
***
Malam mulai beranjak pekat. Bintang-bintang bersinar penuh kegembiraan. Seakan ikut merasakan suka ria di dalam hati Amira.
Amira masih berjalan menyusuri taman. Tentu saja berdua dengan Leon, Sang Pangeran Vampir.
Sesekali, Amira melirik Leon yang terdiam tanpa kata. Postur tubuhnya yang tinggi tidak sebanding dengan Amira yang pendek. Gadis itu sengaja tidak terlalu dekat dengannya agar tidak terlihat seperti anak kecil.
Gaya bicara Leon memang sangat lancar. Namun parasnya sangat jelas kalau dia bukan orang pribumi. Warna rambutnya memang hitam tapi kulitnya putih pucat seperti tanpa darah.
"Ada apa?"
Amira salah tingkah. Leon menemukan tatapannya.
"Aah, tidak apa-apa," jawab Amira gagap sambil membuang pandangannya ke arah lain.
"Aku ganteng, kan? Kamu naksir aku, ya?" tembak Leon langsung tepat di hati Amira.
Tenggorokan Amira terasa sangat kering. Sekali lagi, Leon bisa membaca pikirannya.
"Apa semua gadis yang menatapmu itu pasti naksir sama kamu?"
"Hhmmm, biasanya sih begitu!"
"Semuanya? Termasuk nenek-nenek?"
Leon terbahak. Amira benar-benar mengocok perutnya.
"Bisa jadi! Mungkin nenek itu sedang mencari pasangan buat cucunya. Iya, kan?"
"Ternyata, aku banyak saingan! Uuh, tak ada kesempatan sama sekali," pikir Amira.
"Kamu masih punya kesempatan, kok!"
"Leon ..., bisa gak sih kamu itu tidak membaca pikiranku!"
"Maaf! Aku gak bisa. Pikiranmu itu jelas sekali, tanpa penyekat seperti kaca. Bahkan, pikiran jorokmu itu juga aku tahu," ungkap Leon jujur.
"Leon!" teriak Amira seraya menutup kepalanya dengan kedua tangan.
Leon kembali tergelak. Amira saja tak sadar kalau memikirkan hal jorok itu.
"Mau tahu pikiran jorokmu, gak?" ledek Leon.
__ADS_1
"Nggak! Jangan dibahas lagi!"
Amira berlari kecil menjauhi Leon. Mengira kalau Leon tidak bisa membaca pikirannya lagi. Kenyataannya, Leon sangat tahu setiap sudut di dalam kepala Amira.
Hampir jam sepuluh malam. Amira kelihatan gelisah. Dia minta izin menginap di rumah Rena. Tapi saat ini, entah di mana keberadaan sahabatnya itu.
"Rena masih menunggumu di depan rumah Gisella!" cetus Leon.
"Bagaimana kamu tahu aku sedang memikirkan Rena?"
"Aku tahu, aja!"
Leon nyelonong tanpa memedulikan Amira yang sedang menunggu jawaban.
"Dasar! Sok kerennya kumat!" Gumam Amira.
Leon hanya tersenyum tipis.
***
"Renaaa ...," panggil Amira setelah melihat bayangan Rena dari kejauhan.
"Amiraaa! Darimana saja kamu? Maaf, aku gak bisa menjagamu. Gisella dan gangnya sudah kelewatan!"
"Gak apa-apa, kok. Aku sudah jauh lebih baik. Hanya saja pas sadar, aku sudah jauh dari sini! Sepertinya ada Pangeran Vampir yang sudah menculikku!"
Amira melirik Leon yang diam saja, tanpa rasa salah.
"Aku pergi dulu, ya!"
Leon melangkah pergi tanpa penjelasan. Amira merasa ada yang hilang.
"Makanya kalau dekat dengan Leon jangan ngajakin ribut, Ra. Dia kan sudah banyak menolongmu!"
Amira terdiam. Apa dia sudah berbuat salah, makanya Leon pergi.
"Sudahlah! Ganti bajumu. Aku gak mau orang tuaku kaget melihatmu seperti vampir. Eeh! riasanmu sudah hilang. Siapa yang menghapusnya? Pasti Leon, ya!"
Amira mengangguk pelan. Lagi-lagi Leon. Entah kenapa, hatinya berusaha menolak keberadaan laki-laki itu. Apakah karena Amira takut kecewa?
"Ayolah, kita cepat pulang! Moga aja masih ada taksi yang lewat sini!" ajak Rena setelah Amira mengganti baju di toilet sebuah minimarket.
Baru saja, Rena hendak mencari taksi, sebuah mobil berhenti di hadapannya.
__ADS_1
"Ayolah, naik!"
Ternyata Leon yang ada di dalam mobil itu.
"Aaah, syukurlah ada Leon. Kamu baik sekali, deh!"
Rena segera masuk ke dalam mobil. Tinggal Amira yang masih berdiri terpaku.
"Amira! Ayo, naik."
Suara Rena menyadarkan Amira dari lamunannya.
Sepanjang jalan, Amira hanya diam saja. Sesekali melihat Leon yang serius menyetir. Sedangkan Rena sekedar memejamkan matanya.
"Leon, makasih ya ...," bisik Amira pelan. Entah, Leon mendengarnya atau tidak.
Leon tanpa ekspresi. Dia tahu, Rena tidak benar-benar tidur. Hanya Amira yang tahu kemampuannya yang bisa mendengar. Itu juga sudah melanggar peraturan yang dibuat ayahnya.
"Jangan memberitahukan kemampuanmu kepada orang lain, bahkan kepada gadis yang kamu sukai."
"Memangnya kenapa, Ayah?"
"Itu akan membahayakannya. Masih ada mahkluk kegelapan lainnya yang tidak suka dengan kita. Mereka bisa melukai siapapun yang ada di dekat kita!"
Leon tidak menyesali kehadiran Amira di dekatnya. Makanya dia tidak akan menjauh. Karena hatinya yang kelam perlahan mendapatkan terang.
Amira sudah salah paham. Sikap Leon sangat berbeda. Mungkin, Leon benar-benar marah padanya.
Tak lama mereka sampai juga di rumah Rena.
"Makasih ya, Leon! Bagaimana kami kalau tanpamu" ujar Rena setelah turun dari mobil.
"Gak apa-apa, kok. Kalian masuk saja, sudah malam!"
"Oke! Ayo, Ra."
Rena menggandeng Amira masuk ke dalam rumahnya. Amira hanya mengangguk dan mengikuti langkah Rena. Hanya menyisakan tatapan tanpa kata.
"Terima kasih sudah menjadi penyelamatku, Leon. Terima kasih sudah membuat malam menjadi penuh bintang!" ucap Amira dalam hati.
Leon kembali melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Jelas, dia mendengar suara hati Amira. Dia menoleh ke atas langit. Ya! Malam itu dipenuhi bintang-bintang. Begitu juga dengan hatinya yang berbinar layaknya bintang.
***
__ADS_1
Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Ikuti kisah selanjutnya ya ...