Apa aku selalu ada hubungannya dengan vampir?"
"Ti-tidak juga, sih!"
"Aku hanya berkunjung saja. Apa aku tidak boleh menemuimu?"
"Kan bisa datang ke rumah. Ayah sering menanyakanmu!"
Wijaya tertawa.
"Ya, aku belum sempat ke rumahmu. Musim hujan segera tiba. Bagaimana kalau kita ke pantai?"
"Kapan? Tapi, aku ada jadwal karya wisata ...," ujar Amira sedikit kecewa.
"Nanti aku cari harinya. Kapan jadwal karya wisatamu?"
"Mungkin akhir bulan ini!"
"Baiklah! Ayo, aku akan mengantarmu pulang. Sekalian menemui ayahmu. Apa aku harus mengajukan lamaran juga?"
"A-apa? Lamaran?"
Sekali lagi Wijaya tertawa.
"Lamaran menjadi sopirmu! Kau kira aku melamar menjadi suamimu, ya? Tapi ... aku akan memikirkannya juga!"
"Abang!" teriak Amira sambil mencubit pinggang Wijaya.
Wijaya langsung berteriak kesakitan. Tapi, mendadak wajahnya berubah begitu mendengar bunyi dari handphonenya.
"Maaf, Amira. Aku harus kembali ke kantor sekarang juga. Mungkin lain kali, aku akan mampir ke rumahmu!"
__ADS_1
"Baik, Bang! Gak apa-apa. Lagipula, aku harus mengembalikan buku ke perpustakaan."
Wijaya mengangguk dan kembali ke mobilnya. Sementara Amira ke perpustakaan untuk mengembalikan buku.
Sebelum menyalakan mobil, Wijaya kembali teringat kejadian sebulan yang lalu. Pertempuran yang sangat melelahkan. Membuka banyak tabir rahasia yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Hanya pertemuan terakhir dengan Leon yang masih menyisakan tanda tanya.
Sepulang mengantar Amira ke rumahnya. Wijaya sempat bertemu Leon di sisi jalan dengan pepohonan yang cukup rindang.
"Tolong jaga Amira," pesan Leon dengan nada suara rendah.
"Aku akan selalu menjaganya. Bagaimana dengan keadaan ayahmu?"
"Para vampir putih akan memberi hukuman untuk ayah. Aku akan berusaha menggantikannya. Semua yang terjadi, aku harus ikut bertanggung jawab. Aku tidak bisa menemui Amira untuk waktu yang lama!"
"Apa Amira tahu?"
Leon menggeleng.
"Aku tidak ingin membuatnya cemas. Aku yakin dia akan menungguku!"
Namun, ada sesuatu yang membuat Wijaya bertambah khawatir. Ucapan Leon sebelum pergi.
"Aku takut akan ada seseorang yang akan mencari Amira. Entah dia manusia atau vampir, bisa juga keduanya!"
"Siapa dia?"
"Ternyata ayahku mempunyai anak kandung dan Cristian sudah menyembunyikannya dalam waktu yang sangat lama. Dia menuruni kekuatan vampir dan bisa hidup abadi. Dia bisa hidup di dunia gelap dan dunia terang!"
Meski hampir sebulan, Wijaya tidak menemui Amira langsung tapi tetap mengawasinya dari kejauhan. Perasaannya mengatakan pesan misterius Leon akan terbukti. Ada hawa panas di dekat Amira. Sosok yang dikatakan Leon, sebentar lagi akan muncul.
***
Amira mengembalikan buku-buku yang dipinjamnya satu persatu kembali ke tempatnya semula. Suasana perpustakaan masih sepi seperti dulu. Di saat seperti itu Amira teringat dengan kekasihnya. Pertemuan pertamanya dengan Leon di tempat itu kembali terbayang.
Kerinduan kembali hadir. Amira melepaskan napas panjang berharap sesak di dadanya menghilang.
"Leoon, di mana kamu?" desah Amira sambil memukul dadanya. Nyatanya sesak itu tak hilang juga.
__ADS_1
Tinggal satu buku lagi yang harus diletakkan di rak yang cukup tinggi. Dengan berjingkat, Amira berusaha agar lebih tinggi. Namun, setelah beberapa kali, usahanya sia-sia.
Entah mengapa, perasaannya menjadi sangat sedih. Padahal hanya karena tidak bisa mengembalikan buku ke posisinya semula. Tanpa terasa, airmatanya mengalir dan menangis sesungukan. Untung saja tempat itu sangat sepi jadi tak ada yang mendengar suara tangisnya.
"Aku tak tahu mengapa ada gadis secengeng kamu di kampus ini!"
Amira sangat terkejut mendengar suara itu. Gadis itu menoleh dan menemukan dosen tampan berada di dekatnya, dekaaat sekali!
"Sini buku itu! Biar aku saja yang mengembalikannya di rak sana!"
Dosen tampan itu mengambil buku di tangan Amira tanpa menunggu persetujuannya lagi.
Amira tertegun. Kenangannya bersama Leon kembali terulang. Meski kali ini bersama dosen tampan. Dadanya berdegup kencang. Mereka sangat dekat sekali, sampai Amira bisa mencium bau tubuh dosen tampan itu.
"Te-terima kasih!" sungut Amira.
Dosen tampan itu menatapnya lekat.
"Hapuslah air matamu. Menurutku tangisanmu tak sebanding dengan buku itu!"
"Oh-iya ...."
Amira segera menghapus sisa air matanya. Namun, dosen tampan itu masih menatapnya.
"Ada apa lagi?" tanya Amira ketika melihat tatapan aneh dosen tampan itu.
"Tunggu sebentar!"
Dosen tampan itu menggerakkan tangannya dan menghapus sebutir air mata yang masih tersisa. Amira menjadi salah tingkah dan berusaha untuk tetap sadar. Di hatinya hanya ada Leon. Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikannya.
"Aku harap bisa mengisi hatimu. Pasti aku akan sangat bahagia jika kau mau menerimaku di hatimu!"
Amira tak bisa menutupi rasa terkejutnya mendengar ucapan dosen tampan itu. Apakah hatinya akan goyah?
***
Hai gengs, makasih ya sudah mampir, ikuti terus jalan cerita Amira dan Leon ya, met makan siang .... ❤❤❤
__ADS_1