
***
"Jadi kalian sudah pacaran?" tanya Rena antusias.
Amira mengangguk dengan wajah bersinar ceria.
"Iya, Ren. Leon sendiri yang mengatakan kalau aku adalah pacarnya. Ternyata, sudah tiga tahun dia ada di dekatku tapi aku tak pernah menyadarinya!"
"Luar biasa! Menunggu tiga tahun baru berani mendekatimu? Apa selama itu gak ada gadis lain yang mendekatinya?"
"Entahlah! Kemarin aku melihat seorang ggadis pirang memeluk Leon. Ternyata dia adiknya, nama gadis itu Casandra!"
"Apa dia kuliah di kampus kita?"
"Aku gak nanyain lagi. Aku benar-benar gak suka dengan sikapnya kepada Leon. Bahkan sampai saat ini, aku masih cemburu!"
"Dia kan adiknya Leon, Ra. Aku rasa wajar dia akrab sebagai saudara," ujar Rena memberi penjelasan yang masuk akal.
"Aku melihat tatapan gadis itu seperti bukan seorang adik kepada kakaknya. Entahlah, apa itu hanya perasaanku saja!"
"Itu namanya cemburu buta, Nona Amira!"
Amira terdiam. Rasa panas di hatinya masih tersisa. Dia percaya Leon, tapi tidak dengan gadis itu.
***
"Jangan ganggu Amira! Dia tidak tahu siapa aku sebenarnya!"
Di sebuah ruangan yang tidak terlalu terang. Leon terlibat pembicaraan serius dengan seorang gadis pirang berkulit pucat.
"Aku ingin tahu mengapa kamu memilihnya? Sudah jelas dia manusia biasa. Apakah ayah sudah tahu soal dia?"
"Ayah pasti sudah tahu. Nanti aku akan bicara padanya tapi tidak sekarang!"
"Manusia itu bisa membahayakan keberadaan kita, Leon. Harusnya kamu tahu itu!"
"Amira hanya gadis lugu. Dia tidak akan melakukan apapun yang bisa membahayakan kita. Kau bisa memegang janjiku!"
"Seharusnya, kau tidak berhubungan dekat dengan manusia. Mereka juga bisa melukainya," ungkap gadis pirang yang bernama Casandra.
"Aku akan melindunginya dengan sekuat tenaga!"
"Aku akan menemuinya dan mengetahui apakah gadis itu bisa dipercaya atau tidak!"
"Casandra! Jangan lukai dia!"
Bayangan gadis itu sudah menghilang entah ke mana. Leon kelihatan cemas. Casadra, juga seperti dirinya. Ayahnya menemukan Casandra setelah Leon. Usianya juga lebih muda. Makanya Leon memperlakukan Casandra seperti seorang adik.
***
Amira merasa lega ujiannya sudah selesai dan tinggal menunggu hasilnya. Seperti biasa, dia akan menemui Leon di perpustakaan.
Sebagian mahasiswa sudah pulang, tinggal beberapa yang masih sibuk dengan ujiannya. Sebuah bayangan hitam berkelebat dari lorong ke lorong, kemudian berhenti di sebuah sudut.
Amira merasakan kehadiran bayangan itu. Dia pasti Leon. Gadis itu sangat senang membayangkan sosok pujaan hatinya sudah di depan mata.
__ADS_1
Di sudut lorong yang sepi. Amira menghentikan langkahnya dan berbalik. Dikiranya bayangan itu adalah leon. Ternyata, di hadapannya berdiri gadis cantik berambut pirang.
Gadis pirang itu menatap Amira tajam kemudian tersenyum tipis.
"Hallo! Kamu Amira, kan?" sapa Casandra.
Amira sedikit ragu menjawab pertanyaan gadis pirang itu.
"Iya, aku Amira! Ada apa?"
"Aku heran kenapa Leon menyukai gadis sepertimu. Sebagai manusia kau kelihatan tidak menarik sama sekali!"
Kata-kata Casandra sedikit aneh. Amira tidak terlalu suka bicara dengannya. Dia sangat sombong sangat berbeda dengan Leon.
"Kau tahu kan siapa aku? Aku dan Leon sudah berhubungan sangat lama."
"Bukankah kamu adiknya Leon?"
"Adik? Apa seperti itu yang dikatakan Leon?"
