
***
Amira masih menatap wajahnya di cermin. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Apa ini, aku?"
"Iya dong, Say. Kamu itu sebenarnya cantik kalau merias wajahmu. Pasti cowok-cowok naksir sama kamu, deh!" ujar Nania dengan senyum mengembang.
"Benarkah? Apa kita sudah bisa turun ke pesta Gisel?"
Amira sangat antusias. Dia sudah membayangkan banyak yang akan terpesona padanya, termasuk Leon.
"Hhmmm, tunggu sebentar. Sebaiknya kamu memakai penutup mata. Agar kamu bisa melihat tatapan orang-orang yang terpesona dengan kecantikanmu!"
"Apa benar seperti itu?"
"Iya, Say. Aku tutup, ya!"
Nania menutup mata Amira dengan kain berwarna hitam. Senyuman liciknya tersungging di bibir.
"Hhmm, lipstiknya kurang merona. Aku tambahin sedikit ya, Say."
Nania mulai mengoleskan lipstik di bibir Amira. Tapi dia juga menambahkan seperti darah segar. Kali ini, Amira lebih mirip vampir yang baru saja memangsa manusia.
"Mereka pasti akan terkejut melihat kecantikanmu nanti!"
Nania mengambil handphone dan memotret Amira. Tentu saja, mereka akan terkejut melihat ada vampir perempuan!
Gisella tersenyum licik melihat layar handphonenya. Wajah Amira terpampang di sana. Acara ultahnya pasti akan seru.
"Sebenarnya ada apa, sih? Mengapa aku dibawa ke sini?"
Rena mulai penasaran setelah hampir setengah jam menunggu.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihatmu saja. Baiklah! Kita ke acara pestaku!"
"Tunggu sebentar! Maksudmu apa? Di mana Amira?"
Rena baru sadar, Amira tidak ada.
"Nanti juga ketemu!"
Gisella nyelonong pergi, Lisa mengikutinya. Mereka tertawa penuh kegembiraan. Rena mulai curiga ada yang tidak beres.
__ADS_1
Suasana di ruangan tempat pesta Gisella sudah ramai. Suara musik menggema ke seluruh ruangan. Semua yang datang, menghentikan aktifitasnya ketika Gisella muncul.
Mereka berdecak kagum melihat kecantikan Gisella. Sebagian menatap iri padanya. Seorang gadis cantik dan mempunyai orangtua yang kaya. Kurang apalagi darinya.
"Baiklah! Untuk memeriahkan acara ultahku. Ada seseorang yang akan datang. Dia adalah gadis yang sangat cantik. Kalian para jomblo pasti akan terpesona karena kecantikannya. Marilah kita sambut, Amiraaa ...!"
Rena merasa ada yang aneh dengan sikap Gisella dan gengnya.
Dari balik pintu, Nania muncul sambil menuntun Amira. Semua yang hadir sangat terkejut melihat penampilan gadis itu. Bukannya cantik, Amira malah seperti vampir!
"Astaga, Amira!"
Rena tidak menyangka mereka sudah melakukan hal buruk sampai seperti itu kepada Amira.
Amira tersenyum lebar setelah matanya dibuka. Tapi begitu melihat tatapan ketakutan, Amira mulai cemas.
"Awas ada vampiir!" teriak seseorang.
"Ternyata Amira seorang vampir. Awas, nanti dia menghisap darah kita!" Terdengar juga suara yang lain.
Suara tawa memenuhi ruangan itu. Amira semakin kebingungan.
"Nah! Katanya kalau vampir itu takut sama bawang putih. Ini, aku berikan jus bawang putih biar vampirnya mati!"
Amira tak bisa mengelak. Hanya bisa menangis dan menyesali kedatangannya di tempat itu.
"Apa salahku, Gis? Kenapa kalian seperti ini padaku?" tanya Amira di sela tangisnya.
"Maaf, Ra. Aku kira kamu senang seperti ini. Katanya kamu ingin cantik? Jangan salahkan aku kalau kamu tetap jelek bahkan seperti vampir!"
Ucapan Gisella sangat menyakitkan dan menusuk hati Amira. Saat itu, Amira berharap menghilang untuk selamanya.
Rena tak mampu berbuat banyak. Dia sangat menyesal karena sudah memaksa Amira datang ke acara itu. Sudah saatnya mengajak Amira pergi.
Namun, baru saja Rena akan mendekati Amira. Sebuah bayangan berkelebat dan tiba-tiba seseorang dengan jubah hitam sudah berada di samping Amira. Bayangan itu adalah Leon!
Apa yang leon lakukan? Apakah dia akan menolong Amira, atau malah semakin membuatnya menderita ....
Leon berdiri tegak di samping Amira. Dia berpakaian layaknya seorang pangeran Vampir.
Semuanya melihat dengan pandangan takjub. Leon sangat tampan meski memakai kostum vampir. Begitu juga Gisella dan gengnya. Melupakan perbuatan buruknya terhadap Amira.
Amira tak mampu menghapus air matanya. Yang ada hanya rasa malu dan membuatnya hampir mati. Apalagi Leon kini sudah berada di dekatnya.
__ADS_1
"Ternyata, aku sudah menemukan pasangan hidupku!"
Leon mengulurkan tangan. Amira sangat terkejut dengan kelakuannya. Ada sedikit rasa takut jika Leon melakukan hal yang sama dengan Gisella.
"Ayolah! Ikut denganku," ucap Leon seperti sedang menghipnotis.
Amira mengikuti arahan Leon dan menyambut uluran tangannya.
Leon tersenyum dan menuntun Amira keluar ruangan. Semua yang ada di ruangan itu menjadi riuh ketika bayangan mereka menghilang dalam sekejap.
Rena berharap Amira akan baik-baik saja. Kini, dia sudah memiliki penjaga sesungguhnya.
Gisella dan gengnya kelihatan sangat kesal karena rencana mereka tidak berakhir seperti yang dibayangkan. Bahkan Amira mendapatkan perhatian dari Leon.
Sebagian tamu memutuskan meninggalkan tempat itu. Kelakuan Gisella dan teman-temannya sangat kelewatan. Sebagian yang bertahan hanya membicarakan tentang Leon dan sikap jantannya. Mereka tidak lagi antusias dengan acara ulang tahun Gisella.
***
"Kamu baik-baik saja?"
Amira baru sadar ketika mendengar suara Leon. Mereka sudah berada di sebuah taman.
"Aku ... baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku. Tapi, kita ada di mana?"
"Ada di taman dekat rumah Gisella. Eeh, apa kamu nyaman dengan gaun itu?"
"Lumayan, apa penampilanku aku sangat buruk? Aku melihat mereka sangat ketakutan seperti melihat hantu."
"Menurutku tidak terlalu buruk. Hanya saja, riasanmu itu yang membuat mereka takut. Sebentar ...!"
Leon mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya. Tanpa canggung, dia menghapus sebagian make-up di wajah Amira.
Amira hanya diam saja. Merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Apalagi wajah Leon sangat dekat dengan wajahnya.
Leon tersenyum. Detak jantung Amira terdengar sangat jelas.
"Nah! Kalau seperti ini. tidak akan ada yang melihatmu dengan ketakutan. Mereka pasti akan menyukaimu, seperti aku!"
"Leon ...."
Amira menatap Leon lekat. Mencari tahu apakah perkataannya hanya gurauan atau serius. Yang jelas, Pangeran Vampir di hadapannya sudah membuat Amira jatuh cinta.
***
__ADS_1
Bersambung