PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 70. PERPISAHAN TERAKHIR


__ADS_3

***


Amira sangat terkejut melihat Leon juga berada di dalam bus.


"Leooon!?"


"Jangan melotot seperti itu! Aku jadi takut, tahu!" ucap Leon santai.


Amira mencari cara agar Leon tidak ikut bersamanya.


"Maaf, Mang. Sebaiknya orang ini suruh keluar saja. Dia itu punya penyakit kulit yang menular! Lihat aja, dia pakai jaket rapat seperti itu. Pasti untuk menutupi koreng di tubuhnya!" celetuk Amira.


"Apa? Penyakit menular? Wah, bahaya ini. Heh! Kamu cepat turun!" ujar kernet bus yang ketakutan. Beberapa penumpang yang mendengar ucapan Amira juga menjadi gaduh.


Leon tidak menyangka Amira akan mengatakan hal itu.


"Enak, saja! Gadis ini bohong, Pak. Mana mungkin saya punya penyakit menular! Kulit saya sangat bersih seperti susu," ucap Leon lagi membela diri.


"Saya gak bohong, Mang. Coba suruh dia buka jaketnya!"

__ADS_1


"Iya, buka jaketmu dulu baru saya percaya!"


Leon kelihatan kebingungan. Sementara Amira hanya cengengesan.


"Baik-baik! Saya akan turun. Tapi, gadis ini sudah berbohong. Hati-hati, Pak. Dia itu pacarnya vampir. Bisa aja, vampir itu ada di sini!" ungkap Leon yang langsung kabur ke luar dari bus.


Keadaan berbalik. Kini, Amira yang dicurigai seluruh penumpang bus.


"Apa benar Neng ini pacarnya vampir?" tanya kernet bus itu penasaran. Begitu juga penumpang di dekat mereka.


"Aakh! Mang. Kenapa percaya sama orang itu? Mana ada vampir di dunia ini, apalagi di sini?"


"Iya-iya. Pernah ada yang melihat rumah vampir tapi begitu dilihat lagi sudah hilang!" celetuk seorang wanita yang duduk di sebelah Amira.


"Apa ada yang pernah melihat vampir itu?"


Kernet dan wanita itu menggeleng.


"Nah! Untuk apa percaya dengan cerita vampir yang tak pernah dilihat orang!"

__ADS_1


"Tapi, kata teman Neng tadi ...," tanya kernet itu ragu.


"Dia hanya bercanda, Mang. Agar saya tidak pergi!"


"Jangan-jangan dia itu pacar Neng, ya?" tanya wanita di sebelah Amira.


"Hhmmm, sebenarnya iya sih! Dia itu pangeran yang turun dari kahyangan. Rumahnya di dekat air terjun. Dia memaksa aku untuk ikut bersama ke kahyangan. Di sana kami akan menikah. Tapi aku gak mau karena harus ujian kenaikan tingkat!" cerita Amira mengada-ada. Tapi kelihatannya mereka percaya. Setidaknya mereka jadi diam tak tak berisik lagi.


Amira sudah bisa bernapas lega setelah Leon tidak mengikutinya lagi. Namun ada sesuatu yang hilang dari dalam hatinya. Berharap masih ada kesempatan bertemu lagi dengan sang kekasih.


Bayangan Leon masih terlihat melintasi rimbunnya pepohonan di jalanan yang dilewati bus. Amira tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Matanya mulai basah. Seharusnya, dia kuat menahan segala perasaan di saat perpisahan terakhir.


Bahkan mentari sengaja bersembunyi agar Leon bisa lebih lama mengantarkan kepergian kekasihnya. Tidak ada gunanya kembali ke wujud semula, pada akhirnya tetap saja mereka terpisahkan.


Leon berhenti ketika bus sudah melewati hutan. Napasnya terengah-engah bukan karena lelah mengiringi kepergian Amira. Namun karena sesak di dadanya yang membuatnya seperti terkurung di peti mati. Karena merasakan kepedihan harus terpisah dengan sang kekasih.


Inikah rasanya menjadi manusia? Mengapa cinta terasa sangat menyiksa? Akankah cinta mempertemukan mereka kembali? Atau akan terpisah selamanya?


***

__ADS_1


Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Apakah Amira dan Leon akan bertemu lagi? Ikuti terus kisah selanjutnya ya .... ❤❤❤❤❤


__ADS_2