"Lalu ..., yang sebenarnya seperti apa?" tanya Amira penasaran. Sepertinya Leon sudah menyembunyikan sesuatu.
"Sebenarnya aku adalah ...."
"Amira!"
Leon muncul di saat yang tepat.
"Mengapa kamu di sini, Casandra?"
"Sudah kukatakan jangan mendekati Amira!" ucap Leon lewat telepati.
"Kenapa? Apa kau takut kalau manusia itu tahu siapa aku?" jawab Casandra juga lewat telepati.
"Pergilah! Nanti kita bicara lagi!" ujar Leon lewat pikirannya.
"Baiklah! Aku akan meninggalkan kalian berdua. Amira, aku pasti akan menemui lagi!"
Casandra membalikkan badannya dan melangkah pergi. Amira masih dilanda kebingungan.
"Kenapa dengan adikmu? Sepertinya dia tidak menyukaiku!"
"Jangan pikirkan dia. Biasanya kami selalu berdua. Dia masih belum terbiasa aku sudah memiliki pacar," jelas Leon.
"Ayolah kita pergi! Malam ini sangat cerah. Bagaimana ujianmu? Apakah mudah?"
Leon mengalihkan pembicaraan dan menggenggam tangan Amira erat. Sementara Amira merasakan keanehan Casandra.
"Gadis pirang itu pasti bukan adik Leon. Dia sangat aneh!" ucap Amira dalam hati.
Seperti biasa, Leon sangat jelas mendengar suara hati Amira. Dia semakin khawatir, kehadiran Casandra akan menjadi penghalang hubungan mereka.
"Hhmmm, aku sangat suka jika cuaca secerah ini! Kita bisa berjalan-jalan mengitari kampus."
Leon berusaha mengalihkan perhatian Amira.
__ADS_1
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana ujianmu?" tanya leon sekali lagi.
"Baik! Semuanya lancar," jawab Amira singkat. Suasana hatinya sedang tidak baik. Apalagi dengan kehadiran Casandra.
Leon tersenyum dan menghentikan langkahnya.
"Aku tahu kamu bisa mengerjakannya dengan mudah. Makanya aku akan memberikanmu kejutan."
Amira mendongak. Rencana Leon berhasil.
"Lihatlah ke arah danau! Sebentar lagi, sesuatu akan muncul," jawab Leon sambil mendekap Amira dari belakang.
Amira sedikit gugup karena Leon sangat dekat. Dadanya kembali berdegup kencang.
"Apa yang akan muncul?"
Danau itu memang sangat indah. Amira selalu berhenti di sana setiap kali melewatinya. Tapi, dia tidak pernah melihat hal aneh apapun.
Tiba-tiba, cahaya kerlap kerlip muncul dari balik semak di pinggir danau. Bukan hanya satu tapi puluhan. Cahaya itu berputar-putar mengitari danau seperti lampu saat tahun baru.
"Itu kunang-kunang! Mereka banyak sekali."
"Iya, itu kunang-kunang. Mereka sangat indah, kan?"
Amira mengangguk. Tapi, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Katanya, kemunculan kunang-kunang berhubungan dengan makhluk astral!"
Wajah Amira berubah pucat.
"Apa kamu takut dengan makhluk astral?"
"Sedikit sih. Tapi aku gak percaya mistis. Orang jahat yang lebih menakutkan. Mereka bahkan bisa membunuh orang tua bahkan anaknya sendiri!"
"Bagaimana kalau vampir?"
Amira menatap Leon.
"Apa benar ada vampir di sini? Bukankah hanya dongeng saja?"
Leon tersenyum tipis dan memeluk Amira erat. Mendengus lehernya yang jenjang seperti akan memangsanya.
"Bagaimana kalau aku vampir itu? Bagaimana kalau aku meminta darahmu? Apa kamu memberikannya untukku?"
Amira membalikkan badannya dan menatap Leon lekat. Mencari jawaban dari matanya seperti yang biasa dilakukan Amira.
Sedetik kemudian, Amira mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat seperti melihat sesuatu yang sangat mengerikan.
Amira melihat Leon berubah menjadi vampir dengan taring yang tajam. Kemudian menancapkan taringnya ke leher Amira. Dengan liar, Leon menghisap darahnya.
"Apa kamu seorang vampir, Leon?"
***
Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Ikuti terus kisah selanjutnya ya ...
__ADS_1