PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 56. BAYANGAN MISTERIUS


__ADS_3

***


"Aku akan ikut denganmu dan melihat langsung yang telah kamu katakan!"


Andrian teringat yang dikatakan Nona Annastasia. Yang ingin ditemuinya adalah Ketua Vampir Putih bukannya vampir wanita yang hanya menyusahkannya saja.


"Tenanglah! Aku sudah membiasakan diri makan makanan manusia. Lagipula aku juga bisa berjalan di bawah cahaya!"


Andrian sangat terkejut ketika Nona annastasia muncul tiba-tiba.


"Bagaimana bisa Nona berjalan di dalam terang? Apakah matahari tidak menyakiti Nona?"


"Kami membuat ekstrak dari bunga dan meminumnya. Kami melakukannya selama ratusan tahun dan hasilnya baru kami rasakan terakhir ini. Kami hanya bisa menikmati matahari di pagi dan sore hari saja. Tapi itu sudah sangat berarti untuk kami sebagai vampir!"


"Jadi itu rahasianya mengapa vampir di sini bisa berjalan di bawah matahari. Tapi maaf, Nona. Aku tidak tenang bila belum bertemu dengan Ketua!"


"Hhmmm, ternyata kamu bukan orang yang gampang percaya, ya. Apa aku masih kurang meyakinkan?"


"Maaf, Nona. Yang aku lakukan bukan untuk diriku sendiri tapi untuk keluargaku juga. Aku harus mendengar apa yang dikatakan Ketua!"


Nona Annastasia terdiam. Dia mencoba menyelami hati dan pikiran Andrian. Seperti juga dia yang separuh manusia dan separuh vampir. Hatinya juga sulit dimengerti.


"Baiklah! Datanglah nanti sore. Aku usahakan agar Ketua menemuimu! Tapi, janji dulu kalau aku boleh ikut denganmu, ya!"


Andrian sedikit bingung. Perjalanan nanti sangatlah jauh dan sulit. Dia tidak yakin bisa membuat Nona Annastasia nyaman.


"Aku gak akan menyusahkanmu, kok. Aku janji!" ujar Anna dengan wajah berbinar.


Hati Andrian pun luluh. Dia merasa yang ada di hadapannya bukanlah vampir tapi manusia biasa.


***


"Bagaimana dengan penyamaranmu? Apakah berjalan lancar?" tanya Wijaya setelah Amira masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Aku malu menceritakannya. Sepertinya aku tidak pandai menari balet. Kakiku sakit sepertinya terkilir!"


"Maafkan aku sudah menyusahkanmu. Apa penyamaranmu dibatalkan saja!"


"Jangan! Sebentar lagi aku akan bertemu dengan pacarnya Anna. Aku akan tetap melakukan penyamaran sampai selesai!" sergap Amira.


"Baiklah! Asalkan kamu tetap waspada!"


"Katanya, Anna melihatku sejak lama. Dia tahu soal Leon yang menjadi vampir dan menolongku di acara ulang tahun Gisella!"


"Apa dia tahu kalau Leon vampir beneran?!"


"Entahlah! Anna tidak menyinggung soal itu. Tapi, dia sangat baik dan perhatian padaku!"


"Sebaiknya kita makan dulu. Aku lapar sekali!" ujar Wijaya seraya melajukan mobilnya.


"Tunggu, Bang! Sebaiknya aku pulang sendiri, aja.


Wijaya tertegun. Sepertinya Amira masih teringat dengan Leon.


"Aku bisa makan di rumah, Bang!"


"Ya, sudah. Nanti aja setelah mengantarmu baru aku makan!"


"Gak apa-apa kok, Bang. Aku bisa pulang sendiri. Sudah, ya!"


Amira membuka pintu dan langsung keluar dari mobil. Wijaya tak sempat mengatakan apapun. Dia hanya bisa melihat Amira berjalan menuju ke halte bus. Tak lama, dia pun naik ke dalam bus menuju rumahnya.


Wijaya menarik napas panjang. Amira memang kelihatan tegar namun hatinya pasti rapuh. Wijaya hanya bisa berharap suatu saat bisa berada di dalam hari amira. Dia tidak akan pernah meninggalkannya sedetik pun.


Amira terus berjalan menuju ke rumahnya setelah turun dari bus. Malam itu terasa sangat sunyi. Amira hampir lupa sejak kapan dia merasakannya. Mungkin sejak kerinduan sudah mengikatnya kuat.


Tiba-tiba, Amira merasa ada yang sedang mengikutinya. Dia mempercepat jalannya. Bayangan itu juga melakukan hal yang sama. Mendadak, Amira berhenti dan menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun di sana.

__ADS_1


"Leon ..., apa kamu di sana?"


Amira merasa yang mengikutinya bukanlah manusia biasa. Entah mengapa, Amira merasakan kehadiran Leon. Padahal, dia sangat jauh.


Setelah menunggu beberapa saat, Amira kembali melangkah. Kali ini, dia tidak merasakan apa-apa lagi. Nalurinya semakin tajam setelah mengenal Leon. Seharusnya Leonlah yang muncul.


Di dalam kegelapan, sepasang mata terus mengawasi Amira. Entah apa yang dicarinya.


***


Casandra sudah berada di dalam ruangan yang gelap dan pengap. Untung saja dia bisa melihat di dalam kegelapan. Di hadapannya ada sebuah kerangkeng.


"Jangan pegang kerangkeng itu, Casandra. Vampir putih sudah memberikan segel yang tidak bisa disentuh!" pesan Tuan Alex lewat telepati.


"Baik, Ayah!" jawab Casandra.


"Leon ..., ini aku Casandra!" ucapnya lagi.


Tidak ada jawaban. Hanya ada suara dengus napas yang kasar.


Casandra melihat dengan lebih jelas. Ada sebuah bayangan di pojok ruangan berjeruji itu.


"Jawab aku, Leon!"


Bayangan itu bangkit dan mengeluarkan suara geraman yang lebih keras. Casandra mundur beberapa langkah. Yang dilihatnya bukanlah Leon. Wajah bayangan itu sangat menakutkan menyerupai kelelawar.


"Tidak, Leon! Mengapa kamu jadi seperti ini? Sadarlah, Leon. Kembalilah kepada wujud manusia!"


Makhluk itu kembali menggeram. Dia sama sekali tidak mengenali Casandra.


Tubuh Casandra lemas dan tidak bisa berkata apa-apa. Hanya ada penyesalan di dalam hatinya karena memilih pergi di saat keluarga sedang menghadapi masalah. Kini, dia tidak tahu harus bagaimana. Leon harus bertarung dengan dirinya sendiri.


***

__ADS_1


Hai gengs makasih ya sudah mampir, ikuti terus kisah Amira selanjutnya ya ... ❤❤❤


__ADS_2