
***
Mata Wijaya masih semerah darah. Jemarinya keluar kuku-kuku tajam dan di tubuhnya tumbuh bulu halus. Tak lama, wujud Wijaya berubah menjadi seekor harimau. Sikapnya siap menyerang dan menghancurkan musuhnya. Mengaum dengan penuh keberanian.
"Jadi ... kau adalah manusia harimau. Baiklah! Aku ingin tahu sampai di mana kemampuanmu!"
Leon tersenyum tipis. Wajahnya berubah mengerikan dengan kedua taring yang sangat tajam. Vampir itu siap memangsa buruannya dan menghisap darahnya sampai tetes terakhir.
Dua makhluk kegelapan itu saling berhadapan. Tak akan ada yang bisa memisahkan mereka. Keduanya saling menyerang tanpa ampun.
---
Alex hanya bisa terdiam. Penglihatan gaibnya melihat pertarungan Leon dan harimau jadi-jadian. Teringat pertarungan pertamanya dulu. Tapi, pertarungan kali ini tidak sama lagi. Mereka mempunyai darah panas, salah satu harus ada yang mengalah barulah pertarungan itu berakhir.
---
Leon terpaksa melukai Wijaya agar tirai kabut putih yang menyelubungi Amira lenyap. Dia ingat kalau tirainya akan hilang bila manusia harimau itu mati.
Di saat terakhir, harimau itu tergeletak tak berdaya. Vampir akan selalu menjadi raja kegelapan. Darah segarnya begitu menggoda. Beberapa tetes darah itu akan membuatnya menjadi vampir sesungguhnya.
Tidak! Leon tidak akan mengorbankan waktu dua ratus tahun dan keinginannya menjadi manusia sirna hanya karena beberapa tetes darah harimau. Leon hampir melupakan janjinya kepada Amira.
Bergegas, Leon menemui Amira di kamarnya. Sebelumnya Leon memberitahukan Amira agar tidak menutup jendela kamarnya.
Akhirnya, tirai kabut putih itu menghilang. Leon bisa mendekati gadis pujaannya. Setibanya di kamar Amira, Leon melihatnya sedang tertidur. Dia tidak tega membangunkannya.
Leon duduk di tepi ranjang dan membelai rambut amira yang menutupi sebagian wajahnya.
"Le-leon ...."
Amira membuka mata dan melihat Leon sudah ada di sampingnya.
"Diamlah! Tetaplah di sana ...," bisik Leon.
Amira kembali memejamkan mata ketika Leon mengecup keningnya lembut.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Amira. Aku mencintaimu ...," lanjut Leon.
__ADS_1
Malam itu akan segera berakhir. Di ufuk timur matahari sudah terjaga. Tak sabar memberi sinar kepada dunia.
Pertarungan dua makhluk kegelapan belum selesai. Suatu saat mereka akan bertemu lagi.
***
Amira baru saja membuka jendela ketika melihat seseorang tergeletak di depan rumahnya. Hanya ada sepeda motor dan tas kerja di samping orang itu.
Dengan cepat, Amira turun ke bawah dan memanggil ayahnya.
"Ayaah! Ada orang terluka di depan rumah!" teriak Amira.
Iskandar yang sedang merapikan pekerjaan kantornya terkejut mendengar teriakan Amira. Begitu juga, Mama Amira yang sedang memasak di dapur.
"Nak Wijaya?"
Iskandar sangat terkejut mendapat orang yang terluka itu adalah Wijaya.
"Siapa, Yah? Pak Wijaya?"
"Astaga! Ini memang Pak Wijaya, Yah. Kenapa bisa terluka seperti ini?"
"Kamu diam di sini, Amira. Ayah mau telepon ambulan. Tolong ambilkan perlengkapan P3K ya, Mah!"
Mamah Amira mengangguk dan segera mengikuti suaminya ke dalam rumah.
"Pak Wijaya ... Pak, sadarlah!" ujar Amira sambil menepuk-nepuk pipi Wijaya.
Mata Wijaya mulai terbuka dan melihat Amira ada di depannya.
"Maafkan aku sudah merepotkanmu. Yang ada di kepalaku hanya dirimu, Amira ...," ucap Wijaya lirih.
Tanpa sadar, dia mendatangi Amira. Karena hanya gadis itu yang diingatnya.
"Tenanglah, Nak Iskandar. Saya sudah memanggil ambulan. Sebaiknya, Nak Wijaya masuk dulu ke rumah saya!"
Amira dan ayahnya memapah Wijaya ke dalam rumah.
__ADS_1
"Luka-lukamu tidak seperti akibat terjatuh, Nak Wijaya!"
Iskandar melihat luka menganga di sekujur tubuh Wijaya. Lukanya tidak terlalu dalam tapi sangat jelas seperti sabetan pisau.
Wijaya hanya meringis tanpa bisa memberi penjelasan.
Amira tertegun. Luka-luka di tubuh Wijaya memang sangat aneh. Seperti habis bertempur dengan binatang buas. Apakah Wijaya habis bertempur dengan vampir? Apakah dengan Leon? Karena semalam baju dan tubuh Leon juga penuh dengan koyakan ....
Wijaya sudah berada di rumah sakit. Luka-lukanya juga sudah diobati. Mungkin karena pengaruh obat membuatnya jadi mengantuk.
Amira yang menjaga Wijaya sampai keluarganya datang. Namun hingga seharian belum ada yang datang juga. Apakah Wijaya tidak punya keluaga?
Pandangan Amira tertuju kepada tas kerja Wijaya yang masih berlumuran darah. Dia berinisiatif untuk membersihkannya.
Satu persatu file di dalam tas itu dikeluarkan. Pandangan Amira tertuju kepada salah satu file. Perlahan dia membukanya.
Betapa terkejutnya Amira ketika melihat foto jasad Rena ketika pertama ditemukan. Kondisinya sangat mengenaskan. Tubuhnya seperti kehabisan darah meski tak ada luka-luka.
Amira berusaha menahan tangis agar Wijaya tidak terbangun. Tubuhnya gemetar sementara airmata deras mengalir. Pandangannya tertuju pada laporan di file terakhir.
***
Hasil Penyidikan Kematian Nona Rena Hayati.
Penyebab kematian : Kehabisan darah tanpa ada luka di tubuhnya
Saksi kunci : Tuan Leonardo
Motif : Mengambil darah korban untuk keperluan penyelidikan medis
***
Amira menutup mulutnya. Ternyata, Wijaya sudah mencurigai Leon sejak awal. Apakah Wijaya tahu kalau Leon seorang vampir?
***
Hai gengs, makasih ya sudah mampir dan ikuti terus kisah selanjutnya ya ....
__ADS_1