
***
Pak Gun melewati terowongan dengan terhuyung. Beberapa kali bersandar di dinding karena terlalu lemas. Baju yang mengikat lukanya sudah berganti menjadi warna merah karena darah.
Bungkusan berisi uang masih dipeluknya erat-erat. Pak Gun tak peduli nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Uang sudah membutakan matanya sejak lama. Di saat uang itu di hadapan, nyawanya tak berarti lagi.
"Jadilah kaki tanganku!"
Ucapan Tuan Cristian ketika pertama kali bertemu dengannya, kembali terngiang. Sosok asing itu hampir menghisap darahnya. Pak Gun memohon agar dibiarkan hidup.
"Apa yang harus saya lakukan untuk Tuan?"
"Carikan aku darah mengganti setiap bulan bulat penuh. Aku tak mau tahu bagaimana caranya. Usahakan tidak seorang pun yang mengetahui apa yang kamu lakukan!"
Ada sebabnya mengapa Cristian tidak langsung mencari mangsanya sendiri. Dia tidak ingin Alex mengetahui kalau dia sudah kembali.
Pak Gun memenuhi janjinya. Korban pertama adalah pegawai perpustakaan yang selalu pulang malam. Sebenarnya, Pak Gun tidak tega melakukan perbuatan terkutuk itu. Namun, janjinya pada Tuan Cristian tidak bisa diingkari.
"Ayo, Mbak! Saya antarkan sampai gerbang. Di sekitar sini agak remang-remang kalau malam. Saya takut terjadi hal buruk sama Mbak!" ujar Pak Gun ketika Mbak Rani akan pulang.
"Opo ndak merepotkan Mas Gun?" tanya Mbak Rani dengan logat jawanya.
"Ndak kok, Mbak. Memang sudah tugas saya!"
Mereka berjalan beriringan melewati jalan yang sedikit gelap.
"Opo Mas Gun ndak kangen bojone, Mas? Ndak enak looh, makan dan tidur sendirian," tanya Mbak Rani yang sedikit kepo. Sikapnya agak centil karena menjanda sudah beberapa tahun.
"Yo kangen tho, Mba. Tapi, karena banyak urusan makanya saya di sini dan keluarga di kampung," jawab Pak Gun berusaha menutupi kegelisahannya. Dia sudah menyimpan kain berisi obat bius di dalam kantong.
"Saya juga sudah lama sendiri, Mas. Kalau tidur suka kedinginan. Pengin ada yang meluk!" ujar Mbak Rani sedikit menggoda.
__ADS_1
Pak Gun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia berjalan lebih dekat lagi bahkan sampai menyentuh tubuh Mbak Rani.
Perempuan yang sedang bergairah itu kesenangan. Namun, wajahnya berubah ketika Pak Gun membekapnya. Mbak Rani sedikit meronta sampai akhirnya tak sadarkan diri.
Pak Gun membawa Mbak Rani ke terowongan di belakang gedung. Hanya Pak Gun yang tahu tempat itu. Tuan Cristian yang memberitahukannya karena sudah ada sejak jaman Belanda.
Ternyata, di ujung terowongan banyak ruangan yang cukup besar. Sedikit demi sedikit, Pak Gun membersihkannya hingga bisa digunakan lagi.
Pak Gun masih sangat ingat ekspresi Mbak Rani ketika Tuan Cristian menghisap darahnya sampai habis. Dia menatap tajam Pak Gun seakan meminta pertanggung jawaban padanya.
Saat itu, hampir sebulan Pak Gun bersembunyi di kampungnya. Setiap malam, tatapan mata Mbak Rani selalu terbayang. Membuat Pak Gun tidak bisa tidur. Dia akan keliling desa dengan alasan sedang berjaga. Kemudian menjelang pagi, Pak Gun akan tertidur di mana saja, bahkan di pematang sawah atau di pinggir hutan.
Laki-laki setengah tua itu hampir gila. Namun, pada akhirnya dia kembali. Tangis anak dan istrinya yang membuatnya sadar. Uang lebih utama dan menghapus rasa bersalah di hatinya.
Korban kedua dan ketiga, juga dengan tatapan mata yang sama. Pak Gun tak peduli lagi. Apalagi Tuan Cristian memberikan uang sebagai bayarannya.
Berapa pun uang yang didapat tidak pernah cukup. Pak Gun menjadi serakah, membiarkan dirinya menjadi Budak Vampir.
Tiba-tiba, dua bayangan muncul. Mereka adalah perempuan vampir, kaki tangan Cristian.
"Jangan sia-siakan darah manusia itu. Ayo kita nikmati!" ujar seorang dari mereka.
"Ya, kita perlu tenaga untuk sampai pelabuhan dalam waktu cepat. Mereka sudah menunggu. Tuan Cristian sudah mati! Untuk apa lagi kita di sini."
Sekilas, Pak Gun mendengar pembicaraan mereka. Tuan Cristian akhirnya mati juga. Dia bersyukur tidak lagi mencari korban untuk dipersembahkan. Tapi, Pak Gun sadar. Kematiannya juga sudah di depan mata.
Sedetik kemudian, kedua perempuan asing itu berubah menjadi vampir. Bau anyir darah yang keluar dari tangan Pak Gun seperti menghipnotis. Setetes saja sudah membuat mereka bergairah, apalagi seluruh darah yang ada di tubuh laki-laki tua itu.
Farhan dan beberapa polisi akhirnya sampai juga di terowongan. Tapi semua sudah terlambat. Pak Gun sudah tergeletak tak bernyawa.
"Bagaimana keadaannya?" tanyanya setelah seseorang polisi memeriksa keadaan Pak Gun.
__ADS_1
"Sudah tidak ada denyut nadinya, Pak!" jawab polisi itu.
"Kami menemukan bungkusan ini di sampingnya, Pak. Sepertinya bungkusan ini berisi uang yang sangat banyak!" ujar polisi yang lain sambil menyodorkan sebuah bungkusan.
Sekilas, Farhan melihat uang yang sangat banyak. Tapi, sekarang bukan itu yang harus dipikirkan melainkan keselamatan Wijaya.
"Cepat hubungi ambulance. Saya akan masuk ke dalam terowongan itu!"
Farhan akan memasuki terowongan di depannya. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat dua orang keluar dari dalam terowongan. Dia adalah Wijaya dan Amira.
"Pak Wijaya! Apa yang sudah terjadi? Kenapa sampai luka separah itu?"
Farhan sangat terkejut melihat tubuh Wijaya yang penuh luka.
"Aku tidak apa-apa! Hhmm siapa laki-laki itu?" tanya Wijaya begitu melihat seorang laki-laki tergeletak di atas lantai.
"Pak Gun! Apa dia benar Pak Gun?" teriak Amira histeris.
"Pak Gunawan, apa sekuriti yang kita curigai?"
Amira mengangguk dan akan mendekatinya.
"Jangan mendekatinya, biar polisi yang akan mengurusnya. Sebaiknya aku mengantarmu pulang!"
"Tapi luka-lukamu?"
"Aku gak apa-apa, kok!"
Amira terpaksa mengikuti perkataan Wijaya. Sementara hatinya masih mengkhawatirkan sang kekasih. Bagaimana keadaan Leon? ....
***
__ADS_1
Hai gengs makasih ya sudah mampir, ikuti terus kisah selanjutnya ya .... ❤❤❤