PACAR VAMPIRKU

PACAR VAMPIRKU
PART 41. PERTEMUAN TAK TERDUGA


__ADS_3

***


Amira merasakan kegalauannya sedikit menghilang karena ada teman-temannya terutama Andrian. Dia seperti Leon dengan versi berbeda yang bisa berada di dunia gelap dan dunia terang. Laki-laki yang sempurna. Tapi, sayang. Hati Amira seluruhnya hanya untuk Leon. Tak ada sedikit pun untuk siapa pun.


"Apa aku tidak punya kesempatan sedikit pun?"


Seketika lamunan Amira buyar.


"Hah? A-apa maksud Mas Andrian?"


Amira tidak mengerti Andrian selalu tahu apa yang sedang dipikirkannya. Apakah dia juga vampir seperti Leon?


"Aku sedikit mempelajari ilmu psikologi. Apa benar kau sedang memikirkan aku?"


"Ooh, iya. Maksudku Mas memang hebat. Bisa mempelajari ilmu sesulit itu!"


Amira berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Bagiku sangat mudah karena apa yang kau pikirkan sangat jelas terpampang di wajahmu. Aku melihatnya saat wajahmu terpantul di kaca!"


"Benarkah?"


Amira menoleh ke arah jendela bus. Dia melihat wajahnya terpantul di sana. Amira jadi malu sendiri karena baru menyadarinya.


"Jadi ..., apa ada kesempatan untukku?"


"Kesempatan apa, Mas?"


Andrian tertawa. Ternyata tidak mudah mengecoh Amira dengan ucapannya.

__ADS_1


"Maksudku, apa kamu sudah punya pacar? Kalau belum, aku mau jadi pacarmu!"


"A-apa? Jangan bercanda, Mas. Oh, kita sudah sampai. Ayo, turun!"


Amira langsung berdiri begitu bus berhenti.


"Eeiit! Kamu mau ke mana. Busnya berhenti di pom bensin. Bukan di tempat tujuan kita!" cegah Andrian.


"Aakh, masa sih, Mas?"


Amira menoleh keluar jendela bus dan mukanya menjadi merah menahan malu. Ternyata, yang dikatakan Andrian benar. Bus berhenti hanya untuk mengisi BBM.


Perjalanan berlanjut kembali. Tak lama, Amira tak bisa menahan kantuknya dan tanpa sadar terlelap.


Di dalam mimpi, Amira sedang berjalan di sebuah taman. Dari jauh dia melihat sosok Leon sedang menunggunya. Wajah tampannya bersinar diterpa sinar mentari. Amira keheranan karena Leon tidak merasakan sakit sedikit pun. Bahkan sebuah senyuman mengembang di sudut bibirnya. Amira langsung berlari ke arahnya dan memeluknya erat.


Tidak ada suara apa pun. Amira melepaskan pelukannya dan menatap Leon lekat. Betapa terkejutnya Amira setelah menyadari yang sedang dipeluknya bukanlah Leon tapi Andrian!


"Aduh!" gumam Amira ketika bus melewati jalanan berbatu sehingga membuat kepalanya terantuk jendela kaca.


"Makanya, kalau tidur jangan letakkan kepalamu di kaca. Kau bisa merebahkan kepalamu di bahuku pasti lebih nyaman!"


Amira merasa dirinya menciut menjadi liliput karena tak bisa menahan malu. Andrian memang tidak menertawakannya. Tapi, tatapan matanya yang mana tahan!


Bus mulai masuk ke dalam hutan yang sangat rimbun. Mentari tak lagi begitu menyengat. Jalan mulai sempit dan berliku seperti ular.


Tak lama, terlihat sebuah rumah batu yang tinggi seperti istana di negeri dongeng. Siapa yang menghuni rumah di tengah hutan seperti itu? Tak jauh dari rumah itu ada pondokan seperti kandang sapi dan sebelahnya ada kandang kambing.


"Mereka pasti bukan memakan daging hewan ternak itu tapi hanya memerlukan darahnya!" celetuk Andrian.

__ADS_1


"A-apa? Masa cuma mengambil darahnya saja?"


Amira menatap Andrian lekat. Kata-katanya mulai aneh.


Bus terus berjalan perlahan. Hutan itu seperti tidak ada jalan keluarnya. Hampir satu jam masuk ke sana tapi cahaya matahari tetap tidak kelihatan. Yang ada hanya kegelapan.


Tiba-tiba perhatian Amira tertuju kepada sebuah bayangan yang sedang berjalan menuju ke arah rumah besar yang tadi mereka lewati. Bayangan itu tinggi besar seperti postur tubuh Leon.


Amira hampir turun dari bus, mengira kalau bayangan itu benar-benar Leon. Namun setelah dekat, wajahnya terlihat lebih jelas. Dia ternyata bukanlah Leon.


"Aakh! Bodohnya aku. Mana mungkin Leon ada si hutan seperti ini!" ujar Amira seraya memukul jidatnya.


Amira melirik Andrian setelah menyadari perbuatan anehnya. Tapi, laki-laki itu juga sedang membuang pandangannya keluar jendela. Tatapannya tajam seakan melihat sesuatu yang sangat luar biasa.


Amira kembali melihat keluar jendela. Bayangan itu sudah tidak terlihat lagi. Tapi Andrian masih menatap keluar.


"Ada apa, Mas. Apa yang Mas lihat sampai seperti itu?"


"Tidak ada apa-apa! Hanya ingin melihat apa yang kamu lihat!"


"Ooh! Bayangan barusan itu. Mungkin dia penghuni rumah besar yang mirip seperti istana tadi."


"Dia pasti bukan manusia biasa karena hidup di tengah hutan seperti ini!"


Amira tertegun. Leon pasti sangat senang bila tinggal di tempat seperti ini. Dia bisa berjalan-jalan ke mana saja karena matahari tidak bisa menembus rimbunnya hutan. Andai begitu, Amira juga bersedia menemani Leon meski harus menjauh dari perkotaan.


***


Hai gengs, makasih ya sudah mampir. Met maksi dan jangan lupa ikuti terus kisah Amira dan Leon ya .... ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2