
***
Sebulan kemudian. Amira sudah kembali menjadi dirinya sendiri. Gadis cupu yang kuliah di Universitas Nusantara. Hari-harinya yang hilang juga ikut kembali. Sibuk dengan jadwal kuliah dan mengejar dosen yang tidak pernah pasti keberadaannya.
Yang berbeda adalah Amira selalu sendirian ketika makan di kantin. Terkadang rindu kepada Rena hadir. Bayangannya masih sliweran di mana pun Amira berada.
"Hai! Boleh kami duduk di sini?"
Nania dan Lusi muncul di hadapan Amira ketika sedang makan siang.
"Bo-boleh! Silakan, aja," jawab Amira ringan tanpa beban. Kisah yang lalu biarlah berlalu. Mereka sama-sama kehilangan seorang sahabat.
"Apa kabarmu, Amira?" tanya Lusi begitu duduk di sebelah Amira.
"A-aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?"
"Kadang kami merindukan Gisella. Kau pasti merindukan Rena juga, kan?"
Amira mengangguk pelan.
"Semoga arwah teman-teman kita tenang di alam sana!"
"Aamiin. Tapi, apa kamu tahu siapa yang sudah membunuh mereka?"
Amira menggeleng, pura-pura tidak tahu.
"Yang membunuh mereka adalah Pak Gunawan, sekuriti kampus kita. Katanya, dia melakukan pesugihan dan mengorbankan mereka kepada iblis untuk mendapatkan kekayaan!"
"Aku heran masih saja ada yang percaya dengan makhluk gaib apalagi sampai membunuh!" ujar Lusi dengan nada suara tinggi.
"Iya! Harusnya Pak Gun bekerja lebih keras, bukannya membunuh orang yang tidak bersalah!" Nania juga tidak kalah sengit.
Amira hanya terdiam. Dia juga sudah kehilangan ibunya karena keserakahan Pak Gun.
"Oh iya, aku dengar kita akan karya wisata ke luar kota. Aku sangat senang. Setidaknya kita bisa menghirup udara segar di sana!"
__ADS_1
"Karya wisata?"
"Ho-oh! Kamu ikut ya, Mir. Kita bertiga bisa melupakan kejadian buruk terakhir ini," ajak Lusi penuh harap.
Amira tidak langsung mengangguk. Sebenarnya, dia masih menunggu Leon. Jika ikut berkarya wisata, Leon tidak bisa menemuinya.
"Aku akan meminta izin orang tuaku dulu," jawab Amira mencari alasan.
"Kamu ini tidak berubah ya, Mir. Seusiamu masih saja meminta persetujuan orang tua!" ujar Nania sedikit kecewa.
"Tapi, Amira ada benarnya juga. Aku juga ingin lebih dekat dengan keluargaku. Entah, apa yang nanti akan terjadi pada kita seperti Rena dan Gisella ...," ucap Lusi lirih.
"Iya, Lus. Yang kamu katakan ada benarnya juga. Aku juga akan meminta izin kepada orangtuaku dulu. Makasih ya, Mir. Kamu sudah mengingatkan kami!"
Amira hanya tersenyum melihat keduanya. Sikap mereka mulai ada perubahan dan tidak arogan seperti dulu.
***
Malam ini ada jadwal kuliah sehingga Amira tidak langsung pulang. Dia sudah menyiapkan buku-buku yang lumayan berat.
"Ma-maaf, saya sedang buru-buru!" sungut Amira seraya mengambil buku-bukunya yang jatuh.
"Gak apa-apa, kok. Aku juga kurang hati-hati!" ujar laki-laki yang hampir ditabrak Amira. Dia berjongkok dan ikut mengambil buku Amira yang berserakan di atas lantai.
"Ooh, terima kasih!" ujar Amira ketika laki-laki itu menyerahkan buku yang diambilnya.
Amira mendongak dan sedikit terkejut. Laki-laki di depannya sangat tampan meski Leon selalu menjadi nomor satu.
"Tidak apa-apa. Apa aku tidak bisa menjadi nomor satu untukmu?"
Amira tertegun mendengar ucapan laki-laki itu. Dia seperti mendengar suara hati Amira.
"Maksudmu?"
"Baiklah! Nomor dua juga tidak apa-apa," ujar laki-laki itu lagi.
__ADS_1
"Maaf! Saya tidak mengerti."
Laki-laki itu tertawa kecil melihat keluguan Amira.
"Nanti bisa kita bicarakan lagi. Aku harus pergi!"
Laki-laki tampan itu pun berlalu. Tinggal Amira yang masih tidak mengerti apa yang dibicarakannya.
Akhirnya, Amira sampai juga di ruang kelasnya. Sepertinya kuliah sudah dimulai. Gadis itu masuk ke dalam kelasnya dengan mengendap-endap. Berharap tidak ada yang melihat kedatangannya.
Amira beruntung masih ada bangku kosong di bagian belakang. Setelah merapikan buku-bukunya, dia mulai berkonsentrasi mendengarkan dosen.
Namun, Amira malah tercengang setelah melihat dosen yang tengah mengajar. Dia adalah laki-laki yang hampir ditabraknya barusan.
Sekilas, pandangan dosen tertuju kepada Amira. Gadis itu pura-pura menulis sesuatu. Hatinya jadi tak menentu. Konsentrasinya menghilang entah ke mana. Berharap dosen itu tidak mengenalinya.
Amira tidak pernah melihat dosen tampan itu. Mungkin karena mengambil cuti jadi tidak mengetahui ada dosen baru.
Sampai pelajaran selesai, konsentrasi Amira belum kembali juga. Tatapan dosen tampan itu benar-benar membuatnya kehilangan kesadaran.
Amira buru-buru meninggalkan kelas meski berdesakkan. Tapi kejadian yang sama terulang kembali. Tubuhnya yang mungil tak sanggup bersaing dengan mahasiswa lain. Lagi-lagi, buku-bukunya jatuh berserakan di atas lantai.
"Ya,Tuhan. Kapan aku tumbuh besar dan kuat sehingga bisa melewati mereka semua!" celetuk Amira sambil memunguti buku-bukunya.
"Makanya rajin minum susu jadi kamu tumbuhnya ke atas bukan ke samping!"
Seseorang membantu Amira mengambil buku terakhir. Amira tertegun. Dia seperti mengenali suara itu.
"Abang Wijaya!"
Ternyata dia adalah Wijaya. Dia hanya tertawa mendengar Amira memanggil namanya.
"Yups, ini aku! Apa kabarmu, Amira?"
***
__ADS_1
Hai gengs bertemu lagi dengan Mimin imuut, ikuti terus jalan ceritanya ya, moga kalian semua sehat selalu dan dilindungi Allah SWT, Aamiin ❤❤❤