
***
Wijaya sangat curiga dengan kehadiran Andrian di dekat Amira. Jelas dia cemburu. Meski tahu kalau Leon hanya satu-satunya pemilik hati Amira.
"Ada apa, Pak? Wajah Bapak sangat risau seperti benang kusut?" celetuk Farhan ketika melihat Wijaya sedang termenung.
"Apa bisa kita mengakses file Universitas Nusantara? Aku ingin mencari data diri seorang dosen," ujar Wijaya memulai menyelidikan tentang Andrian.
"Bisa saja, Pak. Saya sangat pandai mengutak-atik data di komputer. Kalah hecker luar negeri!" jawab Farhan setengah sombong.
"Baiklah! Kita akan mulai mencari data seorang dosen bernama Andrian Abimana. Sepertinya dia belum lama mengajar di sana!"
"Siap kerjakan, Pak. Setelah ada hasilnya akan langsung saya berikan!"
"Makasih ya, Pak Farhan. Kalau sudah selesai kita bisa ngopi di tempat biasa, oke!"
Farhan membuat lingkaran di kedua jarinya seperti tanda setuju.
Wijaya sudah sedikit tenang. Berharap kecurigaannya salah. Meski jelas kehadiran Andrian membuatnya terpengaruh.
***
Akhirnya, acara karya wisata di kampus Amira terlaksana juga. Setiap jurusan terbagi dalam beberapa tahap dalam waktu yang berbeda agar mudah diatur. Amira satu bus dengan Lusi dan Nania.
"Aku sangat senang akhirnya kita bisa berkumpul!" Lusi melompat kegirangan setelah bertemu dengan Amira dan Nania.
"Iya! Aku juga sangat senang. Acaranya pasti akan sangat menyenangkan. Sudah sangat lama aku gak liburan. Rasanya, ada sesuatu yang meledak di dalam hatiku!" ujar Nania yang juga tak mampu menahan perasaannya.
Amira hanya tersenyum tipis. Hatinya belum bisa tenang karena tidak ada kabar dari Leon. Berharap acara itu bisa membuatnya memikirkan hal lain yang bisa membuatnya lebih ceria.
"Ada apa, Amira? Mengapa wajahmu seperti itu?"
Lusi menemukan Amira yang sedang termenung.
"Iya, Amira. Kamu sekarang sangat berbeda. Meski dulu kami pernah jahat padamu tapi kamu selalu ceria. Apa kamu masih merindukan Rena?"
"Maaf, teman-teman. Aku harap suasana hatiku akan kembali seperti dulu!"
Lusi dan Nania langsung menghambur ke pelukan Amira.
__ADS_1
"Tenanglah, Amira. Kami akan selalu ada di sampingmu. Tersenyumlah!" ujar Lusi memberi semangat.
"Iya, Amira. Tadi aku lihat banyak cowok ganteng di bus. Kita bisa cuci mata sepuasnya. Siapa tahu sepulangnya nanti, kita bisa bawa gandengan!"
"Aakh kamu bisa aja, Nania. Memangnya bus apa bawa gandengan!"
Amira sudah bisa tertawa meski hatinya masih bergemuruh. Dia merasa sesuatu akan terjadi. Berharap tidak ada hal buruk selama dalam perjalanan dan setelah berada di tempat tujuan.
"Hai, Amira!"
Amira menoleh begitu mendengar seseorang memanggilnya.
"Mas Andrian?! Apa kita satu bus?"
Andrian tersenyum dan mengangguk.
"Yups! Sangat kebetulan, kan?"
Lusi dan Nania saling pandang. Mereka juga mengenal Andrian yang dikenal sebagai dosen tampan dan tidak menyangka Amira dekat dengannya.
"Selamat pagi, Dos!" sapa Lusi dan Nania hampir berbarengan.
"Ini kawan aku, Mas. Nania dan Lusi," ujar Amira mengenalkan kedua kawannya.
"Senang berkenalan dengan kalian!" ujar Andrian segera menyodorkan tangannya.
Lusi dan Nania cepat menyambut uluran tangan Andrian.
"Sebenarnya, kita sering bertemu di ruang kampus ketika Dosen sedang mengajar!"
"Iya, Dos. Bahkan kami adalah fans dosen!"
Andrian tertawa mendengar celotehan Nania.
"Aku bukan artis! Hanya dosen biasa, kok. Ayo, kita naik ke dalam bus. Sebentar lagi akan berangkat. Mana tas kamu, Amira? Biar aku yang bawa!"
Andrian mengambil tas besar dari tangan Amira tanpa menunggu persetujuannya. Dia langsung naik ke dalam bus.
Gadis itu sangat terkejut dengan perlakuan Andrian. Banyak pasang mata yang melihat kejadian itu. Amira jadi sedikit tidak enak hati.
__ADS_1
"Aku gak nyangka kamu dekat dengan dosen tampan, Amira?"
Lusi mulai kepo.
"Iya, Amira. Padahal kamu baru saja masuk kampus lagi!" Nania juga ingin tahu.
Amira tak menjawab dan hanya tertawa kecil.
Andrian melambaikan tangan lewat jendela dan menyuruh Amira untuk masuk ke dalam bus.
"Ayo kita masuk ke dalam bus, sis!" ujarnya seraya berlari ke arah bus.
Lusi dan Nania juga mengikuti Amira. Mereka semakin aneh ketika melihat, Amira dan dosen tampan duduk berdampingan.
Perjalanan karya wisata itu pun dimulai. Semua merasa senang termasuk Amira. Gadis itu melepas pandangan ke luar jendela. Bayangan Leon terlintas.
"Leoon, aku pergi dulu. Tapi yakinlah, aku selalu mengharapkan kedatanganmu!"
***
"Ini data diri dari orang yang Bapak cari!" ujar Farhan seraya menyerahkan beberapa lembar kertas.
"Mantap! Cepat juga. Makasih ya, Pak!"
Wajah Wijaya semringah. Kerisauannya terakhir ini akan segera berakhir. Perlahan, dia pun membaca file itu. Namun, wajahnya malah semakin cemas.
"Nama ayahnya adalah Cristian! Apa dia vampir juga?!"
"Vampir? Maksud Bapak apa?"
Wijaya hanya diam saja. Dia langsung berdiri dan melangkah pergi. Amira harus tahu siapa Andrian sebenarnya.
Tak lama, Wijaya sudah berada di dalam mobil. Dia mencoba menghubungi handphone Amira namun tidak ada jawaban. Hatinya semakin cemas. Berharap tidak terjadi hal buruk pada Amira.
Saat itu, di dalam bus yang ditumpangi Amira sangat berisik. Para mahasiswa yang haus liburan bernyanyi dengan suara keras. Amira tidak mendengar bunyi handphonenya.
Wijaya menghubungi Ayah Amira dan baru tahu kalau Amira sedang pergi ke acara karya wisata di kampusnya. Wijaya harus berpacu dengan waktu. Aura panas yang misterius itu ternyata berasal dari Andrian!
***
__ADS_1
Hai gengs, ketemu lagi dengan Mimin yang imuuut, makasih ya sudah mampir, ikuti terus jalan cerita Amira, ya .... ❤❤❤