
***
Leon mulai terdesak. Cristian memang bukan lawan setimpal untuknya. Apalagi dia adalah vampir hitam yang meminum darah manusia. Tapi, Leon tidak menyerah. Apalagi untuk melindungi kekasihnya.
Kemudian, Wijaya muncul dengan wujud manusia harimau. Tubuhnya masih bersinar dan kekuatan leluhur masih ada padanya.
"Pak Wijaya?"
Amira sangat terkejut dengan wujud Wijaya meski selintas pernah melihatnya.
"Kamu baik-baik saja, Amira?" tanya Wijaya serius.
Amira langsung mengangguk.
"Aku baik-baik saja.Tapi, Leon ...."
Wijaya melihat Leon sedang terdesak. Dia tidak tinggal diam dan langsung menyerang Cristian.
"Siapa kau?"
Cristian baru pertama kali melihat Wijaya dalam wujudnya sebagai manusia harimau.
Leon sendiri sudah tahu siapa Wijaya. Dia tidak terkejut lagi meski heran dengan wujud baru Wijaya yang bersinar terang.
"Aku adalah Manusia Harimau. Kami penjaga hutan dan pelindung makhluk. Kau tidak diterima di tanah ini karena sudah memangsa manusia!"
Cristian tertawa.
"Lalu, menurutmu seperti apa dia? Apa dia pantas kau tolong? Dia juga seorang vampir" tanya Cristian seraya membuang pandangannya ke arah Leon.
"Dia memang vampir, tapi aku tahu dia tidak akan memangsa manusia!"
"Persetan! Aku tak peduli. Kalian adalah musuhku. Jadi, aku harus melenyapkan kalian!"
Cristian langsung menyerang Wijaya dengan membabi buta. Dia tidak peduli pengikutnya sudah pergi menjauh.
__ADS_1
Kali ini, Wijaya bisa mengatasi serangan Cristian dengan mudah. Apalagi, Leon juga membantunya. Beberapa saat kemudian, Cristian yang mulai terdesak.
Serangan terakhir Wijaya melumpuhkan Cristian. Dia terjatuh di atas lantai dengan penuh luka.
"Apakah dia sudah mati?"
Amira masih khawatir jika Cristian bisa bangkit lagi.
"Aku rasa dia tidak akan bangun lagi!" jawab Wijaya setelah memeriksa keadaan Cristian.
Leon tidak akan memberitahukan Amira kalau vampir tidak bisa mati. Sebagai vampir, Cristian bisa bangkit kapan saja.
"Kau tidak apa-apa, Sayang?"
Leon menatap Amira lembut dan memeluknya.
"Aku baik-baik saja!"
Amira menyambut pelukan Leon. Membuat kekasihnya itu menjadi tenang.
Wijaya duduk di pojok ruangan dalam posisi bertapa seperti semula.
"Terima kasih, Kek! Terima kasih para leluhur!"
Perlahan, sinar di tubuh Wijaya meredup kemudian hilang. Wujudnya juga sudah kembali menjadi manusia biasa.
"Terima kasih, Pak Wijaya!" ucap Amira setelah melihat Wijaya kembali seperti semula.
"Terima kasih juga karena sudah menolong kami!"
Leon juga mengucapkan terima kasih kepada Wijaya.
"Aku memang harus bertanggung jawab atas semuanya. Aku yang membawa Amira ke dalam situasi yang membahayakan. Maafkan aku!"
"Baiklah! Sekarang pulanglah bersama Amira. Tolong antarkan dia sampai ke rumahnya!"
__ADS_1
"Tapi, Leon! Aku masih ingin bersamamu."
"Besok aku akan menemuimu. Sekarang pulanglah!"
"Tapi janji dulu kalau besok kamu akan datang padaku!"
"Iya, aku janji!" ujar Leon seraya mencium kening Amira.
Akhirnya, Amira mau pergi juga bersama Wijaya. Pertarungan maha dahyat itu juga berakhir.
Leon hanya memandang Amira yang pergi bersama orang lain. Dia tidak tahu kalau Cristian sudah menyembuhkan luka-lukanya. Dia sudah dalam posisi menyerang Leon dari belakang.
"Ayah!"
Leon tersadar Cristian menyerangnya dengan tiba-tiba. Tapi kehadiran ayahnya yang lebih diperhatikannya.
Tepat sebelum Cristian menyerang Leon, Alex melayangkan pedang ke arah leher Cristian. Seketika pedang itu memenggal leher sampai terpisah dari badannya. Seperti malaikat maut yang datang tanpa dicegah.
"Kenapa Ayah harus membunuhnya?!" tanya Leon setelah melihat tubuh dan kepala Cristian menjadi abu.
Leon tak menyangka ayahnya membunuh Cristian dengan tangannya sendiri. Padahal sudah ratusan tahun, ayahnya tidak pernah mengotori tangannya dengan darah.
"Seharusnya, aku melakukannya dari dulu. Sebelum kau datang, aku juga mempunyai kekasih manusia biasa. Namanya Mawar. Kemudian Cristian muncul dan menculiknya. Mawar memilih bunuh diri dari pada menjadi istri Cristian!" ungkap Alex lirih. Ada luka di dalam setiap ucapannya.
"Seharusnya aku membunuh Cristian, bukan menyuruhnya pergi. Nyatanya dia kembali dan memangsa manusia lagi, kemudian melakukan hal yang sama padamu. Saatnya aku menghentikan perbuatan jahatnya!"
Leon tidak bisa berkata-kata. Bisa saja ayahnya membangkitkan kekasihnya dan menjadi vampir. Tapi hal itu tidak dilakukannya.
"Aku ingin Mawar tenang di alam lain. Yang aku sesalkan adalah ... akulah yang menyebabkan kematiannya. Karena aku mencintainya!"
Leon tertegun. Apakah mencintai bisa membunuh seseorang yang dicintai? Bagaimana dengan dirinya yang mencintai Amira?
***
Hai gengs makasih ya sudah mampir, ikuti terus kisah selanjutnya ya .... ❤❤❤
__ADS_1