PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 39? AKANKAH HATIKU AKAN GOYAH?


__ADS_3

***


"Terima kasih, eee ...."


Amira sangat menyesal karena tidak tahu nama dosennya sendiri.


"Namaku Andrian Abimana. Masa sih mahasiswa tidak tahu nama dosennya sendiri?"


"Maaf, Pak Dosen. Kemarin saya sempat mengambil cuti dan baru sebulan ini kuliah lagi," jelas Amira yang merasakan sedikit malu.


"Hhmm, aku juga belum lama melihatmu dan aku langsung tertarik. Kamu harus tahu kata-kata jatuh cinta pada pandangan pertama. Seperti itulah perasaanku saat ini!"


Amira tertegun. Seorang laki-laki yang baru saja dikenalnya sangat mudah bicara tentang cinta. Dia mulai merasakan keanehannya.


"Ma-maaf, aku harus pergi. Takut tertinggal bus. Terima kasih, Dos!" ucap Amira seraya melangkah pergi.


"Tunggu!" cegah Andrian.


"Ya, ada apa Pak Dosen?"


"Jangan panggil aku seperti itu. Aku belum begitu tua, bahkan aku belum menikah. Kamu bisa panggil mas atau Kakak!" ungkap Andrian.


"Hhhmmm, bagaimana ya?"


Amira melihat wajah Andrian belum begitu tua, agak dewasa sedikit aja. Memang tidak pantas dipanggil bapak, tapi tidak pantas juga dipanggil mas atau abang.


"Boleh saya panggil Mas Dosen?"


Andrian tertawa. Amira malah kebingungan.


"Dosennya gak usah dipakai. Mas Andrian saja!"


"Baik, Mas," ujar Amira seraya mengangguk.


Andrian tersenyum.


"Oh iya, apa kamu ikut acara karya wisata nanti?"

__ADS_1


"Mungkin saya akan ikut juga, Mas. Tapi apa lokasinya jauh di pedalaman?"


"Tidak juga! Setahuku nanti kita akan menginap di sebuah villa yang cukup besar di pedesaan," ungkap Andrian.


Amira manggut-manggut. Dia memang sudah lama tidak ke mana-mana. Sejak ibunya meninggal, tak ada gairah untuk pergi jauh dari rumah.


Andrian menatap Amira lekat. Dia seperti memikirkan sesuatu.


"Apa kau sedang memikirkan ibumu?"


Amira menoleh, lagi-lagi Andrian bisa menebak jalan pikirannya. Amira jadi teringat Leon.


"Bagaimana Mas tahu apa yang sedang aku pikirkan?" tanya Amira menyelidik. Apa Andrian juga seorang vampir?


"Apa aku terlihat seperti vampir?"


Amira benar-benar speechless. Sementara Andrian hanya tertawa melihat ekspresi Amira.


***


Wijaya kembali berada di kampus Amira. Memang kali ini dia bukan bertugas di bagian pembunuhan. Tapi, ada pergerakan gembong narkoba yang memanfaatkan mahasiswa untuk menjual benda haram itu.


Namun, baru saja Wijaya akan mendekati Amira, seorang laki-laki lebih dahulu melakukannya. Wijaya belum pernah melihatnya di sekitar Amira. Siapa laki-laki itu? Mereka kelihatan sangat akrab.


Wijaya merasakan ada aura panas dari laki-laki yang sedang bersama Amira. Dia harus tahu siapa dia sebenarnya.


"Hallo, Amira!" sapa Wijaya.


Amira menoleh begitu juga Andrian.


"Hai, Bang Wijaya!" jawab Amira seraya berdiri.


Andrian juga ikut berdiri dan membungkuk seperti memberi hormat. Sikapnya sangat sopan padahal baru pertama kali bertemu dengan Wijaya.


"Oh iya, Bang. Kenalkan, ini dosenku, namanya Mas Andrian!"


"Hai! Saya Andrian," ujar Andrian memberi salam seraya menyodorkan tangannya.

__ADS_1


"Salam kenal, saya Wijaya!"


Wijaya tidak mengenalkan diri sebagai polisi karena tugasnya dalam penyamaran. Amira juga sudah tahu soal itu. Hanya dia saja yang tahu profesi Wijaya sebenarnya.


"Apa kamu kuliah di sini?"


"Iya, aku kuliah di semester akhir!" jawab Wijaya sedikit berbohong.


Andrian masih menatapnya penuh selidik.


"Boleh tahu di jurusan apa? Mungkin kita nanti akan sering bertemu!"


Wijaya agak kebingungan menjawab pertanyaan Andrian. Dia tidak ingin menjadi pesakitan.


"Oh iya, Amira. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Bisa ikut denganku sebentar?" tanya Wijaya mengalihkan pembicaraan.


"Baik, Bang. Maaf ya, Mas. Saya tinggal dulu!"


"Oke! Pergilah. Sampai jumpa di ruang kampus!"


Amira mengangguk. Wijaya tersenyum tipis sebelum beranjak pergi.


Andrian masih berdiri di tempatnya semula seraya melihat kepergian Amira dan Wijaya. Tak lama, sebuah senyuman mengembang di sudut bibirnya seperti sudah menemukan sesuatu.


"Aku tidak pernah melihat Andrian selama ini. Apa kamu benar-benar mengenalnya, Amira?" tanya Wijaya setelah berada di kafe kampus.


"Aku baru beberapa kali melihatnya mengajar. Mas Andrian memang baru saja mengajar di sini. Ada apa dengannya? Apa Abang mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui?"


"Aku kurang yakin tapi ada aura panas di dekatnya. Aku akan menyelidikinya lebih jauh lagi!"


"Aku memang merasa aneh karena Mas Andrian selalu ada di dekatku. Apa aku saja yang geer, ya?"


Amira jadi malu sendiri dengan ucapannya.


Wijaya melihat perubahan sikap Amira. Biasanya dia tidak cepat akrab dengan orang lain apalagi laki-laki. Kali ini, Amira dengan mudahnya menerima kehadiran Andrian. Apa hanya perasaan Wijaya saja yang menjadi lebih protektif? Atau ada perasaan lain yang memenuhi ruang hatinya. Apa Wijaya sedang cemburu?


***

__ADS_1


Hai gengs makasih ya sudah mampir. Ikuti terus kelanjutan ceritanya ya. Ooh iya, kalau keluar rumah jangan lupa bawa payung, takut atit kalau kehujanan hehe ❤❤❤


__ADS_2