
***
Para vampir putih muncul dan melihat apa yang dilakukan Alex. Mereka sangat terkejut karena sebelumnya sangat mengagungkan Alex yang tidak pernah bertempur. Tapi, di depannya, Alex sudah membunuh seorang vampir.
"Siapa kalian?" tanya Leon dalam bahasa asing.
"Kami adalah vampir putih dari berbagai negeri. Kami ke sini karena ingin bertemu Alex. Seharusnya tidak seperti ini. Kami mengagumimu karena bertahan selama ratusan tahun tanpa meminum darah manusia. Kenyataannya, kau sudah membunuh!" ungkap salah satu vampir itu dalam bahasa yang sama dengan Leon.
"Aku bersedia dihukum!"
Alex pasrah. Dia sudah tahu apa yang akan diterima bila mengotori tangannya dengan darah.
Alex dengan paras tampan yang tak berubah selama ratusan tahun hanya bisa berlutut di atas lantai. Para vampir masih memandanginya dengan tajam. Mencoba mengerti dengan apa yang dilakukan Alex.
"Kau sudah melanggar perjanjian! Kau akan dihukum!" ujar salah satu dari mereka.
"Ayahku tidak bersalah! Dia hanya ingin menolongku."
Leon tidak tinggal diam. Karena ayahnya memang tidak bersalah.
"Alex harus tetap dihukum. Kedatangan kami bukan ingin bertempur tapi meluruskan segala masalah. Vampir hitam akan kembali ke negara mereka dan tidak akan mencampuri urusan kalian lagi!"
"Baiklah! Bila ayah harus dihukum, biarkan aku yang menggantikannya!"
Leon sangat yakin dengan apa yang akan dilakukannya.
"Apa yang terjadi padamu pernah terjadi juga pada ayahmu. Kalian sudah terpesona jerat cinta dengan manusia. Sebenarnya, apa yang kalian pikirkan?" tanya salah seorang vampir putih.
"Karena untuk menjadi manusia harus memiliki rasa cinta!" jawab Leon singkat. Kata-kata itu pernah dikatakan ayahnya.
"Menjadi manusia? Apa bisa vampir melakukannya? Kita semua ini sudah mati. Kalau pun hidup karena menjadi vampir. Apa kamu sadar? Jika menjadi manusia, kalian juga akan mati!" ungkap salah seorang dari vampir putih.
__ADS_1
"Aku ingin tahu, apa benar kau bisa merasakan cinta itu? Karena hati ikut mati setelah menjadi vampir," ujar seorang vampir wanita yang mulai ingin tahu.
"Aku merasakan cinta itu. Cinta seorang ayah. Makanya aku ada di sini untuk menyelamatkan anakku!"
Akhirnya Alex mengutarakan perasaannya.
"Cinta bukan hanya antara laki-laki dan perempuan tapi juga dari ayah kepada anaknya!" lanjut Alex.
"Ya! Yang dikatakan ayah benar. Kami sudah menjadi keluarga meski bukan satu darah. Kalau bukan karena ayah, aku sudah mati dari dulu. Bahkan ketika aku melakukan kesalahan, ayah selalu menolongku!" ungkap Casandra yang baru saja muncul. Dia juga siap menggantikan ayahnya bila mereka akan memberi hukuman.
"Tapi, mereka bukanlah darah dagingmu!"
"Ya, Leon dan Casandra memang bukan darah dagingku. Tapi aku sudah menganggapnya seperti putra dan putriku sendiri!" jawab Alex pasti.
"Apakah perasaan itu ada karena kau kehilangan anakmu sendiri?" tanya seorang vampir yang lebih tua.
Alex mendongak. Dia tidak mengerti dengan perkataan vampir itu.
"Apa maksudmu? Aku tidak mempunyai anak kandung!"
"Katakan apa maksudmu!"
Alex terpengaruh juga dengan perkataan vampir itu.
"Aku sangat heran mengapa kau tidak mengetahui rahasia itu. Baiklah! Aku pernah mendengar Cristian mengatakan sebelum istrimu bunuh diri. Dia sudah melahirkan seorang anak!"
"Apa? Tidak mungkin! Lalu di mana anakku?"
"Itu yang ingin aku tanyakan padanya. Tapi kau sudah membunuhnya!"
Alex tertegun. Dia mulai kebingungan. Dulu, Cristian membawa kabur Mawar hanya dalam waktu sebulan. Mana mungkin Mawar melahirkan dalam waktu secepat itu?
__ADS_1
Tak ada waktu yang tersisa. Para vampir membawa Alex ke peternakannya dan memberikan hukuman untuknya.
Sementara rahasia itu belum terungkap. Leon ingin tahu apakah benar ayahnya memiliki anak kandung dari manusia? Jika benar begitu, hubungannya dengan Amira bisa ke jenjang pernikahan.
***
"Ayolah, Amira. Kita harus keluar dari tempat ini!" ajak Wijaya setelah beberapa mereka menunggu.
"Sebentar lagi! Aku ingin bicara dengan Leon. Aku takut terjadi hal buruk padanya!"
"Leon akan baik-baik saja! Keluarganya sudah ada di sini!"
"Maksudmu? Ayah Leon juga ada di sini. Aku ingin bertemu dengannya!"
"Jangan, Amira!" cegah Wijaya sambil menarik tangan Amira.
"Mereka mempunyai masalah sendiri. Kita tidak bisa menemui mereka!"
"Tapi, aku hanya ingin melihat Ayah Leon. Aku tidak akan berbicara apa pun padanya."
Amira tetap bersikeras.
"Tidak! Kau adalah penyebab masalah itu. Untuk sementara, jangan temui Leon apalagi keluarganya!"
"Apa maksudmu? Mengapa aku yang jadi penyebabnya?"
Amira semakin penasaran.
"Nanti kau akan tahu sendiri! Biarkan mereka menyelesaikan masalah sendiri!"
Jawaban Wijaya masih belum memenuhi rasa ingin tahu Amira. Gadis itu malah semakin cemas.
__ADS_1
***
Hai gengs makasih ya sudah mampir, ikuti kisah selanjutnya ya, boleh rebahan sambil makan keripik kok hihi ❤❤❤