PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 22. SEBUAH PENGAKUAN


__ADS_3

***


Wijaya terjaga. Dia melihat Amira tertidur di sampingnya. Kondisinya sudah membaik dan luka-lukanya sudah hilang semua. Dia hanya memerlukan waktu seharian untuk sembuh. Leon sudah banyak melukai tubuhnya. Seharusnya, bila hanya terluka sedikit bisa sembuh dalam waktu cepat.


Amira terjaga ketika merasa tempat tidur Wijaya bergerak.


"Pak Wijaya ...," panggil Amira setelah melihat Wijaya sudah terjaga bahkan tengah berdiri sambil memakai pakaiannya.


"Ooh, maafkan aku sudah merepotkanmu. Aku sudah baikan, kok!"


"Tapi, Bapak perlu istirahat!"


"Aku bisa istirahat di rumah. Ayolah! Aku akan mengantarmu pulang!"


Amira merasa kasihan melihat Wijaya yang masih memakai baju berlumuran darah.


"Tunggu sebentar, aku keluar sebentar!"


Tanpa menunggu persetujuan Wijaya, Amira langsung berlari keluar. Mau tidak mau, Wijaya menunggu. Entah, Amira pergi ke mana.


Ketika Amira tertidur, Wijaya sudah mengurus semua administrasi rumah sakit jadi bisa langsung keluar. Walaupun dokter melarang tapi Wijaya bersikeras untuk pulang.


Wijaya melihat tas kerjanya sudah bersih dari bercak darah. Dia kelihatan cemas, mengira Amira melihat file di dalam tasnya. Ternyata semua filenya masih lengkap. Berharap Amira tidak tahu isi file itu.


Tak lama, Amira kembali dengan napas tersengal-sengal seperti habis berlari.


"Ini, Pak! Mudah-mudahan Bapak muat," ujar Amira seraya menyodorkan sebuah bungkusan.


"Apa ini?"


"Baju dan celana ganti, Pak. Maaf saya gak bisa membelikan yang bagus. Hanya itu yang ada di toko rumah sakit!"


"Terima kasih! Maafkan aku sudah merepotkanmu."


Wijaya merasa bersalah melihat apa yang dilakukan Amira untuknya. Selama ini dia selalu sendiri. Penilaiannya terhadap Amira tidak salah. Dia adalah gadis yang tepat untuknya.

__ADS_1


"Syukurlah, semuanya cocok untuk Bapak!" ujar Amira setelah Wijaya mengganti bajunya dengan yang baru.


"Iya, kamu pintar memilihnya. Sekali lagi terima kasih!"


"Gak apa-apa kok, Pak. Tapi, apa tidak apa-apa Bapak keluar dari rumah sakit? Maksudku, dengan semua luka itu. Apa tidak sakit?"


Wijaya tertawa seakan pertarungan semalam tidak pernah terjadi.


"Aku terbiasa terluka. Biasanya aku bisa sendirian. Entah kenapa semalam aku berakhir di rumahmu. Tapi, aku bersyukur karena kamu dan keluargamu mau menolongku. Sekali lagi terima kasih!"


Sudah tiga kali Wijaya mengucapkan terima kasih. Dia sangat tahu bagaimana rasanya sendirian. Kini, rasa itu perlahan menghilang.


Wijaya mengantarkan Amira pulang dengan taksi. Iskandar sangat terkejut melihat keadaan Wijaya sangat baik. Berbeda dengan pagi tadi. Tapi, dia tidak ingin banyak bertanya. Hanya bersyukur tidak terjadi hal buruk pada Wijaya karena sudah menitipkan Amira padanya.


***


Amira teringat file yang dipegang Wijaya. Tentang kasus kematian Rena. Bagaimana bisa Wijaya mengetahui siapa Leon? Padahal Amira sudah mengatakan sedang bersama Leon saat peristiwa itu terjadi.


Dikuncinya pintu kamar rapat-rapat sebelum membuka jendela kamar. Hampir jam dua belas malam, Amira tidak akan bisa tidur sebelum pertanyaan di kepalanya menemukan jawaban.


"Selamat malam, Sayang ...," ujar Leon yang datang bersama angin malam.


"Apa kamu baik-baik saja, Leon? Kemarin malam aku melihat ada luka di tubuhmu!"


Leon terdiam. Semua luka itu tak terasa sakitnya. Bahkan dia sudah lupa pernah mendapatkan luka itu.


"Aku baik-baik saja, Sayang," bisiknya lembut.


Tapi, Amira belum bisa tenang.


"Apakah kamu yang sudah melukai Wijaya, Leon?" tanya Amira masih di dalam hati namun Leon bisa mendengarnya.


"Katakanlah, Sayang. Ada apa di dalam pikiranmu saat ini?"


"Gak apa-apa, kok. Hhmm, aku sedang memikirkan pantai yang pernah kau janjikan dulu!"

__ADS_1


Leon tahu Amira sedang berbohong.


"Pantai? Apa kamu mau pergi sekarang?"


"Tidak! Besok aku masuk kerja. Bagaimana kalau aku libur lagi. Kamu masih mau ke sana kan, Leon?"


"Tentu saja aku mau. Apalagi ada gadis cantik sepertimu. Tapi, aku lebih suka kamu menggerai rambutmu, seperti sekarang ini!"


Amira melepaskan pelukan Leon. Dia baru sadar kalau rambutnya berantakan dan berusaha merapikannya.


"Kamu tetap cantik, kok!"


"Jangan mengejekku, Leon. Kamu tahu bagaimana aku ketika di kampus. Mereka mengolok rambutku dan menyebutnya sarang burung!" ujar Amira yang masih sibuk merapikan rambutnya.


Leon meraih tangan Amira dan menatapnya lembut.


"Dari dulu, aku suka kamu apa adanya. Entah rambutmu mirip sarang burung atau apalah kata mereka. Aku hanya ingin kamu selalu jujur padaku. Meski itu akan menyakitiku!"


"Leon ...."


"Aku melihat ketidakjujuran di matamu. Itu membuat hatiku terusik!" ucap Leon penuh makna.


"Apa kamu juga akan jujur?"


Leon cepat mengangguk.


Amira terdiam. Dia sempat ragu dengan hatinya.


"A-apa kamu yang sudah melukai Wijaya? Kamu marah karena Wijaya mencurigaimu yang sudah membunuh Rena?"


Leon harus menepati janji tapi hanya sebagian. Dia tidak akan mengatakan siapa Wijaya sebenarnya.


"Ya! Aku memang sudah menyerangnya!"


Amira tertegun. Pengakuan Leon membuat hatinya bergetar. Tak menyangka Leon bisa menyakiti siapa saja yang berlawanan dengannya. Amira tidak tahu bagaimana esok. Apakah bisa menghadapi Leon dengan hati tenang? Atau rasa takut yang menguasai hatinya ....

__ADS_1


***


Hai gengs makasih ya sudah mampir, ikuti terus kisah selanjutnya ya ....


__ADS_2